KIAMAT BANGSA

Oleh: M. Suhil[1]

 

Kiamat adalah berakhirnya suatu kehidupan di dunia, yakni ketika Matahari terbit dari ufuk barat, atau yang disebut dengan  kiamat Kubro. Semua umat Islam wajib mempercayai akan adanya hari kiamat, karena hal ini merupakan salah satu rukun Iman yang ke-5. Ketika hari kiamat (yaumul akhir) tiba, seluruh makhluk di dunia ini akan mati tanpa tersisa satu pun, kecuali Sang Khaliq, Allah Swt. Alam semesta akan hancur dan menjadi rata seperti tanah hamparan. Dan mereka (ummat manusia) akan dihidupkan kembali di  dunia yang terakhir, akhirat.

Sedangkan kiamat sughra adalah terjadinya bencana-bencana alam di dunia seperti halnya: gempa bumi, banjir, tsunami, dan bencana alam lainnya. Khiamat sughra merupakan salah satu bentuk peringatan dari Allah Swt. kepada ummat manusia ketika mereka lalai  dalam menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Akhir-akhir ini, kiamat sughro (bencana alam) sering menimpa kehidupan manusia, seperti halnya gempa bumi yang terjadi di Lombok beberepa hari yang lalu. Bencana  ini  mengakibatkan robohnya rumah penduduk dan lembaga-lembaga sekolah. Sehingga hal ini berdampak buruk terhadap berlangsungnya hidup dan proses pendidikan.

Sutau bangsa harus mengambil pelajaran dari terjadinya kiamat sughro untuk mencegah kerusakan-kerusakan  yang akan mengakibatkan kerugian terhadap bangsa itu sendiri. Seperti halnya, bangsa yang kurang menginternnalisasikan nilai-nilai sosial dan nilai-nilai agama. sehingga, mereka mudah untuk berprilaku tidak baik dan akan merugikan bangsa lainnya. Seperti halnya terjadinya korupsi massal yang dilakukan oleh 41 dari 45 anggota DPRD di Malang.

Korupsi merupakan salah satu old problem (masalah lama)  yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Namun sampai detik ini, pihak KPK tidak bisa memberantas para koruptor secara keseluruhan. Sehingga, korupsi masih menjadi masalah besar yang membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah, agar tidak menjadi masalah yang berkembang dari tahun ke tahun.

Robert Klidgaard menggambarkan munculnya korupsi dengan teorinya C=M+D-A, (C=korupsi, M= monopoli, D=kewenangan, A=akuntabilitas/bertanggung jawab). Jadi, seseorang atau suatu kelompok  yang memilik hak dan kewenangan kekuasan , tapi tidak mempunyai rasa tanggung jawab akan mendorongnya untuk melakukan kejahatan sosial, seperti halnya korupsi.

 

Syeid Hussain Alattas juga menjelaskan, penyebab korupsi adalah ; rendahnya pendidikan, hukum lemah, kemiskinan, lemahnya pengajaran dan etika, lemahnya pemimpin, keadaan masyarakat. Jika ditinjau dari segi pendidikan, para koruptor bukanlah siswa yang lulus dari Sd. Tapi, mereka adalah orang berpendidikan yang sudah memiliki gelar S 1, S 2, ataupun Doktor. Dengan demikian, mereka termasuk orang yang mempunyai ilmu mumpuni untuk melakukan perubahan yang lebih baik bagi dirinya sendiri, bangsa dan negara. Pada kenayataannya, mereka melakukan hal-hal yang tidak mengandung nilai-nilai pendidikan seperti korupsi. Hal ini terjadi karena lemahnya pendidikan karakter yang melekat dalam dirinya.

 

Menurut hemat penulis, pendidikan karakter harus di lebih diperhatikan dan dikembangkan oleh pemerintah, agar bangsa Indonesia mempunyai karakter atau watak yang baik, seperti jujur, ikhlas dan lainnya.  Sifat jujur merupakan salah satu macam pendidikan karakter yang jarang dimiliki orang berpendidikan seperti sekarang. Sehingga mereka tidak amanah dan tidak bertanggung jawab dalam menjalani suatu kewajiban pemerintahan, seperti anggota DPRD, dan melakukan korupsi. Mereka memanfaatkan kepintaran dan kekuasaannya untuk malakukan keburukan, korupsi. Jika hal demikian tetap dibiarkan berkembang dalam bangsa, maka dapat menimbulkan terjadinya bencana (kiamat) dan kerugian dalam kehidupan bangsa itu sendiri, baik dalam ranah sosial, ekonomi, serta pendidikan.

Menuruy Ki Hadjar Dewantara pendidikan karakter adalah memperhatikan keseimbangan cipta, rasa, dan karsa,  tidak hanya sekedar proses alih ilmu pengetahuan saja atau transfer of knowledge, tetapi sekaligus pendidikan jega sebagai proses transformasi nilai (transformation of value). Dengan kata lain pendidikan adalah proses pembetukan karakter manusia agar menjadi sebenar-benar manusia.

Oleh karena itu, penulis rasa pendidikan karakter sangat perlu  untuk dikembangkan di Indonesia, agar setiap bangsa mempunyai karakter yang baik serta dapat mengaplikasikan nilai-nilai pendidikan.

 

 

[1]  M. Suhil Merupakan Salah satu Kader PMII Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dari korp MAHABBAH (2016) Jurusan Tadris Bahasa Inggris. Sahabat M Zuhil saat ini berproses di Intelektual Muda dan merupakan salah satu Metra Post 2017.

Share this:

 

151 tanggapan untuk “KIAMAT BANGSA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: