MERASAKAN DUNIA KARTINI

Ketika seseorang tak sanggup menopang punggungya yang terasa berat. Tulang belakangnya tertarik kencang hingga tulang ekor. Selururuh tubuhnya tertahan tak mampu untuk digerakkan. Jari-jari kurusnya bergetar. Raut mukanya nampak serius. Wajahnya dipenuhi tetesan keringat yang mengalir. Tanpa sadar ia bergerak tanpa kuasa dari dirinya sendiri.

Apakah itu cerminan Kartini? Apakah perempuan (masa) kini menilai Kartini adalah sebuah pemberontakan?
Benar, Kartini adalah simbol pemberontakan. Tapi ia memberontak untuk berfikir, atas ketidakmampuan yang selama ini orang pikir. Sebab ia ingin lepas dari citra perempuan yang harus menggunakan estetika bersikap layaknya “empu” yang harus di hormati bagaimana pun keadaannya. Ia ingin lepas dari jeratan itu.

Apakah keistimewaan dari sosok Kartini?

Padahal Ia merupakan anak dari seorang bangsawan jawa yang pada waktu itu merupakan Bupati salah satu kota Jepara. Sungguh merupakan anugerah memiliki keluarga yang mampu pada saat itu. Meskipun begitu, ia selalu bersikap sederhana dan tak segan bersosialisasi dengan masyarakat dari berbagai latar belakang. Ayahnya sempat mengenyam pendidikan di sekolah Asing terkemuka, sehingga langkah Kartini mendapat dukungan pada waktu itu untuk berada di jalan yang sama. Apakah hal tersebut menjadi penyebab kelihaiannya dalam dunia pendidikan? Tidak, masih ada sebagian figur selain Ayah beliau yang berjasa di balik sosoknya.

Perjuangan Kartini bukan terletak pada bagaimana ia harus berpendidikan menghidupi dan memberdayakan dirinya sendiri. Kartini diperbolehkannya mengenyam sekolah oleh ayahnya sampai berusia dua belas tahun. Bahkan ayahnya memperbolehkan ia menjadi seorang guru. Namun, apa yang terjadi pasca kisah itu?

Berdasarkan adat kebiasaan Jawa pada zaman itu yang mengharuskan seorang anak perempuan harus dipingit, membuat Kartini harus tinggal di rumah dan keinginan melanjutkan proses studinya ke batavia atau belanda ditentang oleh ayah beliau sendiri. Lagi-lagi kegigihan kartini dalam memperjuangkan pendidikannya mengharuskan sang ayah untuk tunduk dan patuh pada adat yang berlaku. Lebih-lebih ayahnya merupakan orang yang terpandang dan merupakan beban besar jika tidak mematuhi hukum adat yang berlaku kala itu.

Selama pingitan berlangsung, demi memuaskan rasa dahaganya akan ilmu pengetahuan dan perkembangan zaman, ia melalaluinya dengan banyak membaca. banyak sekali buku yang ia baca sehingga ia mendapatkan banyak ilmu. Dari hobi membacanya tersebut Kartini memiliki pengetahuan yang luas tentang ilmu pengetahuan dan juga kebudayaan. Beliau memberikan perhatian khusus kepada masalah yang berkaitan dengan emansipasi wanita yang di latarbelakangi apa yang terjadi terhadap dirinya sendiri. Dengan berdasarkan hasil pengamatan beliau dari buku-buku dan majalah yang ia baca yang membandingkan kehidupan antara wanita pribumi dan wanita Eropa yang maju dalam segala hal.

Kartini juga banyak menaruh perhatian pada permasalahan sosial yang terjadi di sekitarnya. Ia berfikir, perempuan harus mendapatkan kebebasan, otonom dan kesetaraan hukum. Khususnya perhatian tersebut terfokus kepada wanita Jawa yang harus terikat dengan adat kebudayaan. Hal itu menurutnya menghambat perempuan untuk maju. Seperti adat Jawa yang kala itu mewajibkan setiap gadis yang sudah berusia 15 tahun harus dipingit. Hal ini membuat para wanita Jawa tidak bebas dalam menuntut ilmu.

Bagaimana ia berpikir tentang kebebasan dan otonominya? Ia melakukan berbagai macam upaya agar perempuan-perempuan yang ia lihat tidak setara dalam hal penerimaan pendidikan, tidak setara dalam hal kungkungan adat yang terjadi di sekitarnya, ia membuka sekolah wanita agar membuka cakrawala berfikir orang-orang yang terkungkung oleh pemikiran wanita tidak harus berpendidikan tinggi.

Lalu bagaimana kartini membersamai adat jawa dan pemikirannya tentang emansipasi wanita? Perlu diketahui bersama bahwasanya kartini memberikan kata “emansipasi wanita” tidak untuk wanita harus melawan berbagai hal yang dirasa bertentangan dengan hukum wanita, emansipasi wanita ini ia artikan sebagai pemenuhan hak agar wanita dapat menerima pendidikan secara layak tanpa ada kungkungan dan kebebasan berfikir agar perempuan juga dapat bersuara akan ilmunya sendiri. Itu sebabnya ia sampai mendirikan sekolah wanita pertama kali.

Mengapa saya katakan “emansipasi wanita” dalam konsep kartini ini hanya persoalan kebebesan berfikir dan aplikasi kesetaraan pendidikan. Kartinipun pada masanya tidak sama sekali menentang adat yang berbau estetika ke-perempuan-an dan hukum adat yang terjadi di sekitarnya. Pertama, ketika ada peraturan perempuan dipingit dari umur 15 tahun kartini tidak memberontak dan tetap menjalani pingitan tersebut, namun cara-cara yang ia lakukan selama masa pingitan tidak biasa hanya berdiam diri dirumah, ia tetap memberdayakan diri dengan mengisi hal produktif sehingga dapat menciptakan kerangka berfikir yang apik dan dapat di aplikasikan. Kedua, ketika ia menikah kartini tetap patuh dengan kata “perjodohan” bahkan ia dinikahkan dengan salah satu raja yang ternyata telah beristri 3 kali sebelumnya, apa yang terjadi kini? Perempuan-perempuan mengkonstruksikan diri dengan sudah tidak zaman lagi perjodohan-perjodohan dengan dalih emansipasi wanita, padahal sang pelaku sejarahnya juga adalah hasil dari perjodohan dan perempuan kini tidak mau jika dinikahkan dengan orang yang telah beristri sebelumnya padahal contohnya sudah jelas. Namun, apa yang di lakukan oleh kartini pada waktu itu? Iya, kartini tetap produktif dalam hal emansipasi pendidikan perempuan dan ia mendapat dukungan dari suamianya sehingga dapat mendirikan sekolah wanita yang ia mau.
Ketiga, kartini terlahir dari ibu yang merupakan korban adat juga, ibunya adalah kaum biasa yang di nikahi oleh ayahnya, namun dikarenakan adanya peraturan pada masa kolonial Belanda yang melarang seorang Bupati menikahi keturunan rakyat biasa dan harus menikah dengan kaum bangsawan maka di poligamilah ibunda kartini oleh sang ayah dengan perempuan bangsawan (lagi-lagi persoalan adat dan aturan).

Jadi, jika bisa di katakan kartini adalah seorang pelopor pendidikan perempuan di indonesia atas usaha-usaha mandirinya dalam memperjuangkan hak pendidikan perempuan dan kebebasan berfikir atas ilmu sendiri tanpa harus menghilangkan adat, norma dan hukum yang berlaku pada zamannya.

Namun kini beredar dan booming dengan konsep kesetaraan “Gender” yang mana gender merupakan konstruk sosial yang berlaku di masyarakat. Konsep ini sebenarnya mendorong kita untuk mendobrak konstruk atau mendorong kita untuk produktif dengan halnya produktifitas seorang laki-laki?
Saya sering berfikir tentang bagaimana gender ini berlaku dan eksis tanpa diatasnamakan, maksud saya adalah, gender ini adalah sebuat teori atau konsep. Ketika pengaplikasian tidak perlu lagi di perjuangkan dan di bela-bela kan. Setuju dengan halnya pada saat bunda khofifah indar parawansa mampir k IAIN jember sekitar 2tahun lalu ia berkata “Gender jika masih di bicarakan pada saat ini, maka kalian berada di zaman saya”. Karena berbedaan zaman lah yang mengharuskan kita lebih berfikir revolusioner mengenai gender.

Kenapa banyak laki-laki yang menertawakan perempuan jika seolah-olah yang ia lakukan itu berdasarkan atau mengatasnamakan gender ? Iya, karena keseringan konsep ini di jadikan sebagai judul, bukan sebagai isi. Sehingga capaian-capaianya selalu berdasarkan gender yang notabennya banyak yang masih memiliki konstruk gender ini hanya untuk perempuan, padahal gender itu teruntuk kaum laki-laki dan perempuan, (perempuan bisa melakukan yang di lakukan laki-laki, dan laki-laki bisa melakukan apa yang di lakukan perempuan) begitu konsep yang saya pahami sendiri. Sedangkan wanita ataupun laki-laki seharusnya berdiri atas dirinya sendiri karena mengatasnamakan ia manusia bukan atas nama gender.

Nahh dari berbagai polemik diatas, dari sosok sang kartini dan kehidupannya kita dapat mengambil makna bahwasanya aturan-aturan dan norma non tekstual yang berada di kalangan masyarakat tidak perlu kita hapus atau dobrak, karena kehidupan orang-orang awam sekitar kita tidak sama dengan kehidupan saat ini. Pemaknaan aturan, semisal yang terjadi di dunia masyarakat awam “wanita tidak boleh pulang larut malam” , kita rubah dengan pemikiran modern kita sendiri dan memahami apa maksud mereka dengan ilmu yang kita miliki, seperti kenapa mereka melarang karena memang tidak baik bagi kesehatan. Semisal “perempuan tidak bisa menjadi seorang pemimpin karen A B C dan D”, kenapa kita tidak rubah dengan pemikiran siapa pantas dia berhak, dan siapa cepat dia dapat?. Semisal perempuan tidak ingin di jodohkan dengan dalih emansipasi wanita, kenapa tidak berfikir tentang cinta akan tumbuh jika sama” memberi kebahagiaan? Dan masih banyak contoh lagi.

Yang sama-sama harus dirubah adalah pemikiran kita sendiri, yang selalu terkungkung oleh pemikiran “ruwet”.
Sesederhana mungkin, namun tetap di fikirkan kalkulasi kebenarannya, karena pemikiran tidak ada yang salah, tapi salah jika selalu merasa benar.

Semoga sosok Kartini bisa kita bandingkan situasinya dengan kehidupan saat ini, tidak hanya wanita namun juga laki-laki.
Selamat Hari Kartini, semoga namamu tetap terkenang atas nama perjuanganmu..

Tulisan ini merupakan karya dari Ketua Umum Rayon Fakultas Tarbiyah Masa Khidmat 2019/2020 yang bernama Kholisatul Hasanah Prodi Tadris Bahasa Inggris Angakatan 2017.

%d blogger menyukai ini: