Senior PMII Keren

Oleh :Dasukie, Af
🌾Sebagai bagian dari produk pengkaderan PMII IAIN JEMBER, saya harus menulis meskipun ini sangat subjektif dan sepertinya buang-buang waktu saja, ini Hanya amatan dan sepintas pengalaman pribadi saya saat berproses di PMII. Tahun 2003 tepatnya 18 tahun silam saya mulai kenal dengan PMII melalui Bimtest Pra masuk ke STAIN JEMBER saat itu. Saya kagum betul dengan senior-senior PMII yang pinter-pinter saat mengisi acara demi acara di dalam kelas kala itu. Perkenalkanpun bertambah saat saya masuk PMII melalui pintu MAPABA.pintu mapaba telah mengenalkan banyak hal tentang produk-produk yang dimiliki oleh PMII tentu sangat normatif seperti profil, NDP, AD/ART, PO dan beberapa buku monomental yang tulis secara cerdas oleh sahabat seperti mahbub Junaidi, Malik Haramain, fauzan Alfas dan sahabat yang lain.
🌾Perkenalan dengan normatifitas PMII memantik lebih jauh lagi, apa sebenarnya yang ada pada rumah pergerakan itu, memang benar konon PMII anti kemapanan, para aktivisnya punya sytle yang kontra dengan kemapanan, rambut gondrong dan celana bolong-bolong, Free market ideas dan tradisi PMII selalu menemukan Momentumnya, meski radius saya dengan aktivis 98 cukup jauh tetapi cipratan spirit bahkan nuansa intlektual dan pergerakan cukup dinamis. Tidak sedikit dari sahabat-sahabat aktivis didalam tas atau setiap hari kemana-mana bawa buku bahkan teman yang nakal sekalipun bawa buku. Yang saya tahu saat ke Rayon jika ketemu dengan senior pasti ditanya baca buku apa, bahkan kadang disuruh presentasi buku-buku yang telah dibaca. Budaya PMII tidak berhenti dengan pertanyaan buku, budaya itu berkembang dengan menjamurnya studi club atau halaqoh2 yang dikomandani oleh senior-senior. Studi club yang saya tahu tidak lain khusus mengasah intlektual dan setiap minggu arisan giliran presentasi bab antar bab didalam buku. Tradisi ini tidak berhenti disana sayapun dikenalkan dengan cofe morning dan rujak party yang isinya membahas seputar ilmu, politik, dan organisasi.
🌾 Sebagai kader, saya melihat dan merasakan betul para senior saya itu rajin baca buku dan pemikiran-pemikirannya keren-keren, indikasinya saat orasi ilmiah, ngisi seminar, ngisi diskusi dan beberapa forum ilmiah lainnya. Sebagai catatan, senior sekaligus guru saat itu, adalah mereka-mereka para senior dari lintas fakultas, kita bebas belajar pada senior siapa saja tampa ada sekat fakultas dan Prodi,sehingga saya belajar banyak hal pada kompetensi mereka masing-masing. Hampir saat kerayon ada tulisan-tulisan segar yang bisa dijadikan bahan diskusi karena tulisan itu ditulis oleh siapa saja sebagai asupan gizi kader. tradisi menulis bebas itu yang saya bawa sampai saat ini. asupan gizi kemudian berkembang ke warung tempat nongkrong ilmiah para kader-senior, saat itu ada warung bu pilor, bu kana dan bu marem. Disana kita memadu mesra dialektika aktifis, jadi kalau ditanya kuliah dimana mas, Jawabannya di PMII,benar di PMII karena transformasi ilmu hampir berjalan 24 jam dengan prototipe dosen yang berbeda-beda dari para senior.
🌾Hasil olah pikir di PMII kemudian dibawa kekampus untuk didiskursuskan dengan elemen mahasiswa dari berbagai aktivis organisasi lainnya sehingga ruang kelas cukup hidup dengan adu argumentasi dari para aktivis. Saya pribadi sering dibisiki senior agar mampu mematahkan argumentasi dari aktivis lain dan itu wajib katanya, dari itulah jika tidak ada jam kuliah saya selalu parkir diri didalam perpustakaan kampus.hampir para aktivis haus ilmu saat itu, karena dinamika kampus tensinya cukup tinggi dengannya kita dituntut baca dan terus baca.
🌾 Tulisan tidak sistimatis ini bukan hendak membandingkan saya dengan para sahabat karena setiap generasi beda tantangannya, tapi baca (Iqra’) hemat saya bukan soal generasi antar generasi tapi kebutuhan setiap generasi yang dianjurkan oleh Agama, oleh karenanya para sahabat PMII jangan berhenti belajar apalagi masih berstatus mahasiswa kewajiban membaca harus dijalankan biar tampak jelas pembedanya antar PMII dengan bukan PMII karena yang diwariskan senior pada saya adalah membaca dan terus membaca. Saya menulis berdasarkan pengalaman PMII-saya, bagaimana dengan PMII anda, mari sejenak berfikir. Refleksi 54 tahun PMII IAIN-JEMBER, 17 Februari 2021.

%d blogger menyukai ini: