Dunia Mahasiswa Tidak Sekedar Akademik

Oleh : Mohammad Nurul Hidayat[1]

 

Apa sih MAHASISWA?

Sudah tidak asing lagi di telinga kita dengan kata tersebut dan sekarang yang mengemban amanah dari kata “Mahasiswa” adalah kita sendiri. Namun masih banyak diantara kalangan mahasiswa sendiri ketika saya bertanya tentang definisi dari mahasiswa masih ada sebagian yang sulit dalam mengartikan dan sulit dalam membahasakannya. Pengertian mahasiswa adalah sekelompok orang yang menuntut ilmu di suatu perguruan tinggi yang mempunyai identitas diri. Mengapa saya mengatakan menyandang status “mahasiswa” adalah bentuk suatu amanah. Karena identitas diri mahasiswa terbangun oleh citra diri sebagai insan religius, insan dinamis, insan sosial dan insan mandiri. Dari identitas mahasiswa tersebut terpantul tanggung jawab keagamaan, intelektual, sosial kemasyarakatan dan tanggung jawab individual baik sebagai hamba Tuhan maupun sebagai warga bangsa dan negara.

Kebanyakan pendapat dari masyarakat sekitar menilai bahwa mahasiswa itu lebih pintar dan lebih berani dari siswa disebabkan penilaian mereka berasaskan pada seringnya mahasiswa memegang buku yang tebal dan seringnya mengadakan demonstrasi. Namun jika dikaji dari segi kehidupannya utamanya dalam segi keintelektualannya, masih banyak mahasiswa yang tidak sesuai dengan label yang ia sandang. Tidak sedikit diantara kalangan mahasiswa yang masih saja membaca pada saat presentasi, sedangkan presentasi sendiri bukanlah ajang membaca melainkan menjelaskan pokok suatu keilmuan tertentu dengan penyajian bahasa yang diolah dari pengetahuan kita sendiri. Apa penyebab kebiasaan buruk dari sebagian mahasiswa berbuat demikian? Tiada lain hanyalah kurangnya ia dalam membaca buku dan berdiskusi. Lebih mirisnya lagi, kesadaran yang di miliki oleh mahasiswa sendiri perlahan mulai mengkikis dengan adanya kemajuan dunia informasi dan komunikasi. Banyak dari kalangan mahasiswa yang tidak sesuai dengan prosedur dan aturan tentang tugas yang diberikan oleh dosen pembimbingnya. Salah satu contohnya tugas makalah harus bersumber dari buku dan tidak boleh mengcopy paste dari internet. Namun realita yang terjadi dengan kemajuan dunia informasi mahasiswa menyalah gunakan adanya internet. Padahal tujuan dosen melarang mahasiswanya agar tidak mengcopy paste dari internet agar mereka muncul kesadaran bahwa membaca itu penting. Bukan hanya itu, kesadaran dari sebagian mahasiswa terhadap daftar presensi juga lebih diutamakan hingga pada akhirnya kuliah untuk mengisi daftar hadir belaka. Lantas apa bedanya antara mahasiswa dengan siswa sekolah jika kuliah hanya untuk presensi? Mungkin yang membedakan adalah waktu dan tata cara berpakaian saja.

Dunia mahasiswa bukan hanya kehidupan formal di dalam kampus, melainkan dunia mahasiswa kerap disandingkan dengan adanya organisasi bahkan ada sebuah semboyan dari kalangan mahasiswa sendiri “tidak sah menjadi mahasiswa jika tidak berorganisasi.”

Mahasiswa bukan hanya sekedar agent of change, melainkan juga sebagai director of change dalam artian mahasiswa bukan hanya sebagai agen dari adanya suatu perubahan, melainkan ia juga sebagai pemimpin dari perubahan di masa yang akan datang. Selain itu mahasiswa juga berposisi sebagai iron stock, tiada lain menjadi benih-benih pemimpin masa depan bangsa, penentu arah dan tujuan mau dibawa kemanakah bangsa ini dimasa yang sedang dan akan dijalaninya. Dan yang terakhir mahasiswa juga sebagai transformator, penggerak dari adanya suatu perubahan yang memikul beratnya perubahan menuju hal yang lebih baik dari hal yang mungkin baik. Dari tiga unsur diatas maka sungguh tidak sah apabila ada seorang mahasiswa yang tidak ikut bercampur baur dengan adaya suatu organisasi baik di intra kampus maupun ekstra kampus. Karena adanya suatu organisasi adalah sebagai wadah dalam menampung dan mendalami skill, mempelopori adanya suatu kegiatan rutinitas dan sarana dalam membangun komunikasi. Dunia akademisi hanya mengajarkan teori-teori tentang pokok suatu keilmuan tanpa mendampingi persetubuhan dengan adanya teori tersebut

Ketika kita berbicara masalah organisasi, maka kita akan mendengar kata aktivis atau organisatoris, ialah oknum yang mahir dalam berorganisasi. Namun dalam benak kita disaat mendengar kata aktivis, dogma yang telah mendarah daging dikalangan mahasiswa ialah seseorang yang aktif dalam organisasinya namun ia  lalai akan tanggung jawabnya yang masih terikat dengan akademisinya. Dogma seperti itu jangan lagi dijadikan sebagai patokan dalam menilai sesuatu. Karena adanya dogma tersebutlah yang menjadikan sebagian dari mahasiswa takut untuk ikut serta dalam suatu organisasi. Perlu di klarifikasi bahwa bukan adanya organisasilah yang menjadikan mereka lalai akan tanggung jawab yang harus mereka penuhi, melainkan dari oknumnya sendiri yang terlalu mengedepankan faktor diluar tanggung jawab dalam akademisinya.  Sejatinya seorang aktivis atau organisatoris ialah orang yang mahir dan pandai mengatur waktu untuk menjalankan tanggung jawab dalam suatu akademi dan organisasi tanpa melalaikan salah satu diantara keduanya.

Namun jangan jadikan adanya organisasi sebagai suatu cara untuk masuk dalam birokrat tertentu, ada sebagian dari kalangan teman-teman mahasiswa yang ingin menduduki kursi kepemimpinan atau masuk dalam jajaran birokrat kampus, terdapat persyaratan yang harus dipenuhi salah satunya sudah masuk dalam keanggotaan suatu organisasi. Karena adanya persyaratan tersebut, ia mendaftarkan dirinya masuk dalam keanggotaan semata-mata hanya karena ingin menduduki kursi dalam birokrat kampus. Maka hal itu sangat disayangkan, sebab adanya suatu organisasi bukan bertujuan untuk memberikan tumpangan bagi seseorang yang memiliki niat tersendiri dan tidak profesional. Melainkan sudah dijelaskan tadi bahwa organisasi sebagai wadah dalam mendalami skill dan lain sebagainya.

Maka dari itu saya pribadi menyarankan kepada teman-teman, agar jangan menyalah gunakan adanya suatu organisasi. Jangan menggunakan kemeja di kaki.

Dan yang sangat penting bagi siapapun, waktu yang sangat berharga ialah waktu yang telah kita lalui. Apabila kita salah dalam menggunakan berjalannya waktu itu, maka kita sendiri yang rugi bahkan bisa merugikan orang lain. Seseorang akan mendapatkan wawasan yang lebih banyak apabila orang itu mulai membaca. Jangan terlalu sederhana mengartikan kata membaca dengan mengarahkan naluri kita pada teks yang terdapat dalam lembaran buku. Namun membaca yang saya maksud disini bukan hanya membaca buku, tapi juga membaca kondisi lingkungan, membaca alur kehidupan dan memahaminya. Dari hal itulah kita akan mendapatkan wawasan baru

Perlu kita ingat bahwa kehidupan ini hanyalah permainan belaka, apabila kita tidak bisa mengatur baik-baik jalannya permainan kehidupan ini, maka kita lah yang menjadi bahan permainan.

Tak mungkin ada basah jika tidak ada air, kehidupan pun demikian. Tak mungkin kita menyesali hal yang pernah kita jalani jikalau kita melawan rasa malas yang selalu menjadi bayangan dalam proses kita.
Pesan pribadi saya untuk yang telah membaca

“BIASAKANLAH DIRIMU AGAR KAMU TERBIASA DAN MENJADI BISA”

 

Jember, 19 April 2017 – 06:38

[1] Mohammad Nurul Hidayat Merupakan Salah satu Anggota PMII Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dari Korp MAHABBAH (2016) Jurusan PAI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: