Antara Eksistensi dan Esensi “Kampus Hijau”

Oleh : Alunk[1]

Kampus dengan nuansa “Islam Nusantara” sepertinya sudah tidak asing lagi dikalangan mahasiswa baru ataupun masyarakat sekitar kampus IAIN Jember.
Eksisnya nama tersebut tidak hanya di lingkup lokal Kabupaten Jember saja, melainkan sudah mencapai rating pada tingkat nasional.
Betapa dahsyatnya kampus kita ini yang sudah banyak dikenal oleh orang-orang berpendidikan tinggi, baik dalam lingkup pegawai negeri sipil sampai pada tatanan pemerintahan.
Namun dibalik kedahsyatan nama tersebut, adanya kualitas juga menjadi tolak ukur utama bagi kawan-kawan mahasiswa yang menuntut ilmu di dalamnya, bahkan juga segenap dosen yang mengemban amanah untuk membimbing setiap mata kuliah yang diampu oleh mahasiswanya.
Fasilitas yang dimaksud bukan hanya perihal kualitas fisik yang terpampang secara covernya, adanya kualitas dari diri seorang dosen juga menjadi tolak ukur ke-efektifan perjalanan mencari secercah cahaya dari tiap mata kuliah yang tersedia.
Membahas perihal kualitas fisik yang tersedia di suatu kampus-kampus ternama, maka tidak mungkin kita temukan bangunan dengan lapisan triplek, ruangan yang kurang ventilasi udara ataupun ruangan yang tidak ada pendingin udaranya. Toilet yang menjadi kebutuhan bagi segenap mahasiswa untuk “Qadlil Hajat” istilah dalam bahasa arabnya, tidak akan kita temukan adanya air yang tidak mengalir secara normal, bahkan WC yang tersumbat oleh sesuatu yang tidak kita ketahui apa itu.
Belum lagi masalah lahan parkir yang tentunya diberikan secara khusus agar tidak memberikan rasa risih bagi pengguna jalan lainnya ataupun keamanan yang tersedia di tiap-tiap tempat yang rawan kehilangan, katakanlah lahan parkir tersebut. Baik itu kehilangan helm, spion, jas hujan bahkan motor. Adanya cctv akan menjadi pengawas bisu yang akan memberikan persaksian secara objektif jika ada kehilangan dan akan selalu siaga memberikan pengawasannya asalkan tidak ada trouble yang dialaminya.
Beberapa permasalahan itu tentunya tidak akan kita temukan di kampus-kampus ternama, namun realita yang terdapat di kampus kita ini masih belum memenuhi beberapa permasalahan diatas.
Bagaimana proses perkuliahan akan berjalan secara efektif jika standart fasilitas tidak memenuhi kata cukup untuk dinikmati? Tentunya hal itu akan menjadi bahan fundamental bagi mahasiswa bahkan juga dosen pengampu mata kuliahnya.
Bisa jadi kerugian masal jika disandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh orang tua ataupun wali para mahasiswa.
Lain lagi membahas tentang kualitas seorang dosen pengampu, berbicara masalah kualitas tentunya akan beda perspektif antara satu orang dengan orang lainnya. Hal itulah yang akan memberikan kerelatifan dalam berpendapat.
Secara garis besarnya begini, seorang dosen yang mengerti tentang perbedaan antara siswa dengan mahasiswa tidak mungkin akan menggunakan metode ceramah dalam bangku perkuliahan, jika menggunakan metode ceramah disebut sebagai solusi paling masif dalam memberikan pemahaman untuk tingkat mahasiswa, maka hal itu kurang sejalan dengan adanya tree fungsi mahasiswa yang diantara ialah agen of analisis.
Berbeda lagi dengan dosen yang hanya menggunakan model tree-d (diam, dengerin, do’a), maka fungsi seorang dosen untuk memberikan pengarahan atas sesi diskusi yang telah dilakukan oleh mahasiswanya bisa kita nilai nol.
Kemudian dosen yang hanya datang kemudian tidur di kelas, hal ini sangatlah mencerminkan bahwa dosen tersebut tidak profesional sama sekali.
Paling parahnya ialah ketika ada dosen yang mengandalkan kekuasaannya atas nilai yang akan diberikan pada mahasiswanya, lebihnya lagi ketika dosen tersebut mentalnya merasa risih disaat ada mahasiswa yang bersilat lidah dengannya. Lantas nilai sebagai senjata untuk menjatuhkan mahasiswa tersebut baik dari segi mental maupun kekritisan berfikirnya. Bagaimana generasi muda bangsa kita akan memiliki nalar fikir yang berkualitas, sedangkan kebebasan berfikirnya sudah diputus saat ia berada di bangku perkuliahan.
Lantas bagaimana yang sesuai dengan adanya tree fungsi mahasiswa secara universal? Tentunya orang yang sudah lulus akademisinya baik dari tingkat S2 bahkan melebihi itu, tidak akan membiarkan akalnya untuk tidak berfikir masalah yang sepele ini menjadi penyakit yang menjangkiti generasi muda bangsa Indonesia sehingga melahirkan generasi yang hanya lihai menipu di hadapan halayak umum namun esensi atau skill yang ada dalam dirinya teekubur sangat dalam.
Belum lagi membahas dosen-dosen yang diperkosa di muka umum untuk menjadi dosen pengampu yang memang bukan basis keilmuannya.

Apalagi masa seperti sekarang ini yang banyak mahasiswa baru dan akan menjadi bibit yang mudah-mudahan berbobot untuk memberikan perubahan dimasa yang akan datang. Apakah mereka akan diberikan amunisi yang penuh dengan ketidak sesuaian dari pangkat yang bersandingan dengan sebuah nama namun masih saja melakukan hal-hal yang konyol seperti tercantum diatas? Ya mudah-mudahan saja tidak demikian. Sebab hal itu akan menjadi kebodohan turun-temurun yang akan terus berlangsung dan tentunya akan mencetak generasi baru yang lebih buruk dari masa sekarang.

[1] Alunk Merupakan Salah satu Kader PMII Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dari korp Mahabbah (2016) Prodi Pendidikan Agama Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: