POTRET PENDIDIKAN MASYARAKAT PINGGIRAN

Oleh : M Husain[1]

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk menumbuh kembangkan potensi peserta didik dan membentuk kepribadian yang baik. Pendidikan merupakan kebutuhan primer dalam segi pengasahakan intelektual peserta didik dan untuk mencerdaskan individu mapun kelompok agar pantang mundur tidak mudah menyerah dan putus asa. Dalam lingkungan pendidikan banyak sekali yang keterkaitan baik dari birokrasi pemerintah sampai kaum ploretar (masyarakat menengah kebawah), dari keseluruhan yang keterkaitan jika saling menyongkong maka tidak menutup kemingkinan  akan terciptanya pendidikan yang berkualitas dan prioritas bagi masyarakat, terjamin dari biaya (terjangkau/gratis), sarana prasarana yang terpenuhi, pendidik yang berkualitas dan profesional, sistem yang disiplin, serta suasana pembelajaran yang baik dan tidak membosankan. Namun bagaimana dengan pendidikan yang ada di Indonesia ? apakah sudah seperti yang di harapkan ? sudahkah semua terpenuhi ? atau bagaimana dengan kualitasnya ?

Banyak sekali  pertanyaan yang timbul dari setiap penduduk masyarakat jika di benturkan dengan pendidikan yang ada di sekitarnya, tanggapan baik maupun miring terhadap pemerintah ataupun birokrasi sekolah tertentu. analisa penulis melalui  kacamata pendidikan formal pendidikan mulai terpeta petakan yang terbagi menjadi dua : pendidikan kaum elitis (kaya) dan pendidikan Masyarakat ploretar (menengah kebawah). Pertama, pendidikan kaum elitis (kaya) merupakan sebuah istana yang mewah untuk memberikan kenyamanan bagi peserta didik maupun orang tua yang kaya agar puas terhadap pendidikannya, dari gedung yang besar, sarana prasarana yang mahal yang bagus, sehingga kaum elitis ternina bobokkan dengan keluarnya biaya yang familiar yang tanpa di rasakan secara langsung oleh mereka. Hal ini merupakan kelumrahan bagi kaum elitis membuang banyak hartanya demi saling menjunjung tinggi martabat masing masing tanpa melihat orang yang lebih membutuhkan uluran tangan untuk mengenyam pendidikan. Kedua, pendidikan masyarakat ploretar yaitu pendidikan atau sekolah untuk masyarakat menengah kebawah dengan bangunan yang biasa tidak mewah bahkan bangunan serta sarana prasarana yang rusak tanpa di perbaiki yang seharusnya tidak layak di gunakan namun tetap di gunakan sebab tidak ada pilihan lain, banyak sekali peserta didik yang di rugikan, kurang wawasan, bahkan ketinggalan zaman karena faktor guru yang kurang berkualitas, faktor tempat yang tidak stabil/tidak nyaman dan lainnya.

Melihat sejarah pendidikan tidak jauh beda dengan kondisi pendidikan di brazil yang berangkat dari kekritisannya tokoh yakni paulo freire yang saat itu terjadi kesenjangan sosial antara yang kaya dan yang tertindas, berangkat dari realitas paolu freire berusaha untuk mengubah kondisi tersebut melalui masuk di tatanan birokrasi pemerintah yang di bantu oleh para ahli fisikiawan, psikologi dan banyak yang lainnya untuk memberikan keadilan bahwa humanis sangatlah urgen.

Penulis mengatakan tidak jauh beda bukan tanpa landasan sebab banyak terbukti dan terjadi hal ini pada pendidikan salah satunya di sulawesi tenggara sudah hampir 20 tahun peserta didik berangkat sekolah menyemberangi sungai tanpa jembatan baik tingkat SD/MI, SMP, dan SMA melalui jalan tersebut sehingga berdampak keterlambatan sekolah, ketakutan, dan minder dengan ejekan karena terkadang kebasahan, 20 puluh tahun tidaklah sebentar bagi masyarakat di bawah, pemerintah yang seharusnya memperhatikan kebutuhan anak bangsa, memberikan bantuan terhadap pejuang bangsa pemuda pemudi Indonesia ternyata memalingkan wajah berpura pura tidak tau seperti tidak terjadi apa apa. Saat ini juga terjadi sekolah pinggiran yang masih belum terhiraukan oleh pemerintah sedangkan sekolah perkotaan di bangun besar besaran untuk mengundangkan peminat bahkan mengundang kaum kapitalis masuk untuk berinteraksi secara tidak langsung. Oleh karena itu, pendidkan harus di lakukan se-adil adilnya tanpa memandangan bulu ataupun asal sebab seluruh masyarakat Indonesia berhak merasakan dan mengenyam pendidikan minimal dua belas tahun.

Khoirunnas anfauhum linnas

Wallahul Muaffieq ila Aqwamith Tharieq

[1] M Husain Merupakan Salah satu Kader PMII Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dari korp GERANAT (2015) Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. Saat Tulisan ini di Terbitkan Beliau menjabat sebagai Pengurus Rayon di Bidang III (Advokasi dan Gerakan) masa pengabdian 2018-2019.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: