HALUSINASI PERADILAN

 

Oleh : Ir Adnan S A[1]

    Keadilan menurut aritoteles merupakan tindakan yang memberikan sesuatu kepada orang yang memang menjadi haknya. Perspektif mayoritas orang memandang keadilan sesuatu hal yang wajib di kerjakan, bagaimana kehidupan manusia menjadi keharmonisan tersendiri.  Pertanyaan yang perlu individu menjawab apakah adil memang ada dan tampak atau pun bisa di rasakan. ?

Pengadilan yang kini kian berfungsi sebagai penegak hukum meninjau baik buruk/ salah benar, Akan kah hal itu memang mempunyai eksistensi ataukah itu hanya halusinasi ini yang perlu di prospek . Isu yang sering di bangun misalnya hukum bisa di beli, hukum bisa di sewa, hukum tumpul ke atas tajam kebawah dan lain sebagainya. Kemudian bertanya bagaimana dan dalam kondisi apa yang memungkinkan munculnya peradilan. Pengadilan merupakan sesuatu yang menjerat mengentrol dan mencekik keadilan itu sendiri, dengan menuliskannya kembali dalam intuisi-intuisi yang  tipikal dari suatu aparat negara.

Suatu aksi politik melawan memanipulasi orang-orang yang berkuasa, dan suatu aksi balas dendam melawan kelas kelas penidas. Ada nya hal ini sebenarnya payung hukum tidak bisa berkutik dan belum dapat menciptakan keadilan toh lihat lah akan semakin lama problematika akan terus bertambah tampa solusi karna permusuhan itu belum diselesaikan secara adil.  Lalu kemana kah otak moderat adakah yang bisa menjadi penengah atau mungkin sampai saat ini hanya menjadi halusinasi.

Sebuah panggung keadilan telah di siapkan terlebih dahulu oleh golongan yang cerdik, gesit pandai dengan kebohonganya. Yang dapat membuat pola pikir dapat terseret indah dengan dusta. Sehingga peradilan dapat terorganisir memenangkan suatu golongan tertentu. Para hakim duduk di belakang sebuah neja mewakili pihak ketiga yang berdiri di antara masyarakat yang “meberiakan balas dendam” dan yang tertuduh dan entah “bersalah atau tidak” sebuah penyidikan untuk mencari “kebenaran” atau untuk mendapatkan “pengakuan” pertimbangan mendalam untuk menemukan apa yang “adil”. Tidak dapatkah kita melihat bentuk embrionik yang rapuh dari kemunculan kembali aparat negara disini? Kemungkinan kemunculan sebuah kelas penindas?  Bukankan pembentukan sebuah intuisi netral yang berdiri di antara masyarakat dan musuh-musuh nya dapat membuat garis pemisah antara yang bebar dan yang keliru, yang bersalah dan yang tidak, yang adil dan tidak adil, bukankan cara ini malah menghalangi peradilan itu sendiri.

 

[1] Ir Adnan S A  Merupakan Salah satu Kader PMII Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dari korp MAHABBAH (2016), Prodi Tadris Bahasa Inggris  Semester 4. Sahabat  Ir Adnan S A  saat ini berproses di Intelektual Muda dalam kajian filsafat dan tulis menuis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: