KESADARAN PALSU

 

Muhammad Nurul Hidayat[1]

Tidak ada yang lebih penting dalam kehidupan seseorang kecuali kesadaran pribadinya sendiri. Namun kesadaran masyarakat masa kini hanyalah kesadaran dalam angan belaka tanpa ada implementasi dalam tindakannya atas apa yang ia fikirkan. Mengapa demikian?

Menurut Karl Marx, ia memandang bahwa kekayaan dan kekuasaan itu tidak terdistribusi secara merata dalam masyarakat. Oleh karena itu kaum penguasa yang memiliki alat produksi (kaum borjuis/kapitalis) senantiasa terlibat konflik dengan kaum buruh yang dieksploitasi (kaum proletar). Tanpa kita sadari bahwa kita sudah termasuk dalam kategori kaum proletar. Betapa banyak uang yang kita belanjakan di supermarket? Berapa kali kita mencari kebutuhan primer di swalayan-swalayan megah? Kita hanya menyadari atas kebutuhan kita sendiri tanpa memandang kebutuhan orang lain yang membuka usaha perdagangan kecil-kecilan di lingkungan kita. Sadarkah kita bahwa tanpa disadari kita telah menindih saudara kita yang menjual barang kebutuhan primer di usaha pribadinya? Tentu tidak, sebab kita hanya berfikir tentang enaknya yang di dapatkan dan kemudahan yang diberikan melalui adanya supermarket dan swalayan di tempat kita. Kenyamanan dan kemudahan itu adalah salah satu metode kaum kapitalis untuk mendapatkan konsumen yang banyak sehingga para konsumen perlahan lupa pada pengusaha lokal.

Seiringan dengan pendapat Marx mengenai Kapitalis, seorang tokoh yang tidak sependapat dengannya ialah Marx Weber. Ia tidak sependapat dengan Marx yang menyatakan bahwa ekonomi merupakan kekuatan pokok perubahan sosial. Melalui karyanya, Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, Weber menyatakan bahwa kebangkitan pandangan religius tertentu dalam hal ini kaum Protestan yang membawa masyarakat pada perkembangan kapitalisme. Kaum Protestan dengan tradisi Kalvinis menyimpulkan bahwa kesuksesan finansial merupakan tanda utama bahwa Tuhan berada di pihak mereka. Untuk mendapatkan tanda ini, mereka menjalani kehidupan yang hemat, menabung, dan menginvestasikannya agar mendapat modal lebih banyak lagi.

Jangan nilai pandangan Weber dari sisi Agama yang dianutnya, melainkan fokuskanlah pada esensi pemahaman yang ada dalam ajaran agama tersebut. Janganlah memandang perbedaan di setiap alur kehidupan karena menurut Herakleitos, perbedaan bukan dijadikan sebagai tolak ukur pertikaian seseorang melainkan jalan tengah diatara dua pendapat adalah jalan terbaik. Sedangkan menurut tokoh islam yang dikenal nyentriknya, yaitu Gus Dur berpendapat “apabila ada seseorang benci pada orang lain dikarenakan agamanya, maka yang ia sembah bukanlah Allah melainkan agama. Karena Allah menciptakan segala sesuatu di muka bumi ini penuh dengan perbedaan”.

Jadi, kita selaku rakyat jelata yang selalu menerima ketidak jelasan hukum di negara kita, haruslah perlahan merubah kebiasaan buruk kita yang selalu membelanjakan uang kita dan memenuhi kebutuhan kita dengan membeli serta mencarinya di swalayan atau supermarket terdekat. Maka mulai saat ini kita bantu saudara kita dengan tidak berbelanja dibawah perbudakan kaum kapitalis. Apabila terdapat sisa di setiap pembelanjaan yang kita lakukan, jangan biarkan kemubadziran menjadi jalan keluarnya. Maka simpan dan kumpulkanlah agar mendapatkan sesuatu yang lebih bermanfaat.

 

 

[1] Mohammad Nurul Hidayat /Alung Merupakan Salah satu Anggota PMII Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dari korp MAHABBAH (2016) Jurusan PAI

704 tanggapan untuk “KESADARAN PALSU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: