Mengencingi Ganjar

Alif Raung Firdaus[1]

Kita harus melepas celana

Agar leluasa mengencingi Ganjar;

Lelaki bertubuh ular yang melata di kepala kita

Membuat lubang-lubang kematian dalam dada

Ia bukan dewa, Berta,melainkan iblis kecil

Yang mencoba membunuh Tuhan

Dalam wajah murung ibu-ibu kita

Seret kepalanya kemari

Kau akan tau, dalam tempurungnya yang tebal

Ada pigura berlukiskan bukit-bukit terbakar

Ada sungai yang mengering dan memerah darah

Ada tubuh ibumu yang terlentang pasrah

Ia menyanyikan kerakusan dari puncak podium

Yang dibikin dari tengkuk nenek moyangmu

Lalu bersila di headline sebuah koran

Dengan pidato sampah yang dipungut dari

lembah Kendeng –setelah menggali bumi

membangun makam-makam besar

bagi mimpi kita yang terkapar

kita harus melepas celana

agar leluasa mengencingi Ganjar;

lelaki yang kehausan setelah berkeringat

membangun istana megahnya sendiri

di pusara ibumu yang menangis

sepanjang hari

 

Jember, Maret 2017

[1] Alif Raung Firdaus Merupakan Salah satu KaderPMII Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dari Angkatan 2011, Mantan Wakil Ketua Umum KaderPMII Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan  periode 2014-2015 .Saat ini beliau juga aktif di Komunitas Seni GESEK ( Gerakan Seni Kader)

881 tanggapan untuk “Mengencingi Ganjar