Terorisme Menginisiasi Krisis Politik

Oleh : Irwansyah Giovani Ibrahim[1]

 

Indonesia hari ini menjadi cerminan nyata dari lemahnya koordinasi untuk menanggulangi berbagai bentuk konflik, krisis dan ancaman disintegrasi. Para elit eksekutif tidak satu suara dan tampak berjalan sendiri-sendiri, tanpa payung kepemimpinan yang jelas dan terarah. Saat bangsa membutuhkan kekompakan untuk menepis ancaman disintegrasi, aparat pengawal keamanan seperti tentara dan polisi justru terjebak dalam persoalan pasca sparasi TNI-Polri, baik soal anggaran, rebutan lahan ataupun lainnya. Sementara itu, para politisi sibuk mempertahankan posisi dan makin tidak peduli pada hukum. Ancaman Terorisme yang muncul di tahun Politik (Pemilu) cenderung ditutup-tutupi dan di jadikan bahan polemik. Padahal secara nyata, terorisme telah banyak memakan korban rakyatnya sendiri.

Saat gemparnya Terorisme sempat diskusi dengan beberapa pihak masyarakat dimana ia juga termasuk salah satu Dosen perguruan tinggi Institut Agama Islam Negeri Jember. Menurutnya Terorisme yang terjadi di tahun politik ini tidak mungkin datang tanpa maksud dan tujuan kepentingan politik. Lalu dengan kabar nya aksi teror ini akan Meluas dari setiap kota ke kota hingga provinsi. memang benar adanya di provinsi Jawa Timur sendiri yang awal di mulai di kota metropolitan Surabaya, Sidoarjo dan kabar terakhir kemarin sampai di Probolinggo. Teror berkelanjutan ini seperti Agenda seting yang telah di siapkan beberapa Tahun lalu untuk kepentingan politik. Karena Taktik teror yang di gunakan masih tidak jauh beda dengan kasus politik yang ada yaitu penistaan Agama, Mengatasnamakan jihad Islam. Karena memang di Indonesia yang mayoritas umat Islam dan Gerakan yang menarik/terakomodir yaitu gerakan yang berbau bau keyakinannya (Agama). Tidak hanya dari sudut itu adu Domba Aparat antara Polisi dan TNI sangat Jelas sekali tak lain maksud dari itu semua hanyalah untuk menghancurkan tatanan pemerintahan dan melahirkan kepentingan politik baru. Petugas keamanan Negara yang sedang di racuni konflik akan membuat pondasi sebuah negara Semakin rapuh.

Hal di atas mengingatkan saya dengan Api Reichstag dimana momen saat pemerintahan Hitler, yang terpilih melalui jalur demokratis, akhirnya berubah menjadi rezim Nazi permanen. Inilah pola dasar dari manajemen teror. Api Reichstag menunjukkan betapa cepatnya sebuah negara republik bisa ditransformasi menjadi sebuah rezim otoriter. Dengan modal klaim bahwa kebakaran tersebut adalah kerjaan dari musuh Jerman, Partai Nazi mampu memenangkan pemilihan parlemen pada tanggal 5 Maret 1933. Polisi dan para militer Nazi mulai menangkapi anggota partai oposisi dan menempatkannya di kamp konsentrasi. Pada tanggal 23 Maret 1933, parlemen baru merilis sebuah aturan yang mengizinkan Hitler untuk memerintah dengan dekrit.

Sejak saat itu, Jerman diputuskan berada dalam kondisi darurat hingga 12 tahun ke depan, sampai berakhirnya Perang Dunia II. Hitler menggunakan aksi terror, sebuah peristiwa yang sudah diukur batas signifikansinya, untuk kemudian membangun sebuah rezim terror yang pada akhirnya membunuh jutaan manusia dan mengubah dunia.

Vladimir Putin merengkuh kekuasaan melalui sebuah insiden yang mirip dengan api Reichstag, ia menggunakan serangkaian serangan teror—baik yang riil maupun yang palsu—untuk menyingkirkan segala hambatan menuju kekuasaan total.

Melihat kondisi krisis politik seperti Ini setelah Pilpres 2019 nantinya rekayasa sosial apalagi yang akan populer. Ketika landasan ideologi sudah gagal di cerna. Sedangkan Demokrasi sendiri menurut Filsuf Perancis Jean Jauques Rousseau bahwa demokrasi itu ibarat buah yang menyehatkan namun hanya lambung yang baik yang bisa mencernanya. pertanyaan mendasar lambung kita itu seperti apa ? sehingga gagal mencerna Demokrasi dengan Baik.

Bangsa ini sedang Pingsan, Erosi Nasionalisme, Impotensi Pemerintah, Krisis kepemimpinan Nasional, kecamuk ancaman disintegrasi, Mandulnya Hukum dan sistem peradilan. Parlemen lebih getol mengurusi agenda politik para anggotanya dari pada menyelesaikan Terorisme, ratusan RUU dan berbagai produk regulasi dunia intelijen Indonesia Kacau, tingginya jumlah pengangguran akibat deportasi TKI ataupun PHK telah membawa Indonesia hingga kini belum mampu mempertahankan (Melihat) masa depanya.

DAFTAR PUSTAKA

KAFIR, Kajian Filsafat Radikal

Rocki Gerung, 14 Februari 2018,ILC TV one.

Amrullah Ali Moebin, 2014,Hitam Putih PMII, Malang.

Archer, Jules. Kisah Para Diktator: Biografi Politik Para Penguasa Fasis, Komunis, Despotis dan Tiran. Yogyakarta: Narasi, 2004.

[1] Irwansyah Giovani Ibrahim Merupakan Salah satu Kader PMII Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dari korp GERANAT (2015) Prodi Manajement Pendidikan Islam. Saat Tulisan ini di Terbitkan Beliau menjabat sebagai Pengurus Rayon di Ketua Bidang II (Keilmuan) masa pengabdian 2018-2019.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: