MARADU AL-QALBU

Oleh : Irfan Supandi[1]

Ahli ilmu jiwa, Ahlaq dan Ilmu Tasawuf sepakat bahwa hati manusia sering sakit dan mengalami goncangan, karena sering menjauh dari tuntunan agama (nilai dan norma), sehingga dalam perjalanan hidupnya tidak memiliki pegangan dan landasan untuk mengendalikan perbuatannya, Akhirnya manusia lebih suka Al-Faksya’ Wa-al-Mukkar (Penyimpangan Syari’at dan penyimpangan moral).

Hati merupakan salah satu fungsi rohani atau jiwa yang dapat menentukan sifat baik dan buruk manusia. Diriwayatkan HR. Bukhori dan Muslim “Ketahuilah, bahwa dalam jasad terdapat segumpal daging yang apa bila baik, maka baiklah seluruh jasadnya dan apabila buruk, maka buruklah  seluruh jasadnya. Ketahuilah (bahwa yang dimaksud) adalah hati”.  Hati manusia berada didalam Al-Sadru (dada) yang mana terdapat segumpal daging yang disebut Al-Qalbu (Hati) memiliki Al-Fu’ada (Intisari Hati) didalamnya terdapat Al-Lubbu (Akal Murni). Benang merah keterangan diatas bahwa, Hati merupakan fungsi rohani yang sangat menentukan dalam tingkahlaku dan perbuatan manusia, tidak heran ketika hati manusia terselimuti dengan hal-hal kotor dan buruk, mereka melakukan  hal-hal diluar norma-norma dan nilai-nilai yang ada. karena mata hati manusia tertutup oleh bintik-bintik hitam, ahirnya akal murni terbelenggu dan tidak dapat melaksanakan  fungsinya.

Ditinjau dari fenomena kondisi kejiwaan, Maradul Al-Qalbu (Penyakit Hati) ada beberapa hal :

Pertama Al-Jahil : Penyakit hati yang diindikatori, perbuatan buruk yang dilakukan manusia karena belum mengetahui keburukannya.

Kedua Al-Jahilu Al-Dallu : Perbuatab buruk yang dilakukan karena tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya, padahal dia tau perbuatan yang dilakukan salah.

Ketiga, Al-Jahili Al-Dallu Al-Fasiqu : Pengertian baik pada diri manusia telah kabur atau menghilang, sehingga perbuatan buruklah yang dianggap baik.

Keempat, Al-Jahilu Al-Dallu Al-Fasiqu Al-Shirri : Perbuatan buruk yang telah melalipui batas dan mengganggu ketentraman masyarakat. Sedngkan tidak ada tanda-tanda yang dapat menyadarkannya. Kecuali kehawatiran akan adanya pengorbanan jika manusia itu masih hidup.

Merawat kebugaran hati agar tetap sehat sangat diperlukan dalam menjalani tantangan hidup ini. Hati tidak jauh beda dengan mesin-mesin ataupun alat-alat yang dibuat manusia, meski dan bagaimanapun membandingkan ciptaan Allah dan ciptaan manusia sangat jauh, apa lagi ciptaan manusia banyak kelemahan. Namun dalam kontek ini, hati juga membutuhkan perawatan sama halnya alat-alat dan mesin-mesin buatan manusia, agar tetap dan dapat menjalankan tugan dan fungsinya, apalagi hati sebagai fungsi rohani dan jiwa. Ibnu Al-Qosyim menyampaikan “Hati memerlukan Santapan dan minuman untuk menjalankan tugasnya. Santapan Hati adalah Zikir dan minuman hati adalah Taffakur”. Zikir (Mengingat Allah) dan Taffakur merupakan satu dari sekian perawatan dan obat yang dapat dilakukan dalam memecahkan problem-problem dan penyakit dalam hati manusia. Jika hati manusia tidak dirawat dan dibiarkan, maka perbuatan diluar nilai-nilai dan norma-norma akan menjadi bintik-bintik hitam dalam hati yang pada ahirnya sedikit demi sedikit akan menutupi hati dan membawa kearah kerusakan jiwa.

 

Hati Adalah Mesin

Butuh Konsumsi dan Amunisi

Zikir dan Tafakkur

Menjadi Jawaban atas Semua ini

Jika Hati, tak mau kau layani

Tunggu saatnya, hati tak beroprasi

 

 

Zikir, Fikir dan Amal Sholeh

 

[1] Irfan Supandi / Cak Pandai  Merupakan Pengurus BEM-FTIK 2017/2018, yang merupakan Salah satu Kader PMII Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dari korp GRANAT (2015), Prodi MPI  Semester 5, Seketaris Penanggung Jawab Advoger Korp Granat 2015 daN berproses di Intelektual Muda serta  salah satu Anggota Metra Post.

20 tanggapan untuk “MARADU AL-QALBU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: