DAUR SETAN KUALITAS GURU

Oleh : Ir Aufklarung[1]

 

Daur setan dapat di artikan pengelolaan kualitas dari seorang guru yang gaib atau abstrak. Daur setan kualitas guru disebabkan oleh LPTK atau Perguruan tinggi yang tidak berkualitas yang kemudian merembet berakibat pada calon Guru yang tidak berkualitas. Calon guru ini, kemudian akan menjadi Guru yang akhirnya membuat lembaga pendidikan tidak akan berkualitas. Efek domino perguruan tinggi telah menyebabkan lembaga-lembaga pendidikan pada level bawah tersebut tidak berkualitas. Guru menjadi faktor utama Selain faktor yang lainnya, sebagai penyebab kegagalan mutu pendidikan.

 

Hal ini berdampak pada pemuda/pelajar (peserta didik) yang kini semakin tidak jelas kelakuan hidupnya dalam sehari harinya baik itu sex bebas, tawuran, narkob dan kehilangan etika/moralnya. Penyakit hedonis yang jelas menjadi racun intelektual, potensial dan mental para peserta didik. Realitas saat ini seakan-akan menjadi hobi atau kegemaran oleh para pelajar. Lantas bagaimana masa depan bangsa ke depannya. Apakah negara penuh kekayaan alam dan keanekaragaman ini akan selalu di atas meja menjadi hidangan santapan oleh bangsa asing. Hal ini jelas karena ketidak becusan generasi tua dalam memberikan arah pada anak didiknya. Mengapa begitu karena pemuda terbaik tercipta sesuai dengan keseriusan generasi tua dalam memotivasi, membina, mendidik, membibit dan mengarahkan nya pada harapan tertentu.

 

Di antara sejumlah permasalahan mendasar mengenai tata kelola guru adalah kemampuan dalam pengelolaan yang memerlukan perhatian serius. Sampai sekarang, otonomi pengelolaan guru sebagai profesi belum dapat diimplementasikan sebagaimana di harapkan. Belum memiliki kapasitas yang memadai mengenai aspek-aspek yang paling penting dalam pengelolaan Guru seperti seleksi guru baru, sistem promosi jabatan penggajian dan sejenisnya, sehingga jika tak mengherankan jika pengelolaan guru sangat tergantung pada peran dan kebijakan yang di susun secara terpusat.

Dalam penempatan dan promosi jabatan guru dan tenaga kependidikan memang sudah di terapkan peranya namun hal itu memburuk karena banyak sekali politisasi pendidikan, sehingga mutu dan distribusi guru dan kepala sekolah merupakan masalah yang mendasar. Ahirnya banyak sekali guru yang terlahir tidak sesuai dengan kompetensi paedagogig, siapa yang dekat siapa yang berani bayar besar dia bisa di angkat jabatan nya. Karena pengelolaan hancur maka jelas sekali sang manajer di anggap manajer koplak maksudnya kalau bahasa jawa nya “seng penting oleh duek iso seneng seneng”. Tidak berfikir dampak kedepannya apa, seharusnya bisa berfikir jangka pendek menengah dan jangka panjang nya.

 

Adanya hal ini perlu di terapkansnya sistem merit (meritokrasi) dalam pengelolaan guru sebagai jabatan yang di sebut profesional (kecakapan dan kinerja). Bukan non merit seperti keturunan, kedekatan, nepotisme dan kepentingan politik. Meritokrasi yang dimaksud adalah sebuah penghargaan/bayaran/imbalan yang diberikan kepada pekerja/karyawan disesuaikan dengan keahliannya/jabatannya atau prestasinya. Agar pendidikan jelas berjalan untuk mencapai keidealan manusia, karena siapa lagi kalau bukan kesadaran dan tanggung jawab akademik, di zaman now seperti ini bukan kelihaian dan keindahan berbicara namun kerja nyata nya.

 

[1] Ir Aufklarung (Irwan Giovani Ibrahim) Merupakan Salah satu Kader PMII Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dari korp GERANAT (2015). Jurusan MPI .saat ini sahabat irwan menjabat menjadi ketua umum HMPS MPI Periode 2017/2018

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: