ETIKA YANG TAK DIMORALKAN

Oleh: Ediy_Zubaidi*

Perlu disadari bahwa kondisi hidup yang hakiki tentunya tidak dapat memisahkan diri dari yang lain, sependapatlah dengan istilah yang digunakan ariestoteles “Zoon Politicon” untuk menyebutkan mahluk sosial yakni, Zoon artinya hewan dan politicon berarti bermasyarakat. Dalam artian kita selaku manusia ditakdirkan menjadi mahluk sosial yang bermasyarakat dan hal ini hal yang menjadikan pembeda antara manusia dan hewan yang lainnya. Yaaaaaa !!!! mungkin istilah yang digunakan ariestoteles hanya sebuah teori gagasan yang sering kita dengar bahkan dipaparkan namun sukar untuk dilakukan. Sehingga kemudian kita seringkali melupakan atau memisahkan diri dari yang lain, ibarat seekor katak yang sudah merasa menjadi paling besar dibalik pot halaman sehingga memicu kepuasan diri tanpa harus bersosial, tanpa harus bermasyarakat dan tanpa yang lain.

Berangkat dari kodrat kita yang tidak mungkin hidup sendiri, kita selalu terkait dan dikaitkan pada aspek-aspek sosial, ekonomi, dan budaya yang berbeda, tentu buktuk implementasi sikap dan tindakannya pun berbeda pula. Perbedaan sikap dan tindakan ini kemudian banyak memunculkan permasalahan-permasalahan sosial yang disebabkan kesalah pahaman persepsi (perseptual distortion) dari perbedaan itu. Berangkat dari itu pula kita butuh dengan sikap toleransi (Tasamuh) sebagaimana yang terkandung dalam nilai-nilai Aswaja. Dan kita juga butuh pada etika, moral dan akhlak dalam rangka menjalin kesinambungan_kenyaman walau ditengah ditengah-tengah perbedaan. Selain itu kita butuh pada norma-norma (ketentuan-ketentuan yang mengatur tingkahlaku manusia) baik itu norma susila, kesopanan, hukum dan agama, karena memang dimanapun kita tidak bisa lepas dari padanya, dihutanpun kalau kita melepas/tidak mentaati aturan-aturan yang ada dihutan bisa jadi, kita hangus dimakan binatang buas. Waauuuwww !!!!! ngeri bukan.

Pada kondisi miris saat ini manusia mulai jauh dari etika, moral dan akhlak yang baik, karenanya kurang bisa bersosial_bermasyarakat dengan baik pula. Contoh misal nilai-nilai kesopan santunan kepada muallim (guru) cenderung memudar, seakan lupa_tidak tau menau tentang kandungan-kandungan dalam kitab Ta’limul Muta’allim. Begitu pun akhlaq yang muda pada yang lebih tua (Junior-Senior) yang sudah mulai terkikis bahkan pudar tanpa sisa, seakan melupakan nilai-nilai dalam norma kesopanan kepada yang lebih tua (senioritas). padahal dalam sebuah hadits disebutkan, Nabi Muhammad SAW. bersabda: “bukanlah dari kami yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak menyayangi yang lebih muda” (Hr. Tirmidzi)

Di era masyrakat dulu, indonesia dikenal dengan kesopanannya makanya sekarang hampir tidak lagi demikian, masyarakatnya tak mengenal etika pemudanya rapuh tak bermoral padahal Subbanul Yaum Rijalul Ghadi (Pemuda hari ini adalah pemimpin dimasa yang akan datang), ekstrim banget bukan jika pemudanya tak bermoral!!!!, entah disebabkan apa pergeseran yang sangat fundamen ini, tapi yang jelas jelas pergeseran sikap dan tingkah laku ini terjadi disebabkan dua faktor; faktor internal dan faktor eksternal.

Yang pertama faktor internal; yakni faktor-faktor yang disebabkan atau bersumber dari dirinya sendiri, sebagaimana aliran natifisme mengatakan bahwa “faktor sifat bawaan, keturunan dan kebakaan sebagai penentu perkembangan tingkah laku seseorang” (Baca: Imam Malik, 2016: 75). Jadiperkembangan seseorang adalah ditentukan bawaan sejak lahir, dan faktor lingkungan kurang berpengaruh  terhadap perkembangan. Salahsatunya misal sifat ke-aku_an seseorang yang memang dibawa sejak lahir, merasa sudah lebih mampu dari yang lain, padahal dalam Kitab Al-Qur’an telah disebutkan;

” Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung (QS. Al-Isra’; 37)”. Hal ini yang kemudian banyak menyebabkan distorsi tindakan seseorang sehingga tidak mampu menghormati yang lebih tua, sesamanya dan tadak bisa bersosial_masyarakat dengan baik.

Yang kedua faktor eksternal; yakni faktor-faktor yang disebabkan dari lingkungan sekitar kita, sebagaimana aliran empirisme juga mengatakan bahwa “faktor lingkungan sebagai penentu perkembangan tingkah laku seseorang” (Baca: Imam Malik, 2016: 76). jadi perkembangan tingkah laku seseorang dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman empirik. Hal sedemikian pada dekade saat ini marak dengan perkembangan zaman tekhnologi, kita dimanjakan oleh fasilitas yang cukup mewah, praktis dan instan. yang inipun sangat memberikan konstruk terhadap pola fikir dan pola tingkah laku seseorang. kita latah dengan hal-hal yang baru kita ketahui bahkan ironinya kita selalu terinpirasi untuk mengikuti hal-hal yang baru (Tranding style) itu, contoh misal pakaian-pakaian yang kita gunakan sudah mulai kebarat-baratan, kendaraan-kendaraan pribadi (motor) sudah ninja dimana-mana, yaaaaaaaa mungkin terinspirasi dari sinetron “Anak Jalanan” dimana Boy sebagai pemeran utamanya yang cukup menghipnotis para penonton.

Namun, adapula yang dipengaruhi oleh lingkungan dan bawaan, dimana keduanya sama-sama mempengaruhi tingkah laku seseorang. Sebut saja sama sebagaimana aliran konvergensi berpendapat bahwa “faktor lingkungan dan bawaan sejak lahir yang menjadi penentu perkembangan tingkah laku” (Baca: Imam Malik, 2016: 77). Pendapat ini mengambil jalan tengah melihat fakta dilapangan, sependapatlah dengan perkataannya sahabat Mahbub Junaidi (Ketua Umum PMII Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Jember masa pengabdian 20016-2017) bahwa “perubahan sikap serta tingkah laku seseorang cenderung dipengaruhi oleh lingkungan sekitar namun disisi lain seseorang juga tidak bisa dipungkiri dari bawaan karakternya” (Baca: diskusi lesehan 10 April 2017,).

Dari beberapa faktor tersebut tentunya kita bisa lebih berhati-hati lagi dalam rangka mempertahankan benteng kesopanan kita terhadap orang-orang yang ada disekitar kita upaya tidak ada prasangka-prasangka buruk yang muncul dari khalayak umum. Lebih-lebih akhlaq kita kepada orang lain yang harus diperbaiki, perkataan akrab seperti jancuk, asuuu, matane, dll ini secara tidak sadar akan mengurangi etika dan estetika sesorang, oleh karenanya haruslah kiranya kita bisa lebih berhati-hati dan menjauhi segala hal yang kurang baik secara penilaian sosial, baik itu dari perkataan, perbuatan, maupun tingkah laku.

Wallahul Muaffieq ila Aqwamith Tharieq

wassalaamu’alaikum warohmatullaahi wabarokaatuh

Nyamukers Pergerakan, 10 April 2017 M .

 

 

*Zubaidi Merupakan Salah satu Kader PMII Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dari korp 2014 (GERIMIS) , karya ini merupakan karya essay pertama yang ditulis dalam rangka keinginannya untuk bisa menulis sebagaimana kader-kader yang lain. tentunya banyak kesalahan dan kekeliruan yang ada dalam tulisan ini, oleh karenanya kritik dan saran baik itu sifatnya membangun ataupun tidak, sangat penulis butuhkan sebagai bahan evaluasi kedepannya. SALAM PERGERAKAN..!!!!

325 tanggapan untuk “ETIKA YANG TAK DIMORALKAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: