PANDAI BERSYUKUR

“Rezeki sudah diatur Yang Di Atas, Nak. Kita hanya perlu bersyukur akan apa yang kita dapat setiap harinya. Tak usah iri melihat orang lain, karena sejatinya masih banyak orang yang berada di bawah kita, masih banyak orang yang berada dalam kekurangan.”

Ia mengusap kedua wajahnya usai berdoa. Setia pia memanjatkan doa, ia selalu ingat nasihat lama dari kedua orang tuanya. Namanya Safrudin, orang-orang memanggilnya Udin. Ia penjual es wawan keliling, biasanya ia berjualan di perkomplekan dekat rumahnya dan di depan TK atau SD. Ia mengambil topi dan handuk kecil di disamping tempat ia melaksanakan shalat dzuhur, kemudian ia bergegas kembali menuju sepeda gayungnya yang ia parkirkan di samping masjid.

Sebentar lagi ia akan melanjutkan berjualan di depan TK Lestari, tempatnya dulu menimbailmu. Saat ia masih bersekolah di sini, ia dulu juga sering melihat penjual es wawan berjejer di depan sekolah. Ia meletakkan sepedanya di bawah pohon mangga dan duduk di pinggir jalan, menunggu anak-anak pulang sekolah.

“Selamat siang, Wan.” Udin menyapa seorang laki-laki yang berkulit lebih hitam dari dirinya. Laki-laki itu hanya mengangguk tak berniat membalas sapaannya.

Udin hanya diam. Ia sudah biasa diperlakukan seperti itu, bahkan bukan hanya Iwan. Beberapa penjual makanan yang ikut berjualan di depan TK pun selalu bersikap seperti itu kepadanya. Iatak pernah mengambil pusing akan hal tersebut. Baginya sebuah kejahatan tak harus dibalas dengan kejahatan. Sebenarnya ia tahu alas an mereka melakukan hal tersebut kepadanya, ia pernah tidak sengaja menguping pembicaraan Iwan dengan penjual pentol bakar.

“Aku tidak suka jika Udin sering berjualan di sini. Memangnya tidak ada tempat lain apa?” Kata Iwan. Iwan seorang penjual es wawan, sama seperti dirinya.

“Pentol bakarku jarang dilirik orang, mereka lebih suka membeli es wawan si Udin. Memangnya apasih enaknya? Bersih juga enggak!”

Udin awalnya terkejut mendengar hal tersebut, akan tetapi ia berusaha sabar dan menahan amarah. Ia ingat kata-kata kedua orang tuanya dulu, sebelum meninggal karena tsunami. Apapun yang mereka katakana tentangmu, kamu tak perlu membalasnya, Nak. Tugasmu hanya melakukan hal yang bermanfaat bagi dirimu sendiri dan orang lain. Tak perlu pusing terhadap pikiran mereka akan dirimu. Mereka hanya iri dan dengki kepadamu. Mereka seperti itu karena kurang bersyukur kepada Yang Di Atas. Karena sejatinya jika kita senantiasa bersyukur, maka kelegaan akan datang di hati kita. Kita tidak akan sibuk membicarakan rezeki orang lain, karena sudah merasa cukup dengan apa yang menjadi milik kita sekarang. Kau jadilah orang seperti itu.”

 

 

[1] Gita Welastiningtiyas merupakan salah satu anggota PMII Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dari angkatan 2018,  Prodi Pendidikan Bahasa Arab Semester 2

 

%d blogger menyukai ini: