Benarku Benarmu Benar benar

Oleh : Mohammad Nurul Hidayat[1]

Manusia hidup di dunia ini tak lepas dari yang namanya ujian. Baik ujian berbentuk musibah dalam arti rasa sabar kita maupun berbentuk nikmat dalam arti atas rasa sukur kita. Dalam menjalani hidup, manusia sebagai insan yang berakal pastinya mencari tentang kebenaran sesuatu. Kebenaran adalah satu nilai utama dalam kehidupan manusia. Artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan (human dignity) akan selalu mencari dan memeluk suatu kebenaran.

Jika manusia mengerti dan memahami tentang kebenaran, maka sifat asasinya akan terdorong untuk melakukan dan melaksanakan kebenaran itu. Sebaliknya pun demikian pengetahuan dan pemahaman dari adanya suatu kebenaran tanpa diiringi tindakan dan perilaku berarti ia menyalahi adanya aturan kebenaran itu sendiri, karena setiap perbuatan yang dilakukan oleh seseorang harus berasaskan kebenaran.

Sebelum mendalami lebih jauh tentang kebenaran, kita harus tahu terlebih dahulu apa itu kebenaran? Kebenaran ialah sesuatu yang sesuai dengan fakta kehidupan. Analogi sederhanya malam itu gelap. Siang itu terang. Jika ada contoh lain ya itulah kebenaran.

Berbicara masalah kebenaran pastinya memiliki kategori tersendiri. Perbedaan dalam menilai sesuatu yang disebut benar berdasarkan kontradiksi realita dalam hidup diantaranya :
Kebenaran indera:

  1. Seseorang menilai adanya sesuatu terhadap suatu objek hanya dikarenakan telinga dan mata, dengan adanya pendengaran dan penglihatan maka seseorang akan memberikan sebuah statement atas apa yang telah ia dengarkan maupun yang telah ia lihat baik itu berbentuk sebuah pernyataan ataupun sebuah pertanyaan yang pada akhirnya membuahkan pernyataan.
  2. Kebenaran ilmiah
    Disamping menggunakan indera, manusia juga menggunakan nalar akalnya untuk memberikan suatu penilaian. seseorang akan menggunakan nalar akalnya untuk berfikir atas apa yang telah ia dengar ataupun yang ia lihat. Dari hasil pemikiran akal setiap orang yang berbeda-beda akan digunakanlah lisan untuk membicarakan atas apa yang telah difikirkannya.
  3. Kebenaran filosofis
    Selain dengan adanya indera dan nalar rasio seseorang, adapula orang yang dari hasil dua poin diatas masih mengkaji untuk menyatakan bahwa sesuatu itu apakah bisa dikatakan A atau masih bisa di katakan B. Dalam hal ini sebut saja cara seseorang mencari sesuatu yang masih belum pasti menurut ia atas kebenarannya dan pendalamannya yang ia lakukan mengkaji dari berbagai aspek salah satunya hukum kausalitasnya.

Ketiga poin diatas masih bersifat relatif dikarenakan kebenaran yang dimaksud masih sesuai dengan pemahaman seseorang dalam menilai sesuatu yang penuh perbedaan dalam menghukuminya. Lantas sejatinya kebenaran itu bagaimana? Kebenaran religius merupakan  Kebenaran mutlak yang murni bersumber dari Tuhan yang Maha Esa dan dihayati oleh kepribadian dengan integritas dan dengan keimanan yang bersumber dari hati seseorang.Inilah sejatinya kebenaran dalam hidup.

 

Belajarlah menjadi manusia

Sebelum membela kebenaran

Agar kelak ketika membela kebenaran

Tetap menjadi manusia

Tidak bertindak seolah tuhan

 

Kamis, 20 april 2017 – 18:33

[1] Mohammad Nurul Hidayat Merupakan Salah satu Anggota PMII Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dari Korp MAHABBAH (2016) Jurusan PAI

Satu tanggapan untuk “Benarku Benarmu Benar benar

  • November 8, 2017 pada 2:16 am
    Permalink

    658654 502838Good read. I just passed this onto a buddy who was performing some research on that. He just bought me lunch since I identified it for him! Thus let me rephrase: Thanx for lunch! 284190

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: