MAHASISWA KRITIS BUKAN KRITIK

 

Oleh : Muhammad Lutfi[1]

Mahasiswa adalah orang yang belajar di perguruan tinggi, Universitas dan semacamnya. Jelas, semua yang belajar di perguruan tinggi (kuliah) mereka sudah berlabel Mahasiswa. Namun, tak bisa sepenuhnya dikatakan mahasiswa atau sebenarnya mahasiswa. Karena mahasiswa memiliki peran dan fungsi. Entah disadari atau tidak, itulah yang akan terus melekat seiring dengan kehidupannya di raga mahasiswa.

 

Apa itu peran dan fungsi sebagai mahasiswa?

Peran mahasiswa yaitu ada 3. pertama, peran Moral yaitu seorang mahasiswa memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, dimana dunia kampus sangat berbeda dengan dengan dunia sekolah, dimana akan jauh dari orang tua, tak ada aturan ini itu yang membelenggu, sampai tak akan pernah tau kantong habis berapa tiap harinya. So, mau jadi apa dan harus bagaimana adalah hak sepenuhnya bagi seorang mahasiswa.

 

Kedua, peran sosial yaitu tanggung jawab terhadap masyarakat, tak jarang kita jumpai gelar sarjana yang hanya memperpanjang nama belaka (embel-embel) atau lulus tak jadi apa-apa (pengangguran), bahkan banyak sekali yang tak bisa menyelesaikan misi studynya sebagai mahasiswa,  dengan alasan dan tetek bengek yang bervariasi. Jangankan mau menciptakan lapangan pekerjaan, nasib dirinya sendiri saja entah mau dibawa kemana.

 

Ketiga, peran Intelektual yaitu tanggung jawab mahasiswa untuk mencerdaskan dirinya sendiri, berfikir kritis dan peka sosial. Perlu diingat, kampus, fakultas bahkan prodi, lebih-lebih hanya sekedar nilai yang terus menerus diperjuangkan tak bisa menentukan dan menjanjikan seorang mahasiswa akan menjadi orang yang sukses, pekerjaan yang nyaman dan hidup damai, aman dan sejahtera. Namun skill individu seorang mahasiswa yang akan menentukan sendiri dirinya menjadi siapa dan bagaimana, laku dimasyarakat, menciptakan lapangan pekerjaan dsb.

Sedikit penulis bernostalgia dengan perkataan seorang dosen sebagai narasumber ORDIK 2014 dan selalu menjadi hantu tanda tanya penulis dalam gelap terang, beliau berkata “seandainya, selama ilmu yang akan kalian dapatkan selama duduk di bangku kuliah ini persentase dengan angka 100%, maka Ilmu yang akan kalian dapatkan hanya 25% saja selama kalian duduk di bangku kuliah itu. Sisanya (75%) kalian cari sendiri.” ungkapnya yang membuat penulis gegana dan geleng-geleng kepala.

Secuil pertanyaannya…

  1. Akankah angka 25% kita dapatkan, disisi tidak akan ada kesempurnaan di dunia ini?
  2. Dari mana akan kita dapatkan sisanya yang sebanyak itu?
  3. Kenapa angkanya lebih besar yang dicari sendiri daripada yang didapatkan selama duduk manis digedung yang tegak itu?

 

Berfikir Kritis? Ya, berfikir kritis berakhiran S bukan K. Berpikir kritis adalah kemampuan untuk menganalisis fakta yang ada kemudian membuat beberapa gagasan dan mempertahankan gagasan tersebut kemudian membuat perbandingan. Dengan membuat beberapa perbandingan kita bisa menarik kesimpulan dan membuat sebuah solusi atas masalah yang ada. (pengertian berpikir kritis menurut Chance : 1986)

Berfikir kritis dalam hal ini mahasiswa harus peka membaca realitas sosial, tak lagi sami’na wa atho’na namun sami’na wa analisa, tak lagi menunggu namun harus menjemput. Kritis tapi bukan perspektif, bukan sekedar apa yang dilihat tetapi bisa diterima oleh akal sehat, bukan sekedar menghujat tanpa ada data dan fakta yang jelas, tidak menjustis sebelum menganalisis dan tidak sekedar meng-KritiK sebelum KritiS.

Nilai-nilai kritis haruslah di bangun dalam realiatas sosial dan menemukan solusi dalam suatu permasalahan. Lalu bagaimana mahasiswa untuk menjadi kritis?

Allah pertama kali memerintahkan kita dalam Al-qur’an surah al-alaq ayat 1, ; اقرا (bacalah). Secara tekstual kita diperintahkan untuk banyak membaca. Tentu, semakin banyak membaca maka cakrawala pengetahuan baru akan di dapatkan secara dinamis.

 

Begitu juga dengan Fungsi mahasiswa juga ada tiga, yang lebih populer disebut three fungsi mahasiswa. Pertama, agent of change (pembawa perubahan) yaitu mahasiswa mampu memberikan suatu perubahan dalam realitas sosial yang pasif menuju progresif, namun tidaklah gampang mengubah suatu tatanan sosial dan membutuhkan waktu yang tak sekejab. Minimal mahasiswa mampu membuat perubahan terhadap dirinya sendiri untuk lebih baik.

 

Kedua, agent of control yang artinya mahasiswa menjadi kontrol masyarakat, menjaga tatanan sosial sepertiJargon Nahdlatul ulama (NU):

المحافظة على القدم الصالح، والاخذ بالجديد اصلح.

Mengadopsi hal-hal lama yang masih relevan (baik) dan mengganti dengan hal baru yang lebih baik.

 

Yang terahir fungsi mahasiswa yaitu agent of analisis, sama halnya dengan yang diatas, mahasiswa tidak lagi sami’na wa atho’na dalam hal apapun, baik perkataan, tindakan dan semacamnya. Akan tetapi mengkaji (analisa) terlebih dahulu kebenarannya seperti apa dan tidak hanya melihat dari satu sudut pandang saja, melainkan penoropong dari segala sisi yang berbeda.

 

Sebegitu beratkah menjadi MAHASISWA?

Mari introspeksi dan perbaiki kualitas diri.

 

 

[1] Muhammad Lutfi Merupakan Salah satu Pengurus PMII Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Komisariat IAIN Jember. Prodi MPI Semester VII . Saat ini sahabatMuhammad Lutfi Menjabat Ketua Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Priode 2017/2018.

Satu tanggapan untuk “MAHASISWA KRITIS BUKAN KRITIK

  • November 2, 2017 pada 2:49 am
    Permalink

    354575 777359thaibaccarat dot com could be the greatest internet site to study casino games : like baccarat, poker, blackjack and roulette casino 844012

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: