BERHARGANYA SEDETIK YANG LALU

Oleh: aLunk_[1]

“Satu-satunya yang saya perlukan ialah waktu. Alangkah hebatnya jika saya dapat membeli waktu-waktu yang terbuang”
Michael Faraday.

Begitulah kata seorang ilmuan asal Inggris yang menarik perhatian saya untuk menjelajahkan nalar setelah sekian lama terpenjarakan dengan kenyamanan.
Satu kata yang menjadi kunci ialah waktu, apa sih devinisi dari waktu?
M. Quraish syihab mengartikan waktu ialah seluruh rangkaian dalam kehidupan kita baik yang sudah berlalu, sekarang dan yang akan datang.

Dari devinisi tersebut memberikan sedikit pemahaman pada kita bahwa yang dimaksud oleh Michael Faraday ialah waktu yang sudah kita lalui. Betapa berartinya waktu sehingga ia memberikan sebuah statement atas kedahsyatan seseorang yang bisa membeli waktu yang sudah terlewati. Namun sayangnya hal itu hanyalah sebuah hayalan yang tak mampu dilakukan oleh siapapun di muka bumi ini.
Mungkin yang bisa hanyalah mengenang dan mengingat atas apa yang sudah dilewati satu detik yang lalu dari detik yang kita jalani saat ini.

Betapa ruginya kita jika kita hanya menggunakan waktu yang kita miliki hanya untuk melakukan hal-hal yang kurang memberikan manfaat, seperti halnya duduk bersama teman namun tiap dari orang yang ada dalam kumpulan itu hanya asik bermain smarphone nya masing-masing. Sehingga ikatan emosional yang terjalin kurang memberikan dampak yang positif akibat asiknya kita dengan android masing-masing.

Tidak sepantasnya disaat kita duduk bersama teman kemudian dari awal pertemuan sampai akhir hanya asik dengan dunia maya nya masing-masing sehingga muncullah kata-kata “yang dekat terasa jauh dan yang jauh terasa dekat”.

Sadarkah kita bahwa saat ini kesadaran generasi bangsa sudah dijajah oleh adanya kecanggihan android yang merusak keindahan solidaritas pertemanan dan indahnya berproses menggali potensi dalam diri seseorang.
Fauz Noor dalam bukunya Tapak Sabda mengatakan bahwa indahnya sesuatu bukan terletak pada hasilnya, melainkan ada pada prosesnya.

Nah disanalah yang banyak ditutupi oleh pabrik-pabrik bahkan tidak terbesit sedikitpun atas dampak negatif yang akan diterima oleh pengguna android ataupun smartphone yang begitu dahsyat kecanggihannya sehingga banyak membuang-buang waktu dengan hal yang tidak bermanfaat. Seperti halnya melihat story kawan, bermain game bahkan menggunakan kecanggihan itu untuk hal yang berbau negatif dan mempengaruhi pola pikir generasi muda kita dengan adanya hal yang negatif tersebut.

Maka dari itu, mahalnya waktu yang sering kita abaikan sebab kita terlena oleh kenyamanan sesaat. Baik karena kecanggihan android yang kita miliki ataupun hal-hal yang tidak memberikan manfaat lainnya.
Seharusnya generasi bangsa itu harus menyadari bahwa penjajahan saat ini bukan lagi dengan gempuran perang dan genjatan senjata, namun dengan arus informasi dan komunikasi yang semakin dimewahkan semata mendapatkan keuntungan sebelah pihak tanpa memikirkan dampak negatif yang menjadi bayangannya.

Bukan berarti menurut penulis kita harus melakukan hal-hal yang cenderung serius dan selalu terfokus pada aspek tertentu, tidak. Melainkan bagaimana kita bisa memposisikan diri untuk mengambil manfaat dari adanya kecanggihan dunia informasi dan komunikasi sehingga waktu yang kita lalui saat ini tidak merugikan kita esok.
Sebab penyesalan tak pernah ada didepan. Satu pesan yang saya terapkan dan bisa jadi penerapan teman-teman pembaca bahwa, jangan sesekali mudah terlena dengan kenyamanan sesaat. Tapi fikirkanlah 10 bahkan 20 tahun lagi apa yang akan kita rasakan jika sekarang kita hanya suka bersenang-senang menikmati hasil keringat orang tua.

Sesuatu yang paling jauh bukanlah jarak menuju suatu tempat, tapi sesuatu yang paling jauh ialah satu detik yang sudah kita lewati. Sebab tak mungkin kita bisa kembali pada waktu yang sudah berlalu itu.

[1] sahabat Alunk adalah salah satu kader PMII Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan prodi Pendidikan Agama Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: