KESANTUNAN HUJAN

Oleh : Senja Bulan[1]

Teroris berkedok jihad lahir dalam suara suara gelap yang ada di negeri Indonesia. Saban menjelang magrib orang orang berkumpul untuk menghadap sang penguasa. Kumandang adzan sangat keras di utarakan dalam senja yang tak berkabut. Seorang lelaki menghampiri masjid dengan membawa tas yang tak diketahui isinya. Menaruh tas tersebut di dalam keramaian. Suara iqomah pun di lanturkan sedemikian rupa yang membuat orang fokus terhadap ibadah, seketika suara ledakan pun terjadi. Suara itu terdengar dari beratus ratus meter hingga di sebuah rumah terdengar jelas.

                Rina sang pemilik rumah sempat panik dalam keheningan sorenya dengan segelas teh yang perlahan ia minum. Mendengar suara itu ia pun menuju beranda untuk melihat keadaan. Tidak ada apa apa yang dirasakannya. Seketika telpon genggam rina bersuara nada dering lagu lawas. Mendengarnya ia pun spontan mencari dan dengan reflek mengangkat telpon.

“halo, rin “

“iya al, ada apa”

“besok ada acara ?”

“Enggak al”

“ikut lomba puisi ya ?”

“mendadak banget “

“iya , aku lupa mengabari “

“iya udah, aku persiapkan”

“ok makasih say “

                Alvi adalah seorang lelaki yang gagah di kampus rina. Ia adalah ketua salah satu organisasi di dalam kampusnya. Ia juga anak geng motor yang sering arogan di jalanan. Terkadang rina pun memarahinya karna ia ikut ikutan geng motor yang gak jelas itu. Kadang juga ia arogan di jalanan. Namun ke aroganannya itu mudah tertutupi oleh kelakuannya di kampus. Ia adalah anak yang mudah bergaul dan mudah untuk menempatkannya di situasi apapun. Arkhh, kok malah bahas alvi sih, ini bukan tentang alvi, ini tentang rina. Back to rina.

                Sedetik setelah ia tutup teleponnya, ia menuju ke beranda. Rina masih meikirkan lomba yang di jelaskan oleh alvi. Rina terus terusan berpikir tiada henti.

“rinaaa” (suara ibu dari dalam kamar)

“iya ibuu”

“mandi naak “

“siap ibuu”

Beranjaklah ia ke kamarnya dan mandilah setelah itu.

***

                Saban menjelang malam sekitar pukul 9 dengan mata mulai lelah rina beranjak menuju kamarnya untuk mempersiapkan puisinya. Bingung dan bingung yang selalu ia pikirkan. Tiada motivasi sama sekali untuk membuat puisi. Membuat puisi memang mudah, tapi membuat puisi yang bermakna sangatlah sulit. Blank blank dan blank. Seketika perut mulai bersyahdu dan bersyahdu pertanda bahwa perut membutuhkan bahan bakar karbohidrat. Ia pun beranjak menuju dapur dan mulai memasak mie instan yang selalu tersedia di rak. Ia pun menuju ke beranda. Memakan makanan yang tak sehat katanya. Tapi itulah mahasiswa, yang hanay memikirkan kekenyangan daripada kesehatan yang katanya sehat itu mahal. Kenyang setelah itu ia tuju kamarnya untuk mengerjakannya puisi puisi yang fana. Ia dapatkan setelahnya imajinasi yang perspektifnya di dapatkan dari lampu lampu kamar.

                                                                tereksukusi dalam bayangan

lintang lintang gelap gulita

himbau di himbau dalam bayang bayang semu

aku adalah raja

raja dari kerajaan kamarku

suar suar dalam suar yang tak bernakna

aku bagikan ke dalam cahaya

                sirkulasi cahaya usang

                menerkam dalam lampu lampu gemerlapan

                yang usang tak berpendapat

                tanpa kebimbangan

                malam dan malam selalu di pikirkan oleh seorang yang opininya benar benar main dalam kehidupan nyata. Rina sang revolusioner julukannya selalu mampu memberikan energy energi positif kepada teman temannya sendiri. Pagi menjelang pun rina masih memikirkan puisi puisinya yang ia pikir tak bermakna.

***

                Sore menjelang, lomba pun tiba pada waktunya. Alvi pun menjemput rina dan menuju dalam perlombaan tersebut. Lomba tersebut diadakan oleh organisasi ekstra kampus. di tengah tengah jalanan aspal yang berliku liku rintihan air pun mulai turun dari atas langit yang sedikit gelap. Mereka berdua bergegas untuk menuju gedung teater dan memperdiapkan lomba tersebut. Sesampainya di tempat yang mereka tuju basah kuyub pun tidak terelakkan lagi.  Segera mereka duduk dan menstandarkan punggung mereka ke tempat duduk yang ia persiapkan.

“rina siap ??”(Tanya alvi)

“belum di print” (sahut rina dengan cemberut)

“ya udah, ayo nge print dulu”

Beranjaklah mereka menuju beranda. Menghidupkan gelonggongan mesin yang berpolusi. Ia tarik gas motor tersebut, padahal keadaan di situ masih hujan. Tapi ia tekat untuk menerobosnya.

“hujan loh, mau dilanjutkan ?”

“iya ayo lanjut”

“nanti kamu sakit gimana “

“enggak, ayo udah”

“di gagalkan aja ya ?”

“kesempatan gak dating 2 kali”

“ya udah“

                Hujan di kala itu memang tidak deras. Tapi rintihan gerimis itu dapat menyebabkan pusing. Alvi padahal barukeluar dari rumah sakit. Tapi ia rela untuk mengantarkan rina demi lombanya.

“fotokopi dimana “ (Tanya alvi )

“di situ aja “

“iya”

 Mereka berhenti di salah satu fotokopian yang dekat dari markas besar oganisasi alvi. Beranjak rina dari motor,ia tuju beranda toko tersebut dan menyampaikan aspirasinya untuk mencetak puisinya.

“putar balikkan sepedanya, biar cepet”(perintah rina)

“iya nanti, masih hujan”

Selesai mencetak beranjaklah mereka menuju tempat lomba. Di jalan pun rina memikirkan alvi yang baru sembuh dari sakitnya. Padahal alvi baru keluar dari rumah sakit. Tapi tetap saja alvi mengabaikannya untuk seorang rina yang cantik manis.lomba pun di mulai, di asan rina pun mulai tampil. Rina tidak mengharapkan menjadi juara, ia hanya ingin membangun mental dan belajar mencari pengalaman.

***

                Usai lomba rina pun beranjak menju ke beranda gedung teater di temani oleh alvi.

“mau langsung pulang “(Tanya alvi)

“iya”

“jangan hujan hujan, nanti masuk angin”

“gppa ah, aku pengen hujan hujan”

‘Jangan maksa rinaa”

“gppa, aku pengen hujan hujan”

“yaudah terserah”

Beranjak rina dri tempat mereka berbincang bincang. Rina pun menuju rumahnya dengan menggunakan angkotan umum. Alvi tetap di tempat sambil menunggu pengumuman siapa juaranya.

                Rina yang kehujanan terus mentap hujan dan selalu bermeditasi di alam bawah sadar. Dia tidak menganggap hujan itu sebagai kenangan. Karna menurut dia sirkulasi kenangan hanyalah opini tanpa jadi makna. Hujan adalah kesukaannya. Bagi seorang rina, dalam hujan adalah suatu masa di mana bisa mengenang masa masa bahagia dahulu dengan sirkulasi kebahagiaan yang nyata. Bukan seperi sekarang yang kebahagiannya hanyalah opini belakang yang setelah itu adalah resah. Peredaran hujan dapat ia rasakan dalam benak hati yang paling dalam. Peredaran ini adalah peredaran kenangan dalam institusi kenangan yang terangkap dalam hati ini. Tersimpan dalam dedikasi memori dalam pikiran seorang rina.

Hingga ia dapat membuat puisi lagi dalam hujan ini yang membuat ia menjadi kuat dalam menghadapi masalah. Arkkkkh bangsat ! imajinasiku hilang! ;wejbc;wdclwkejfuhqkwdkxncihwlj eofihqw;ofhqwkjdbqe f

Bersambung.


[1] Nama penulis admind tidak mencantumkan sesuai permintaan penulis.

%d blogger menyukai ini: