JEJAK HISTORIS

Oleh TRICPEN[1]

Pekat malam yang disertai gerumuhnya  suara air hujan, mengajakku untuk berfikir dan kembali pada masa dimana aku bisa menggila serta menari-nari diatas kertas putih.

Ia aku paham, perjalanan hidup seorang penulis memang banyak dimensi, hitam putih perjalana merupakan hal yang tak bisa lepas dari seorang penulis.

Memang benar, seorang penulis bukan hanya membutuhkan ruang semedi agar mudah menghasilkan sebuah karya. Tekad yang kuat dan mental yang tinggi juga sangat dibutuhkan agar tetap konsisten dengan apa yang di cita-citakan. Disamping itu juga, ada beberapa hal yang harus di jadikan dasar pijakan.

Bagi kami, menjadi seorang penulis pemula sangat berat. Mental yang tinggi menjadi modal dan kunci utama untuk selalu berkarya. Mengapa tidak ?. Memang ini hanya asumsi kami pribadi, namun itulah dinamika yang kami alami.

Kami mulai belajar menulis, ketika masih duduk di bangku SMP/MTs, ya…. menjadi pengalaman ples yang tak mampu diuraikan dengan kata-kata.

Seiring perjalanan waktu, hasil karya kala itu, ludes tampa tersisa.  “Begitulah jiwa anak muda. Bersemangat penuh, tetapi mengabaikan waspada”, pinjam kata-kata istilah populer, hehehe.

Oh iya, sampai lupa !

Tulisan kami ini, entah masuk dalam kategori apa gak paham. Yang penting, kami bisa menghasilkan sebuah karya, meski jauh dari harapan para pembaca…!

“Bertemu dengan orang, lalu sering berkomunikasi dengannya, itu sama saja bertemu dengan pemikirannya”, mungkin kata-kata ini cocok bagi kami…!

Sedikit kami terangkan secara sederhana, takut gagal fokos.. hehe

“Bertemu dengan orang”

Ya, kalau kami bukan hanya bertemu !, namun juga dalam satu perjuangan di organisasi pergerakan.

“Lalu Sering berkomonikasi dengannya”

Meski tidak komonikasi secara inten di dunia nyata, akan tetapi kami inten komonikasi di dunia maya (whatsap). Maklumlah, karakteristik kami jauh berbeda.

“Itu sama saja bertemu dengan pemikirannya”

Seiringnya perjalanan waktu, jalinan komonikasi yang hanya inten dibangun melalui pesawat eletronik, mampu mewakilkan pemikiran-pemikiran kami dalam dunia tulis menuli.

Klau ditanyak pro kontra komonikasi yang hanya dibangun melaui media sosial, belum selesai-selesai sampai saat ini. Biasalah, isi kepala kami pemikirannya gak sama dalam satu posisi.

Semoga aja,… hasil tulisan pertama kami ini, bisa membawa kami untuk eratkan tangan dan jauh berlari bersama-sama.

Yang tak kala penting juga bagi kami, khususnya para pembaca tulisan ini, baik sahabat/i, senior dan alumni meluangkan waktunya untuk mengkritisi dan memberi masukan dan arahan untuk kami langkah kami selanjutnya.

Awal cerita !

Jejak kominikasi yang kami bangun di media sosial, awalnya gak jauh beda dengan para pembaca pada umumnya. Seperti saling tanya cita-cita, hobby dan diskusi kecil-kecilan, pahamkan apa itu ?…

Seiring berubahnya waktu tampa henti, kamipun saling memahami pola fikir dari masing-masing meski tidak keseluruhan.

Salah satu diantara kami, mencoba mengawali sesuatu yang berbeda. Bagi kami, ini hal yang sebenarnya mewakili keinginan kami para penulis pemula.

“Jika satu pemikir bisa berkarya, mana mungkin tidak bisa pemikiran beberapa penulis dijadikan satu karya !”, itu yang terbesit dalam diri kami.

Mencoba bangkit !… (19 Maret 2019)

Keberagaman yang kami miliki, menjadi kekuatan tersendiri bagi kami. Mungkin salah satunya diskusi kecil-kecilan yang pernah kami tuangkan kala itu,

 Andi*

Jika Boleh … ?

“Izinkan tangan ini kembali menari di atas lautan kertas putih kosong.

Menghilangkan rindu lama yang tak tertuntaskan.

Belaian waktu terputar jelas, jejak rekam kala itu …

Aku ingin kembali…

Aku ingin bangkit…

Entah berapa lama aku berlayar tampa arah..

Izinkan tanganmu menari bersama di lautan karya esok hari.!”.

Alsya*

“Aku ingin juga menepis bayangan itu.

Namun ku tak pernah bisa..

Ku coba bangkit..!

Walaupun ku tau, ada cahaya-cahaya hitam yg akan menyakitiku..

Tapi aku tak peduli..

Rasaku masih sama seperti dulu,

Bersemayam dalam lantunan syahdu.

Aku masih tetap gadis lugu,

Tampa henti berjalan tuk temukan setitik cahaya yang hilang kala itu.

Tak peduli rasa sakit bahkan luka yang pernah tergores,

Ku akan coba terus menikmati dengan lapang dada.”

Arman*

“Ku ingin juga berjalan dengan kalian,

Kembali encerkan otak yang lama membeku.

Tuk saat ini, aku mencoba memahami dinamika yang terjadi.

Aku paham, hajat ini baik tuk kedepannya.

Jujur, aku masih belum bisa menerima komonikasi yang hanya sebatas dunia hampa”.

Ku akan mencoba melawan keegoaan ini,

Tuk berkarya bersama kaalian esok hari !.”

Ya…….!

Tulisan itulah yang kemudian menjadi ispirasi kami. Kami mulai mencoba menulis dan menulis agar bisa dinikmati sahabat/i dan masyarakat umum lainnya. Tanggal 20 Maret 2019 menjadi sejarah tersendiri bagi kami, dimana kami sepakat memulai menulis klaborasi pemikiran-pemikiran menjadi satu untuk dijadikan karya.

Melahirkan Karya…!

Bualan-bualan kami dalam dunia maya, alhamdullilah pada tanggal 21 Maret 2019 ini bisa lahir.Meski kami kebingungan mau mengklaborasikan hasil tulisan sahabati Alsya dengan tulisan kami yang lain.

Ada hal yang mencengankan bagi kami yang lain, ketika salah satu dari kami mengkonfirmasi dia,

“Al, hari rabu sudah hampir habis. Tintamu sudah dipakai (19.29 WIB)? ”.

“Ya Allah, pantesan mulai seharia ini saya merasa ada yang mengganjal !. saya orangnya pelupa ! ”. Jawab Alsya.

“Santayan, ditunggu dah coretan tintanya. Waktu kita masih tersisa, semoga hari rabu ini kita bisa lahirkan karya dan inten terus. Pinjam kata-katamu, hehe”.

Selang beberapa waktu, tepat 71 menit setelah percakapan kala itu. Dukumen karyanya sudah dikirim, padah dari kami sediri paling sebentar 2-4 jam untuk bisa menghasilkan satu karya.

Ya… mungkin kelebihan dia, hemz……

“Itu ukiran tinta saya !. Biasanya ketika saya buat karya kayak gini, fakta dan opini diklborasi. Tapi yang ini memamang real yang pernah sya rasakan”.

Alsya*

Apalah arti sebuah pena.

Suara gemuruh hujan beserta petirnya menggelar di luar sana. Langkahku berat untuk ku langkahkan.Ku menoleh ke kanan dan kekiri tak ada satu makhlukpun yang terbangun malam itu.

Aku duduk di atas lantai yang begitu dingin,serta menatap kertas-kertas yang berserakan didepanku. Awal sebuah coretan yang ku dapati dalam sebuah kertas yang sampai ini masih tersimpan, bahkan sudah di baca berpuluh-puluh orang bukan jutaan.

Aku hanyalah penulis pemula yang tak tau apa arti sebuah pena. Malam itu,ku beranikan diri menulis beberapa imajinasi yang ada dalam pikiranku. Namun ku tak mampu, Aku tak memiliki banyak kata-kata.

Akau menyobeknya lagi, lalu membuangnya untuk kesekian kalinya. “Aaakkhhh… kemana kau imajinasi??”.

Aku marah pada diriku sendiri, seketika aku ingat tadi siang saat melewati koridor kelas, aku menemukan secarik kertas yang  ada di papan pengumaman yang berisi “ Lomba menulis cerpen dan artikel.

Bagi karya-karya yang terpilih akan kami masukkam dalam blok kami ”kurang lebihnya seperti itu. Slogan yang ada di bawahnya, saya masih ingat sampai sekarang “Jika para pahlawan di kenang karena jasanya terhadap negeri, guru dikenang jasanya karena ilmunya dan seorang penualis akan di kenang karena karyanya”dari situlah semangatku mulai muncul.

“Ustad… apakah benar pondok mengadakan lomba menulis?”

“Iya al,apa kau mau ikut?”

“InsyaAllah, kalau boleh tau temanya tentang apa ya ustad ?”

“Terserah kamu, yang penting cerpen karena ini masih awal !”

“Baiklah ustad, Terima kasih”.

Setelah aku bertanya pada ustadku, kebetullan juga beliau guru bahasa indonesia sekaligus kepala sekolah di pondokku. Aku rasa dalam jiwaku yang paling dalam, membaca adalah salah satu hobiku. Saat aku melihat buku apapun, terlebih dengan cover atau judul yang menarik, pasti saya langsung meminjam dari perpustakaan dan sampai tidak ingat pada sang waktu.

Nah,dari  sini saya sadar mungkin dengan saya mencoba menggali potensi saya dalam membuat karya akan di mulai dari hari ini.

Kegiatan di pondokku lumayan padat, akan tetapi pada jam 22.00 WIB kegiatan sudah tidak ada dan di haruskan untuk tidur. Aku yang juga awalnya jam 22.00 WIB mulai istirahat seperti santriwati yang lain, kini sudah berubah menjadi beell imajinasi.

Saya mulai bermain, otak mulai kuputar kembali.Teman-temanku yang sudah terlelap di tempat tidurnya masing-masing, saya menyunggingkan senyum dan berkata dalam hati ”Aku mencintai menulis, sampai-sampai aku tak kenal lelah setelah seharian beraktivitas layaknya mereka.

Lalu kenapa ketika yang lain sudah telah istirahat aku lebih memilih bermain dengan kertas dan penaku ?. Apa mungkin benar bahwa aku mulai menyukai berimajinasi?” “Sudahlah.. toh dengan mmenulis aku bisa memiliki banyak kosa kata” batinku waktu itu.

Setelah kejadian itu, tulisanku mulai terlihat, ya… walaupun masih sedikit. Namun aku sudah bersyukur bahwa Tuhan memberiku kesempatan bernafas di dunia ini dan bergelut dengan imajinasi-imajinasiku.

Mungkin Tuhan ingin ideologi yang sudah ku dapatkan tidak terbuang sia-sia.Maka dari itu, aku kadang melampiaskan pemikiran-pemikiranku kedalam sebuah tulisan yang keluar dari hatiku sendiri. Wkatu terus berjalan, tak kusangka aku telah menulis sedikit cerita ataupun artikel entah itu di komputer, laptop yang ada di pondok,dan juga di kertas-kertas yang setiap harinya ku selipkan di buku harianku.

Kala itu, aku ingin semangatku tidak sampai disini, entah kapan akan keluar dari pondokpun aku masih akan tetap menyukai sebuah tulisan.

Tiba-tiba saat mata pelajaran bahasa indonesia, aku bertemu lagi dengan ustadku dan beliau berkata “liat karyamu di blok pondok, sudah saya masukkan al”sedikit ucapan beliau namun pertama kali yang membuat saya menangis terharu. Beliau juga menyallamiku sebuah amplop dari hasil karyaku sendiri.

”Teruskan bakatmu, jangan berhanti sampai disini !. Kau pasti bisa dan siapa tau kau bisa di kenang banyak orang karema karyamu, bahkan karyamu akan bermanfaat juga bagi orang lain yang membacanya”.

Naamun satu hal yang membuat hatiku tergores,catatan-catatan kecil yang pernah ku tuangkan dalam sebuah kertas, kini telah hilang begitupun yang ada di laptop dan komputer-komputer itu. Betapa cerobohnya aku…!

Cukuplah dulu untuk cerpen saat ini, nantik kita lanjutkan kembali. Kami Masih butuh proses penyatuan diri !!!

Salam Pergerakan !!!

Salam Intelektual !!!

Salam Tinta Karya !!!


[1] Triecpen meruapakah anggota/kader rayon fakultas tarbiyah dan ilmu keguruan yang memiliki ke inginan bersama membuat cerpen pemikiran tiga orang. Terkait nama-namanya saat ini, hanya nama samaran. Karena mereka enggan memberikan identitasnya sebelum melahirkan karya-karya.

%d blogger menyukai ini: