DIMANAKAH BINTANG ?

Oleh : Rina Kusumawati[1]

Bagiku mimpi adalah fiksi dan harapan yang cendrung menyakitkan, seketika semua yang aku impikan tak bisa tercapai. Begitu kira kira pemikiran ku tentang mimpi, sehingga mimpi yang diceritakan seperti bintang yang sering menghiasi angan tak lagi aku rasakan.

“Mimpi itu bukan nyata dan nyata itu bukan mimpi ” kataku, namun ada perkataan yang membuatku ingin lebih banyak membahas tentang mimpi, seseorang menjawab perkataanku

“Mimpi adalah nyata di dunianya” katanya begitu jelas. hal itu membuatku ingin meneruskan ambisiku untuk menjawab dan meluapkan semua arti mimpi bagiku

“Duniaku bukan dunia mimpi” aku jawab dengan spontan perkataan ini.

“Dan bagaimanapun mimpi memiliki dunianya, dan itu nyata di dunianya.” Dia menjawabnya lagi, tentu saja hal ini menjadi perdebatan mungil yang memang sharusnya terjadi, dibawah ini kutuliskan huruf huruf, mencoba merangkainya menjadi percakapan antara aku dan dia. Sebelumnya perlu aku tegaskan bahwa define “dia” bisa bermacam-macam, namun dalam catatanku ini “dia” tidak memiliki arti apa-apa, sebab hal ini masih diluar definisi.

“aku hidup di dunia yang berbeda dengan mimpi. Dalam hidupku mimpi hanya sementara, ketika lelah lalu terlelap maka aku akan pergi kedalam dunia mimpi, itupun hanya sementara beda dengan kehidupanku yang nyata” ucapku, masih kukuh dengan pandanganku. Namun mulai kuterima maksudnya dia, masuk akalnya iya, tetapi tidak bisa mengubah pandanganku

“Mimpi bukan soal tidur Arina, tapi mimpi adalah pecahan angan yang masih hangat dan nikmat dirasakan sebelum asapnya benar-benar usang”

“Memang benar mimpi itu seakan hidangan hangat dan nikmat tapi sadarlah jika hidup hanya penuh mimpi adakah surga di dunia nyata?”

“Tentu ada Arina, kau sebagai pejuang imajinasi lambat laun akan merasakan surga itu arina. Namun perlu juga kau ketahui jagat raya ini penuh dengan pecahan-pecahan, mungkin suatu saat pecahan itu salah satu surga sempalan dari induknya. Kau pasti tau, orang-orang biasa menyebutnya surga versi dunia dan kau perlu tahu juga, bermimpi tentang apa saja itulah surga dengan versinya”

“Ah… itu hanya fiksi bagiku untuk apa bersenang-senang di dunia mimpi sedang hidupku penuh dengan bukti perjalanan yang keras dan tak sedikitpun sama dengan mimpi yang katanya indah diversinya. Andai saja hidup ku di dalam dunia mimpi mungkin aku akan terus lelap dan merasakan kebahagian yang bisa aku atur sendiri tanpa mengingat bahwa sebenarnya itu bukan duniaku. Ya… dunia yang membuaku bodoh dan tak berdaya dengan segala dramanya.”

“Apapun butuh pemantik Arina, api yg besar itu berawal dari percikan kecil yang timbul dari gesekan. Dan kau tau itu, itulah mimpi sebagai, namun itu tidak seberapa jika kau temukan pemantiknya dulu. Dunia mimpi dan imajinasi bagiku sama saja, hiduplah didalamnya hingga kau mampu membangun banguan-bangunan kecil, dari rumah sendiri sampai menjdi suatu Desa. Mungkin disanah banyak orang lain ingin hidup dan menyelam dalam mimpimu yang sudah meiliki dunianya.”

“Aku pernah bermimpi yang membuatku terlena dengan keindahan serta kenyamanan didalamnya, mungkin bodoh adalah kata yang pantas untukku. Karena memang aku terlalu nyaman dengan dunia mimpi yang dulu belum ku benci  sampai mimpi itu membuat kakiku patah, dari kenyamanan yang di beri tanganku terluka dan terasa perih ketika digerakkan. Diam adalah pilihanku untuk menikmati fakta yang harus kurasakan, hingga akhirnya tidak bisa bangun sebab mimpi itu tak merelakanku pergi begitu saja. Lalu bagaimana aku bisa keluar dari mimpi itu, sedangkan aku sudah mempunyai duniaku sendiri. Itu adalah kenyamanan yang membuatku masuk dalam jurang”

“Jika mimpi sekeras itu terhadapmu, lalu hal nyata apa saja yang lebih meluikaimu, mimpi bukan soal kenyamanan saja, setingkat lagi ada kenikmatan yang lebih dari kenyamanan. Seperti halnya, mencintai keindahan karena keindahan itu sendiri, bukan karena bentuknya. Seputar ini sebuah rasa yang patut mengadili.”

“Nyata yang melukaiku! Hal itu biasa menurutku, dari pada mimpi yang menghampiriku hanya sebatas angan. Dan nyata adalah kejadian yang benar ada bersama nafasku, juga menjadi terbukanya mataku. Tidak! aku tidak mau lagi hidup yang dipenuhi mimpi, karena sekarang bisa dikatakan aku bukan pemimpi yang baik.”

“Itu hanya persoalan dua hal yang sama, antara jiwa dan raga, antara mimpi dan kenyataan, antara impian dan lakon kehidupan. Arina yang masih malang, Arina yang belum bisa berdamai dengan sakit, jika tidak mau resah selamanya bersarang. Bedahlah, hujamlah sakit itu agar tunduk padamu.”

“Arina yang malang tapi tidak selalu malang, karna malang itu sudah aku kubur sangat dalam. Hidupku kini sudah baru, yang aku maksud hidup dalam nyataku sudah baru karena mimpiku juga sudah ikut malangku rerkubur. Kini tinggallah nyataku dengan berbagai lukisan dan cerita hidupku. Sudahlah ini sudah final dariku.” Aku akhiri percakapan itu begitu saja, sebab sudah tak menggugahku lagi dan masih memgang yang yang kuyakini benar.

Akupun sudah menguap berkali-kali sembari membuka lembaran buku yang tersemat kata ini: Bermimpilah, berimajinasilah yang tinggi hingga tiada lagi, tetapi ingatlah dunia ini, jangan sampai terlena dengan senjata dunia mimpi apalagi sampai lahir tetes darah.


[1] Sahabati Rina, merupakan salah satu kader PMII Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dari angkatan 2017,  prodi MPI Semester 4.

%d blogger menyukai ini: