ngày giao dịch không hưởng quyền la gi cách xác định giá mở cửa how much is transaction of binary option tradingview binary com التداول الالكتروني في السودان

POTRET BURAM REVOLUSI INDUSTRI DALAM PERINGATAN HARI TANI

 

Oleh : Irwan Gio[1]

 

Akibat revolusi industri, mayoritas orang pada abad ke sembilan belas, abad kedua puluh, hingga sekarang abad ke dua puluh satu mengalami perpindahan penduduk yang cukup besar dari tempat asalnya di pedesaan dan pindah ke latar perkotaan. Urbanisasi besar-besaran itu, sebagian besar di sebabkan oleh lapangan pekerjaan yang di ciptakan oleh sistem industri di wilayah-wilayah perkotaan.

 

Urbanisasi menghadirkan kesulitan bagi orang-orang yang harus menyesuaikan diri dengan kehidupan kota. Dari gaya hidup mewah, gengsi ( menjaga image atas dasar harta) menjadi prioritas, dan pendapatan cenderung besar. Hal itu menjadi sulit karena masyarakat yang salah dalam mengartikan kebutuhan duniawi. Kebutuhan duniawi di jadikan kebutuhan primer ( kebutuhan utama ), seharusnya kebutuhan primernya adalah akhirat. Dan kebutuhan sekunder nya adalah duniawi.

 

Selain itu, perluasan kota-kota menghasilkan deretan persoalan perkotaan yang tampaknya tidak pernah berakhir, kepadatan berlebihan, polusi, kebisingan, masalah lalu lintas, pengangguran, dan sebagainya.

 

Tepatnya pada Rabu 24 September, diperingati sebagai Hari Tani Nasional. Peringatan Hari Tani mengingatkan kita kepada Reformasi Agraria yaitu penataan ulang atau restrukturisasi pemilikan, penguasaan, dan penggunaan sumber-sumber agraria, terutama tanah untuk kepentingan petani, buruh tani, dan rakyat kecil atau golongan ekonomi lemah pada umumnya. Dengan Tujuan pembaruan agraria menurut UUPA adalah penciptaan keadilan sosial, peningkatan produktivitas dan peningkatan kesejahteraan rakyat untuk mewujudkan tujuan kemerdekaan bangsa yang terangkum dalam Pembukaan UUD 1945 dan terjemahan dari praktek ekonomi negara dalam Pasal 33 UUD 1945.

 

Penjelasan di atas termasuk pengetahuan/aturan untuk membuka mata masyarakat agar peka dalam mengkaji kebijakan pemerintah tentang pembangunan-pembangunan seakan memarjinalkan petani serta mendewakan investasi asing sebagai tonggak perekonomian negeri.

 

Terjadinya urbanisasi besar-besaran, banyak sekali petani yang telah kehilangan mata pencahariannya datang ke kota untuk mencari pekerjaan di pabrik-pabrik atau sentra industri lainnya. Hal ini tentu memperburuk keadaan di kota, penggunaan mesin tentu mengurangi kebutuhan akan tenaga buruh, mereka yang datang dari desa rela menukar tenaganya dengan upah yang sangat kecil demi mendapatkan pekerjaan. Dengan begitu, banyak diantara mereka menjalani kehidupan di kota dengan kondisi tidak layak, baik dalam hal pemukiman maupun kesehatannya.

 

Perspektif tentang desa sebenarnya daerah pedesaan mengandalkan sector bercocok tanam sehingga kualitas udara yang jauh lebih baik. Tidak hanya itu pola hidup pedesaan lebih teratur sebelum matahari terbit orang pedesaan sudah terbangun melakukan kegiatan ber cocok tanam, manfaat diantaranya oksigen di pagi hari berguna untuk mencegah kerusakan paru-paru, memperlancar peredaran darah, memperoleh Kalisium dan Vitamin D untuk tulang, meningkatkan kekebalan tubuh. Maka tak heran jika melihat masyarakat desa kuat-kuat terutama dalam pekerjaan yang berat.

 

Namun soal sengketa lahan seolah persoalan yang tidak bisa di pecahkan dalam kehidupan para Petani/Buruh Tani. Keadaan perkotaan yang selama ini di anggap menjadi tonggak kemajuan zaman. Namun nyatanya menjadi lingkungan yang pelik (aneh). Saat ini sasaran empuk imperealis/feodalis adalah pedesaan. Daerah pedesaan semakin lama akan di jajah dengan cara mengganti pola kebiasaan lama kepada tatanan dunia baru seperti makanan cepat saji, juga pembangunan yang di dalamnya di kemas dengan hiburan pemanja nafsu yang nantinya membuat masyarakat desa luntur akan budaya dan keyakinannya. Pembangunan yang adil dan berkelanjutan semakin gencar menjadi promosi dan praktik Korporasi imperialis dan tuan tanah di Indonesia.

 

Maka pelajaran penting untuk memperingati hari tani adalah masyarakat harus peka terhadap Monopoli dan perampasan tanah rakyat yang terus meluas. Karena menurut bung Karno ” hidup matinya sebuah negara, ada di tangan sektor pertanian negri tersebut, berhentilah infor beras, bawang, garam, dan singkong karena Republik Indonesia negara Agraris dan agar petani kita sejahtera “.

 

[1] Ir Giovani Afklarung  (Irwan Giovani Ibrahim) Merupakan Salah satu Kader PMII Rayon FakultasTarbiyah dan IlmuKeguruandari korp GERANAT (2015). Jurusan MPI. Saat ini sahabat irwan menjabat menjadi Kabid Keilmuan priode 2018/2019 dan mantan ketua umum HMPS MPI Periode 2017/2018.

 

 

1.095 tanggapan untuk “POTRET BURAM REVOLUSI INDUSTRI DALAM PERINGATAN HARI TANI