METRA POST, RIWAYATMU KINI*

Oleh : Maulana Alfatih[1]

Kata orang, jika ingin mengenal dunia maka membacalah. Dan jika ingin dikenal dunia maka menulislah. Salah satu penyair ternama kebangsaan Prancis juga menegaskan, Writing is an act delaying death (Menulis adalah aksi manusia untuk menunda kematian).

Begitu istimewanya sebuah tulisan, hingga Douglas MacaArthur, seorang Panglima Jenderal Amerika yang menghabiskan 52 tahun berkarir di Dunia Militer. Saat menjelang purna dari tugasnya, di hadapan Presiden Amerika ke-35 John F Kennedy Ia berucap, sebuah tulisan lebih aku takuti dari pada sekedar melawan 1000 pasukan bersenjata lengkap.

Ukuran kemajuan sebuah peradaban memang tidak bisa diukur dari kemajuan budaya literasi yang unggul, namun sebuah tulisan bukan berarti tak memiliki pengaruh. Disadari atau tidak, disuka atau tidak, tulisan masih dianggap memiliki kekuatan magis yang muncul di luar kedigdayaan manusia.

Setiap orang bisa menulis, namun tak semuanya menjadi seorang penulis. Karena penulis bukan sekedar kemampuan yang bawaan, pashion atau kemampuan yang dilandasi karena hobi. Sederhananya, tulisan bisa disebut akumulasi pergulatan rasa, inderawi, ide dan nurani.

Dewasa ini, budaya tulis menulis kaum milenial cukup ampuh menjadi delik. Bukan karena kualitas tulisannya, bisa jadi karena produktifitasnya. Padahal apa yang kurang?, teknologi sudah mumpuni, ruang aktualisasi sudah sedemikian terbuka lebar, dan informasi sudah sembruk tak terbendung lagi.

Tentu menjadi ironi, situasi dan kondisi yang sudah menjanjikan, justru semakin nalar dan kreatifitas semakin kerdil. Terlebih kaum akademisi, mereka yang digadang-gadang menjadi bagian dari intelektual organic karena menyandang gelar ke-2 setelah Tuhan yang Maha Esa, yakni Mahasiswa. Rasanya, penyematan predikat itu perlu ditinjau ulang.

Akademisi yang berkecimpung dalam organisasi pun bernasib tak jauh berbeda. Entah disibukkan dengan tugas akademisi, atau memang disibukkan dengan kegiatan organisasinya yang super padat.

Organisasi kemahasiswaan yang berusia setengah abad lebih pun, hari ini wacana dan gagasan mereka masih lebih menarik dituangkan dengan secangkir kopi dan WiFi. Memang terasa nikmat, saat kopi usai diseruput, maka hanya menyisakan ampas yang tak bermakna dan tiada guna. Saat itulah, wacana dan gagasan itu bernasib sama.

Untungnya mereka menyadari. Lantas membentuk wadah ataupun badan otonom yang menjadi mitra organisasi mereka untuk menjaga ide dan gagasan tidak basi dan lenyap. Dengan upaya itu, mereka berharap marwah kelembagaan semakin eksis dan potensi kader-kader bisa terperdayakan.

Namun harapan seolah hanya menjadi harapan, niat sudah bagus, tujuan sudah terbentuk, namun komitmen dan konsistensi sangat redup. Akhirnya wadah yang terbentuk dengan tujuan cukup mulia itu benar-benar redup dan mulai usang termakan usia.

Miris. Sebuah organisasi yang cukup tenar dan superior di dunia kampus, namun ternyata ompong. Tampak besar dan wah dari luar, namun di dalamnya tak ubahnya mesin pencetak calon kader-kader berlabel Mutakid, Mujahid, dan Mujtahid.

Namun, dari pada sekedar mencari oknum untuk dijadikan kambing hitam atas kecelakaan sejarah itu, bukankah lebih mulia jika ikhtiar mereka cukup didoakan sesuai keyakinan masing-masing. Semoga khusnul khotimah.

Memang setiap generasi akan melahirkan aktor-aktor unggulan yang memiliki khas dan karakteristik tersendiri. Menjadi besar saja tak cukup, apalagi hanya berkutat di kandang sendiri. Setidaknya kondisi tersebut sedikit menguntungkan, karena tak akan terekam dalam goresan tinta. Mungkin hanya menjadi cerita yang dibumbui intrik-intrik untuk menarik anggota baru lagi.

Akhirnya, dari generasi ke generasi, hanya memunculkan aktor-aktor politis. Rekam jejak kian terkikis dan sejarah dari tahun ke tahun semakin tenggelam. Superioritas suatu generasi hanya dikisahkan melalui kopi dan wifi yang kembali bernasib tragis.

Benar ucapan Bung Karno, jika kata-kata saja tak cukup mencerahkan jiwa yang keblinger, apa boleh dikata, biarkan senjata yang berbicara. Jika, Bung Karno masih ada, seolah ingin melempar pertanyaan balik. Kira-kira, senjata apa yang akan Bung Karno gunakan untuk mencerahkan jiwa pemuda yang ia harapankan mampu mengguncang dunia itu.


[1] Maulana al-Fatih merupakan kader PMII Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Komisariat IAIN Jember angkatan 2013. Demisioner Ketua Bidang Keilmuan Masa Khidmat 2016/2017, Mbindra Rayon dan saat ini berkecipung didunia jurnalistik sebagai wartawan Radar Jember.

“Tulisan tersebut sengaja dipublis atas permintaan beliaw, sebagai bentuk kritik atas eksistensi Metra Post yang kian hari semakin laa yamutu walaa yahya. Semoga benar-benar bisa mencerahkan jiwa-jiwa yang keblinger.

%d blogger menyukai ini: