PEMUDA TULI

Oleh : Irwan Giovani Ibrahir[1]

Pemuda selalu menjadi harapan dalam setiap kemajuan di dalam suatu bangsa yang dapat merubah pandangan orang dan menjadi tumpuan para generasi terdahulu untuk mengembangkan ide – ide ataupun gagasan yang berilmu, wawasan yang luas, serta berdasarkan kepada nilai-nilai dan norma yang berlaku di dalam masyarakat.

Pemuda generasi sekarang sangatlah berbeda apabila dibandingkan dengan generasi terdahulu dari segi pergaulan maupun sosialisasinya, pola berpikir, dan cara menyesaikan malasah yang sedang dihadapinya. Pemuda-pemuda zaman dahulu lebih berpikir secara rasional dan jauh kedepan, dalam artian yaitu mereka tidak asal dalam bertindak maupun melakukan sesuatu, tetapi mereka merumuskannya secara matang dan memikirkan kembali dengan melihat dampak-dampak yang akan terjadi. Sedangkan pemuda zaman sekarang masih terkesan acuh terhadap masalah-masalah sosial yang ada di lingkungannya. Telinga mereka masih tuli mendengar tantangan zaman.

Pemuda, masyarakat, para pejabat kini mudah sekali di adu domba, dilingkup organisasi mahasiswa, organisasi masyarakat,  lingkungan kehidupan di negri yang sudah tidak bersaudara lagi.  Sebenarnya apa yang kita lakukan mengapa kita jauh dari perdamaian apa yang kita rebutkan toh nanti akan kembali lagi pada sang pemiliknya. Dulu banyak sekali tempat-tempat ilmiah, wacana-wacana konstuktif. Sekarang apa hanya wacana kepalsuan. Waktu setiap hari mulai terkuras dengan kegiatan – kegiatan yang tidak menciptakan perubah. Lantas kita sekolah Tinggi-tingi untuk apa ketika kita sendiri tidak mengenal potensi kita, tidak mau tahu menahu tentang realita sosial, permasalahan yang ada di negri,  gerakan – gerakan yang mulai hilang membawa perubahan.  Kenapa sih pemuda sok sibuk dengan kegiatan – kegiatan yang tidak ada gunanya.  Lalu kapan kita mulai berkaya. Kita rapat bersama namun kita jarang kerja. Apakah memang telinga kita sudah tuli akan hal itu.

Jatung semakin tak sanggup mendengar berita publik saat ini, otak yang kini semakin malas berkerja, kini ku menjadi orang yang dungu  yang tak tau arah perjalan dunia,  kemana wacana ilmiah ku kemana guruku kemana seniorku.  Kenapa wacana itu menghilang aku rindu hal itu aku rindu pelukan guruku, rindu sahabat/iku para pencakar kebodohan.

Aku adalah pemuda namun aku masih bayi,  yang tidak tahu memilah mana yang benar dan mana yang salah,  bagaimna aku bisa menjadi pemuda terbaik ketika kepedulian generasi tua menghilang.  Yang sesungguhnya nya pemuda terbaik tercipta dari keseriusan generasi tua dalam mendidik, membimbing, membina, memotivasi, memberikan jalan cerah bagi penerus bangsa, bukan pula hanya sekedar kata namun contoh yg baik lah yang kita perlukan.

 

REFLEKSI, 27,07,2017

 

[1] Irwan Giovani Ibrahim Merupakan Salah satu Kader PMII Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dari korp GERANAT (2015). Jurusan MPI .saat ini sahabat irwan menjabat menjadi ketua umum HMPS MPI Periode 2017/2018

 

2 tanggapan untuk “PEMUDA TULI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: