PENA? GURUKU, GURUMU, GURU KITA

 

Oleh : Rofiq Alhariri[1]

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar, melihat bahkan menggunakan pena karena hampir setengah dari aktivitas kita sebagai mahasiswa dihabiskan untuk menulis dengan pena, dalam dunia berbasis intelektual dan akademis pena banyak digunakan untuk keperluan mereka tak lain untuk menuangakan ide2 kreatif  berbasis pengetahuan pada secarik kertas , huruf demi huruf kata demi kata mereka rangkai menjadi kalimat, paragraf hingga bertumpukan menjadi sebuah buku ataupun karya. bukan hanya seorang mahasiswa saja yang menggunakan pena

orang awam pun juga menggunakan karena pena sebagai indikasi keperluan mereka,presiden, menteri, gubernur sampai tingkat bawahanya juga menggunakan pena anak yang berusia 5 tahun pun menggunakan pena untuk berlatih dan belajar sebagai langkah awal berproses demi sebuah ilmu pengetahuan

Pada tahun 1800 -an lalu pena ini melahirkan beribu- ribu karya pemikiran kaum2 idealis, sempat pena ini menarik perhatian dunia karena pena ini terkenal hebat, bahkan sampai  mengkritik dunia, memberikan perubahan pada dunia karena pena ini berisi benih benih ilmu pengetahuan yang pada saat itu tak lain adalah hasil imajinasi dan perenungan pemikiran tokoh2 dunia yang hebat sebut saja tan malak, wiji tukul, harun nasution karl max dan tokoh2 dunia lainnya, bahkan dikalangan mahasiswa pun pena menarik perhatian mereka

Sehingga tidak mau tidak mahasiwa tertarik untuk terus menggunakannya.mahasiswa pun kecanduan untuk menggunakan  karena mereka berasumsi seolah-olah pena adalah teman penghibur disaat bosan, kesal bahkan disaat galau, ketika pena ini  dituangkan pada secercah kertas hingga menjadi tumpukan menjadi buku maka pena ini akan menjadi guru kita, kita kenal dengan  seorang guru yang bisu, tuli , bahkan buta tapi ketika saya, kamu, dan kalian mentaati segala instruksinya maka tak lain kita akan menjadi insan yang gemilang dan cerdas.

Dunia ini seaolah olah gelap gulita tak terlihat kilauan cahaya  bintang2 yang kelap- kelip di hamparan langit tak seperti dulu lagi dunia ini tak ada bintang2 yang mampu menerangi gelapnya malam, khususnya pemuda pemudi sekarang mereka hanya disibukkan dengan kesibukan masing2,mereka tak memikirkan dunia ini kedepannya bagaimana mereka sekarang sedang tertidur lelap, siapakah nantinya yang akan menjadi bintang2 untuk menerangi dunia yang amat gelap gulita ini? Kalau bukan kalian pemuda-pemudi!!!

Sebagai mahasiswa kita harus senantiasa meningkatkan ketajaman intelektual dengan terus mengasah otak kita baik dengan membaca, diskusi, ataupun menulis sebab dengan kunci membaca cakrawala pengetahuan kita semakin luas, budayakanlah membaca sebab dengan membaca kita akan dikenal dunia, dengan menulis kita akan dikenang oleh dunia.

 

[1] Rofiq Alhariri Merupakan Salah satu Kader PMII Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dari korp MAHABBAH (2016). Prodi PBI . Saat ini sahabat Rofiq bergelut diranah Keilmuan (Intelektual Muda)

40 tanggapan untuk “PENA? GURUKU, GURUMU, GURU KITA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: