DIAM TERTINDAS ATAU BANGKIT UNTUK MELAWAN

Oleh: Arfan Efendi[1]

            Diam adalah suatu sikap yang tidak mau bicara atau dalam bahasa maduranya yaitu akekep, diam juga dikatakan sebuah sikap yang mana dia acuh-tak acuh dengan keadaan disekitarnya. Kita sebagai mahasiswa yang mempunyai trilogi mahasiswa yaitu agent of change, agent of analisis, dan agen of control, dari trilogi ini diharapkan dapat merubah pola pikir mahasiswa dan terlebih dapat merubah bangsa ini menjadi lebih baik. Bahkan dalam sambutan Bung Karno “beri aku 10 pemuda, maka akan aku goncangkan dunia” dari sikap optimisme bapak proklamator inilah diharapkan para pemuda indonesia pada khususnya untuk lebih bersemangat lagi menyongsong masa depan, karena pemuda (mahasiswa) akan menjadi tonggak penerus perjuangan bangsa ini. Terkait mahasiswa dalam asumsi masyarakat adalah pemuda yang pintar, tekun dan bertanggung jawab. Namun tidak banyak dari mahasiswa yang hanya kuliah sebagai adu gengsi saja, kalau kuliah harus seperti ini kalau kuliah harus seperti itu, yang menyebabkan dia akan lupa pada tugas dan kewajibannya malah asik berfoya-foya ria. Bahkan ada penyebutan unik dikalangan mahasiswa yaitu mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang), mahasiswa kura-kura (kuliah hura-hura), mahasiswa kunang-kunang (kuliah senang-senang) dan lain-lain.

Dari pengamatan penulis dikelas-kelas banyak dikalangan mahasiswa hanya terlihat diam, acuh tak acuh misalnya pada saat temannya mempresentasikan karya ilmiahnya, mereka lebih senang dengan ganget-nya dan tak menghiraukan yang ada di sekelilingnya, “mereka ada seakan tiada” itulah istilah yang pas itu menggambarkan hal ini. Dan yang paling parah lagi pemateri yang mempresentasikan karya ilmiahnya itu pun membaca secara tekstual, bukan berdasarkan pemahaman, kalau seperti itu anak SD pun bisa!!! Bagaimana ingin merubah nasib bangsa kalau penerusnya seperti ini, itu patut sebagai refleksi kita bersama sebagai penerus  tonggak perjuangan negeri ini. Nah dari situ penulis mengajak pada kita semua untuk melawan rasa diam dan bangkit melawan melawan kebodohan, misalnya dengan menunjukkan eksistensi[2]  kita bukan hanya esensi kita yang ada, akan tapi pikiran kita melayang-layang seakan tanpa tujuan yang jelas. Dari situ kita melejitkan  semangat kita agar cita-cita dari trilogi mahasiswa ini benar-benar teraplikasikan bukan cuma ada dalam angan-angan.

Dari penulis mengajukan sebuah refleksi kita sebagai mahasiswa:

Apakah kita mau tertindas oleh kebodohan???

Ataukah kita mau bangkit melawan kebodohon???

Dari penulis menawarkan sebuah solusi yang selama ini sudah banyak didengar. Namun minim pengaplikasiannya yaitu “MEMBACA” penulis mengajukan ini bukan tanpa alasan dari data pembaca di Indonesia dengan di Cina, kalau di Cina dia (pemuda) bisa membaca minimal 1 buku dalam 1 hari. Namun berbanding terbalik dengan negara kita yang mana tingkat pembaca di Indonesia masih rendah. Nah dari situ sudah jelas betapa pentingnya membaca untuk melawan kebodohan, agar menjadi cita- cita Negeri kita bisa tercapai.

Amin yarabbal alamin!!!

Ingat yang merubah diri kita bukan orang lain, melaikan kita sendiri.

Diam tertidas, lambat tertinggal, atau berhenti mati.

 

[1] Arfan Efendi Merupakan Salah satu Anggota PMII Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dari Korp GELOMBANG (2015) Jurusan PGMI

[2] Adanya atau keberadaan (Kamus ilmiah populer, Media center: 2002).

381 tanggapan untuk “DIAM TERTINDAS ATAU BANGKIT UNTUK MELAWAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: