MERAWAT KEBHINEKAAN DENGAN NASIONALISME

 

Oleh: Maulana Al-Fatih[1]

 

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺇِﻧَّﺎ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﺫَﻛَﺮٍ ﻭَﺃُﻧْﺜَﻰٰ ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎﻛُﻢْ ﺷُﻌُﻮﺑًﺎ ﻭَﻗَﺒَﺎﺋِﻞَ ﻟِﺘَﻌَﺎﺭَﻓُﻮﺍ ۚ ﺇِﻥَّ ﺃَﻛْﺮَﻣَﻜُﻢْ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﺗْﻘَﺎﻛُﻢْ ۚ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻋَﻠِﻴﻢٌ ﺧَﺒِﻴﺮٌ

Artinya:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

 

Momentum kemerdekaan Republik Indonesia yang tepat pada tanggal 17 Agustus memberikan pelajaran kepada kita bahwa bangsa ini tidak terlahir dari ruang hampa, rentetan sejarah panjang mewarnai perjuangan para pahlawan yang telah membayar kemerdekaan dengan darah dan nyawa. bangsa dengan mayoritas muslim terbesar ini telah tumbuh dan berkembang pesat melalui akulturasi budaya dan kemajuan teknologi sampai saat ini. perbedaan suku, agama, ras dan adat budaya terbingkai dalam sebuah kebhinekaan yang memiliki nilai luhur, karakteristik dan khasanah lokal yang layak dilestarikan agar tidak tercerabut dari akarnya.

 

Perbedaan sejatinya adalah sebuah keniscayaan yang menjadi bagian dr dinamika peradaban kehidupan manusia sebagai mahluk sosial. apalagi diera modern saat ini, tidak ada jaminan manusia dapat hidup sendiri. begitupun dengan masyarakat Indonesia yang sangat plural, toleransi seakan menjadi menu wajib ketika berbicara keberagaman yang harus dipupuk atas asas saling percaya dan saling menghargai sesuai dengan ketentuan yang berlaku. hal senada pernah diungkapkan oleh salah satu sesepuh NU KH. Wahab Hasbullah: “tidak ada senjatan yang mampu mengalahkan persatuan.”

 

Toleransi dalam keberagaman tentunya menjadi tugas bersama dan untuk kepentingan bersama, selama ini _maindset_yang berkembang dimasyarkat, bahwa toleransi menjadi tugas Ustad ustad juru dakwah, pemuka agama dan tokoh masyarakat. sehingga melahirkan sikap person individualistis yang menyebabkan masyarakat  susah mempertahankan identitas daerah. alhasil khasanah budaya terancam punah dan kelak hanya melahirkan generasi yang buta akan sejarah.

 

Akhir akhir ini, negara tengah diguncang dengan munculnya isu isu yang mengancam pada  kedaulatan dan menyoal kembali ideologi bangsa yang sudah final, sebut saja mereka “benalu tak tau malu” kelompok atau golongan yang ini mengusung misi yang begitu mulia yaitu jihad fisabilillah, menegakkan agama Allah, kembali kepada Alquran dan hadist, penegakkan syariat islam dan seterusnya yang sebenarnya sangat jauh dari tuntunan ulama Salafusssalih tidak sampai disitu, dengan masuknya pemikiran asing dan liberal semakin mendapat tempat yang teduh dikajian atau diskusi kalangan mahasiswa, media media, bahkan diantara tokoh tokoh tersebut sudah mulai masuk politik. jika telah demikian mereka akan terlibat dalam kebijakan kebijakan pemerintah dengan kepentingan masing masing, menyetir pandangan masyarakat melalui medianya. meskipun golongan ini hanya mendapat cibiran dari acara acara shimposium kebangsaan yang hanya seremonial menabur pengetahuan kapas, perlahan tapi pasti mereka akan menjadi boomerang yang mengancam kadaulatan NKRI yang sering dikoarkan koarkan oleh kaum nasionalisme pinggiran.

 

Islam memandang Nasionalisme sama halnya Islam memandang pancasila, menurut KH. Ahmad shiddiq bahwa, “Islam itu wahyu, datangnya dari Allah, sedangkan Pancasila adalah sebuah Ideologi (buah pemikiran manusia) bagaimanapun bentuknya tidak akan mampu menandingi kedudukan Wahyu, hanya saja Ideologi bisa menjadi pasal penjelasan dalam wahyu..” dalam kutipan tersebut sangatlah jelas sekali, Pancasila mengadopsi sepenuhnya isi dalam 5 sila tersebut dari AlQur’an. ulama kharismatik pelepor berdirinya organisasi Islam terbesar di Indonesia KH. Hasyim Asy’ari telah membuktikan bahwasanya cinta tanah air(Nasionalisme) menjadi wajib bagi seorang muslim termasuk didalamnya membela, menjaga dan mempertahankan kemerdekaan bangsa dari ancaman luar, maka dari sinilah kemudian lahir fatwa Resolusi Jihad yang berhasil membakar semangat pejuang dari kalangan santri dan Kyai. beberapa tahun kemudian ketika KH. Ahmad Shiddiq menjadi Rais Am NU, keberadaan Pancasila dalam Khittoh Nahdliyin telah mendapat legitimasi bahwasanya Pancasila telah final.

 

Nasionalisme harus dikembalikan lagi sesuai porsinya, bukan untuk disoal kembali, namun untuk memberikan penguatan dan mendobrak kejumudan berfikir para sarjana sarjana muda liberal, ustad ustad musiman, yang telah gagal paham dalam memahami teks dan konteks. sehingga dari sini akan melahirkan kesatuan dan kekuatan besar bangsa ini. Indonesia dengan tiga hijaunya (NU, Muhammadiyah dan FPI)  merupakan penopang utama kekuatan ummat muslim Indonesia. sinergisitas ketiganya mengokohkan kedaulatan bangsa yang turut ambil bagian dalam menjaga persatuan. tentunya dengan dukungan dari berbagai kalangan yang berbeda pandangan namun tetap berada pada satu tujuan.

 

perbedaan memberikan ruang kepada setiap person ataupun golongan dalam mengaktualisasikan kebebasan berfikir dan menyampaikan gagasan didepan publik, yang tercermin dalam wujud tindakan serta memastikan bahwasanya pancasila benar benar menjadi paradigma kehidupan berbangsa dan bernegara. mengingat eksistensi ideologi pancasila ditengah pergumulan ideologi di era globalisasi sangat rawan untuk disoal kembali dan tidak menutup kemungkinan pancasila hanya akan menjadi gambar gambar yang terpampang disetiap sudut kantor dinas pemerintahan, inilah mimpi buruk sebuah negara ketika masyarakatnya mulai meninggalkan identitas kebangsaannya.

 

Nasionalisme tidak sesempit hanya sebuah teori ataupun doktrin kenegaraan, tapi sebuah cita-cita masyarakat yang menjunjung tinggi solidaritas dan menolak perpecahan. siapapun kapanpun dan dimanapun setiap person atau golongan, perbedaan sejatinya bukan memisahkan, namun menyatukan atas dasar tawasuth, tasamuh, tawazun dan taaddul.

 

Refrensi :

  1. Reaktualisasi Pancasila: Ombak Unej
  2. Muhyidin Abduhshomad, Hujjah NU: LTNU
  3. KH. Ahmad Shiddiq. Khittoh NU. LTNU

 

 

 

 

[1] Maulana / Maulana Al-Fatih  Merupakan Salah satu Kader PMII Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dari korp PERISAI (2013). Prodi  PAI . DIVISIONER Pengurus KABID KEILMUAN Priode 2016/2017. Saat ini sahabat Malana menjabat menjadi ketua umum Dewan Perwakilan Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Jember Periode 2017/2018

3 tanggapan untuk “MERAWAT KEBHINEKAAN DENGAN NASIONALISME

  • November 3, 2017 pada 1:50 am
    Permalink

    78201 360926I adore reading through and I believe this internet site got some genuinely utilitarian stuff on it! . 208803

    Balas
  • November 3, 2017 pada 3:04 am
    Permalink

    U.S. stock Market Slips As Investors Prcis Tax Bill Plan – aamsonline.org
    [url=http://aamsonline.org/?p=60]Click here…[/url]

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: