KANDANG KEBUSUKAN

 

Oleh : Muhammad Nurul Hidayat[1]

 

Bangsat ialah kata-kata yang tepat untuk seorang manusia yang hanya menutupi parasnya dengan untaian kalimat kebijakan. Banyak sekali orang yang pintar menutupi keburukannya,  yah benar kata pepatah “lempar batu sembunyi tangan”. Semakin dalam kebusukan seseorang yang dilakukannya,  maka semakin banyak kebohongan yang ia lakukan.

Rasa tanggung jawab dalam tiap individu kini mulai memudar dengan adanya keburukan yang dilakukannya sendiri namun ia malu mengakui dan lebih-lebih mempertanggung jawabkannya.  Contoh sederhananya saja ketika seorang mahasiswa masuk ke kelas, masih ada beberapa kalangan yang kuliah hanya dikarenakan adanya presensi kehadiran. Namun bualan lisannya berkata “aku pergi menuntut ilmu”. Bukankah itu adalah sebuah penghianatan pada dirinya sendiri?  Bahkan ada juga kalangan mahasiswa yang masuk kelas,  mengisi absen kemudian bermain gadget.  Mengapa mereka masih tertipu adanya kekangan dari sebuah kewajiban?  Entahlah…  Alangkah baiknya,  kita yang merasa masih demikian utamanya pribadi si penulis ini perlahan mulai menata niat dengan baik diiringi tindakan kita dalam menuntut ilmu agar tidak terpedaya kekangan kewajiban yang menjadikan diri kita berpandangan pada adanya absensi kehadiran.

Masih banyak lagi hal yang tidak sesuai dengan arus realita dalam kehidupan kita,  katakanlah koruptor yang sudah merajalela di kalangan pejabat-pejabat bangsat.  Tak ada guna mereka bersumpah atas nama Tuhan dengan berkata akan memberikan pelayanan pada masyarakat secara jujur dan adil, namun realita yang terjadi di lapangan bukan keadilan yang di terapkan melainkan mereka merauk keuntungan dari adanya jabatan yang ia miliki.  Betapa malang nasib rakyat Indonesia yang pejabatnya telah mengotori kebaikan-kebaikan yang pernah mereka lontarkan dari lisan-lisan hina.  Betapa dusta mereka yang telah melanggar sumpahnya dimasa ia akan menjabat kedudukan yang ia raih.

Kita selaku rakyat harus menjadikan semua kejadian dalam realita ini sebagai bahan pelajaran dan dijadikan pedoman agar kita tidak terjerumus kedalam hal yang sama dengan mereka.  Perlu kita ingat bahwa anjing tidak pernah menjilat air liur yang telah jatuh dari rahangnya.  Mudah-mudahan tulisan ini memberikan manfaat bagi kita semua utamanya bagi pribadi si penulis dan apabila dari kita masih ada yang demikian,  maka tugas kita untuk saling mengingatkan dan saling menasehati

[1] Mohammad Nurul Hidayat /Alung Merupakan Salah satu Anggota PMII Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dari korp MAHABBAH (2016) Jurusan PAI

Satu tanggapan untuk “KANDANG KEBUSUKAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: