Aku Ingin Balon, Ayah

Bintang. 11 Tahun.

            Badan mungil itu tersungkur ke tanah. Halaman sekolah yang sangat ramai tak memperdulikan badan mungil yang tersungkur itu. Kacamata yang melingkar di matanya terjatuh entah kemana. Di tempat yang tak jauh dari, sekitar empat siswi entah sedang bermain apa.

“Aya kalah. Aya kalah. Aya kalah. Sana bantuin si cacat sana, kasian tuh kacamata di depannya aja dia nggak tahu.” Gadis bermata sipit mendorong-dorong tubuh temannya.

Nggak adil. Aku kan nggak kalah. Kalian curang.” Gadis yang bernama Aya menjawab.

“Curang apanya? Sana bantuin saja, sebelum kacamatanya rusak diinjak anak-anak.” Kini perempuan berambut keriting angkat suara.

            Dengan berat hati Aya mendekati gadis itu Gadis itu menangis sesenggukan. Tangan kanannya ia gunakan untuk mengusap air matanya. Aya mengambil kacamata itu lalu melemparnya. Gadis itu segera memakai kacamatanya dan mendongak menatap Aya dengan senyum yang mengembang.

“Terima kasih, Aya.”

            Aya berlalu begitu saja. Di belakangnya ketiga temannya menertawakan Aya. Aya menghentakkan kakinya kesal sambil berlalu meninggalkan ketiga temannya.

            Bintang berdiri lalu membersihkan roknya yang kotor. Ia bersyukur karena kacamatanya tidak rusak. Bersyukur ada yang mau membantunya. Bel berbunyi, Bintang berjalan menuju kelasnya.

***

“Ayah……” Bintang memeluk Ayahnya ketika sudah sampai di depan gerbang sekolah. Ayahnya setiap hari yang mengantar dan menjemput Bintang sekolah. Bintang piatu. Sejak ia lahir ke dunia, ia tak pernah melihat wajah Ibu yang telah melahirkannya. Setiap malam, saat ia tidur, ia selalu memeluk foto almarhumah Ibunya. Berharap setiap tidurnya ia memimpikan Sang Ibu.

“Ayah hari ini kita makan apa?” Tanya Bintang usai ia duduk motor Ayahnya.

“Bintang mau makan apa?”

Bintang berfikir sejenak. “Masakan Ayah.”

“Siap Anak Cantiknya Ayah. Nanti Ayah masak makanan kesukaan Bintang.”

            Sesampainya di rumah, Bintang bergegas berlari ke kamar lalu berganti pakaian. Sedangkah Sang Ayah pergi ke dapur. Beberapa menit kemudian Sang Ayah datang sambil membawa makanan kesukaan Bintang.

“Bintang…Bintang….”

“Ayah sudah selesai masak, ayok makan.”

            Bintang keluar dari kamar dengan menggunakan seragam sekolahnya. Sang Ayah lupa akan sesuatu. Bintang terlahir dengan kondisi fisik yang tidak sempurna dan tanpa Ibu. Ibunya meninggal saat melahirkan Bintang. Usai membantu Bintang berganti pakaian, mereka makan bersama di meja makan dengan hidangan yang sederhana.

“Setelah makan, Bintang tidur ya? Ayah mau berangkat kerja. Ingat, jam lima sore Bintang harus bangun lalu  mandi. Bintang sudah bisa mandi sendiri kan?”

“Iya, Ayah.” Bintang beranjak dari duduknya lalu bergegas pergi ke kamar.

            Usai Ayahnya mencuci piring, ia bergegas mengambil kunci motor lalu pergi ke bengkel tempatnya bekerja. Mulai pukul satu siang hingga lima sore dia bekerja. Ia selalu memberikan waktu tidur untuk Bintang yang lama tanpa disertai waktu untuk bermain. Bukannya Ia tidak sayang kepada Bintang, ia hanya tidak mau Bintang sakit hati karena tidak ada yang mau bermain dengan gadis cacat seperti dirinya.

            Ia tahu hal ini jelas akan membuat anaknya tidak mempunyai teman, ini bukan hal yang pertama. Sering Ayahnya mengantarkan Bintang ke rumah teman-temannya namun tak ada yang mau menerima kedatangannya. Banyak alasan yang dilontarkan teman-temannya untuk tidak bermain bersama Bintang. Akhirnya, Sang Ayahlah yang menjadi teman bermainnya.

***

            Bintang terbangun satu jam lebih dahulu daripada biasanya. Setiap tidur ia selalu memeluk foto almarhumah Ibunya. Ibunya yang sama sekali tak pernah ia lihat sejak lahir ke dunia ini. Ia selalu iri dengan teman-temannya yang setiap hari diantar oleh Ibunya. Ia juga ingin merasakan bagaimana hangatnya pelukan Sang Ibu setiap anaknya akan berangkat sekolah. Ia ingin memiliki sosok seorang Ibu, tetapi kesadaran membawanya pada realita bahwa itu adalah hal yang sangat mustahil.

            Bintang beranjak dari tempat tidur. Ia duduk di kursi kayu yang ada di depan rumahnya. Sore hari seperti ini, anak yang seumuran Bintang akan bermain di halaman depan rumahnya. Tetapi tidak seperti biasanya, halaman rumahnya sepi.

“Potong kuenya, potong kuenya, potong kuenya sekarang juga….”

            Lagu itu mengusik telinga Bintang. Bintang menoleh ke kanan dan tidak jauh dari rumahnya, Lili, teman sekelas Bintang sedang mengadakan pesta ulang tahun. Lili jelas tidak akan mengundang Bintang. Mana ada yang mau berteman dengan gadis cacat seperti dirinya?

            Mata Bintang teralihkan ke sebuah benda yang dibawa adik Lili. Adik Lili berumur 1 tahun, ia digendong Ibunya sambil membawa sebuah balon. Hati Bintang semakin sedih melihat kejadian itu. Sejak kecil, Ayahnya tidak pernah memberikannya balon. Bintang ingin sekali rasanya bisa memegang balon berwarna-warni tersebut. Bintang teringat akan sesuatu, ia melihat jam dinding dan bergegas pergi ke kamar. Ia harus pura-pura tidur agar tidak membuat Ayahnya sedih.

            Saat jarum jam sudah menunjukkan pukul lima. Ayahnya tiba lalu berjalan menuju kamar Bintang. Bintang pura-pura menggeliat saat dibangunkan. Ayahnya meletakkan foto yang dipeluk Bintang di meja kecil samping kasur Bintang.

“Ayo anak Ayah yang cantik bangun. Mandi terus makan malam.”

            Bintang bangun dari tidurnya lalu mengangguk.

***

“Ayah….Besok kan hari Minggu. Bintang mau jalan-jalan ke taman.” Ucap Bintang di tengah-tengah makan malam mereka. Malam ini Ayah dan anak tersebut makan di depan rumah sambil melihat bintang di malam hari.

“Siap. Tapi ada syaratnya, Bintang besok harus bangun pagi ya.”

            Bintang menjawab dengan mengangkat tangan layaknya memberi hormat kepada komandan.

***

            Bintang berlari menghindari Ayahnya. Mereka bermain kejar-kejaran di taman. Hari ini Bintang tidak membeli gulali. Ia ingin membeli balon. Ia sudah tahu harus melakukan apa dengan balon tersebut.

“Ayah, Bintang capek.” Bintang duduk di rumput taman. Sore itu taman tampak ramai dipenuhi orang berjualan dan anak-anak.

“Bintang ingin beli balon?”

            Bintang menoleh dan mengangguk dengan tatapan penuh binar. Ayahnya memanggil penjual balon yang berada di samping dagang bakso. Penjual balon itu datang dan memberikan Bintang satu buah balon berwarna merah muda. Bintang tidak langsung menerimanya.

“Ayah, Ibu suka warna apa?” Tanya Bintang.

Ayahnya diam sejenak lalu kemudian menjawab,” Ibu suka warna putih. Sama seperti warna kesukaan Bintang.”

“Balon yang putih satu, Pak.” Ucap Bintang kepada si penjual balon.

            Setelah membeli balon, Bintang segera mengeluarkan kertas dan pena dari dalam saku celananya. Ia akan mengirimkan surat untuk Ibunya.

“Ayah, Bintang mau mengirim surat ini pada Tuhan. Agar Tuhan menyampaikan salam kita sama Ibu. Bintang rindu Ibu, Ayah. Walaupun Bintang sama sekali tidak pernah melihat bagaimana wajah Ibu.”

            Ayahnya hanya tersenyum melihat anak semata wayangnya. Ia selalu berdoa agar kelak saat dewasa Bintang menjadi anak yang sangat membanggakan untuk orang tua dan orang lain.

“Tuhan. Sampaikan rindu ini kepada Ibu.” Bintang menerbangkan balon tersebut dan membiarkan balon itu bergerak mengikuti arah angin.

“Setiap Minggu Bintang ingin seperti ini, Ayah. Ayah tidak marah kan?”

“Tentu saja tidak Bintang. Setiap Minggu kita akan mengirimkan surat untuk Ibu.”

Dari Bintang Untuk Ibu

Bintang tidak pandai berkata-kata Ibu

Bintang tidak pandai menulis

Tetapi Bintang ingin Ibu tahu, bahwa Bintang selalu rindu Ibu

Datanglah ke mimpi Bintang setiap Bintang tidur Ibu

Bintang ingin tahu wajah Ibu

Jangan lupa juga datang ke mimpi Ayah

Ayah pasti sangat rindu Ibu

Karya ini ditulis oleh Kader Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Sahabati Gita Welastiningtias Prodi Pendidikan Bahasa Arab Kelas B3 IAIN Jember.

%d blogger menyukai ini: