MASIH ADA CAHAYA DIBALIK GELAPNYA MALAM


Oleh : Mia Amalia Suvuvia[1]

Tidak apa-apa Ibu lapar, yang terpenting anak ibu kenyang”, Kalimat itu yang terlontar dari mulut Ibuku ketika hanya sebungkus nasi yang ada  diatas meja,aku sendiri hidup berempat, yaitu aku, kakak laki-lakiku, ibu dan juga bapak,iya benar aku memang masih memiliki bapak,tapi semua beban keluarga ibu yang menanggung,bukan karena bapak tak mampu memenuhi atau karena bapak sakit, karena kenyataannya bapak tidak sakit dan baik-baik saja, hanya saja bapak tidak pernah mengerti bagaimana cara bertanggung jawab kepada keluarganya sendiri, kerjanya sendiri hanya tidur dan tidur,sehingga Ibu harus berjuang mati-matian utuk menghidupiku dan kakakku.

Tidak hanya malas, bapak juga tipe orang yang emosional, tidak jarang bapak marah-marah, entah itu kepada diriku, ibu, atau kakakku, keluarga kita kecil, tapi tidak pernah ku temui kedamaian didalamnya, orang bilang rumah adalah istana dan tempat yang menyenangkan, tapi kenyataanya didalamnya hanya kutemui penderitaan yang tak berujung. Tetesan air mata seperti sudah menjadi minumanku sehari-hari dan pertengkaran sudah menjadi film favorit dalam rumahku. Jika orang bilang cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya, maka disitu aku akan berbaris paling depan dan teriak paling lantang untuk mengatakan “Tidak”, entah kenapa sakitnya derita ini membuatku trauma akan banyak hal. Aku sendiri pernah befikir,di masa yang akan datang aku tidak akan menikah, aka hanya perlu bekerja keras dan hanya hidup berdua dengan Ibuku, cukup kita berdua,tidak ada yang lain,sepotong impian yang aku selipkan ketika kesedihan tak kunjung usai.

Perjuangan ibuku sendiri tidak hanya dari situ,Ibu adalah sosok malaikat yang Tuhan kirimkan kepadaku dan kakaku,Ibu bukan orang yang berpendidikan tinggi,karena ibu sendiri hanya lulusan SD,tapi semangatnya untuk menyekolahkan anaknya tidak serendah pendidikannya,semangat yang kuat itu selalu terlihat menyala-nyala dalam wajah letihnya. Aku sendiri masih kelas 1 SMP,dan kakakku akhir kelas 3 SMA ,disitu Ibu mulai bingung ,karena ibu tidak mau jika kakak hanya lulusan SMA, kakak harus bisa mengenyam pendidikan setinggi-tingginya,sampai kakak sendiri mengatakan pada Ibu , “Bu saya tak perlu teruskan pendidikan saya,biarkan saya berkerja saja,agar bisa membantu Ibu mencari nafkah untuk keluarga dan membantu biayaya adik sekolah “, Bukan ibu jika mengatakan iya terhadap perkataan kakak, “Denger Le, selama kaki ibu ini masih bisa berjalan,nafas ibu masih bisa berhembus,sedetikpun tidak ibu izinkan kamu khawatir, tak perlu risau dengan keadaan ini, karena kita masih punya Allah”. Seketika aku dan dan kakak menangis mendengar itu,bagaimana tidak,untuk makan saja kita sulit, tak jarang kita kelaparan, tapi hebatnya semanagat itu tidak pernah ikut kelaparan seperti perut kami,tetap membara tanpa ada tanda-tanda akan redup.

Rencana dan skenario Allah memang tidak bisa di tebak, semua berkat doa-doa ibu yang tak pernah berhenti dan menyerah pada kenyataan,kakaku diterima disalah satu Universitas ternama dengan mengambil jurusan spesialis dokter bedah. Dari situ pulah semangat kerja ibu semakain meningkat,karena Ibu tahu biayaya sekolah kedokteran tidak murah, akan banyak uang dikeluarkan,tapi untuk anaknya itu bukan masalah besar,ibu yakin setiap pintu masalah akan terbuka dengan membawa solusinya. Sebenarnya kakak berencana mencari beasiswa untuk meringankan beban Ibu, tapi Ibu melarangnya,karena Ibu ingin menyekolahkan anaknya dengan hasil keringatnya sendiri, tanpa ada bantuan dari orang lain, karena ibu memiliki anggapan, ketika Ibu berhasil mengantarkan anaknya ke puncak keberhasilan dan itu dari hasil keringatnya sendiri, itu merupakan kebanggaan tersendiri yang tidak bisa dibayar dengan apapun.

Empat tahun berlalu, kakakku menjadi wisudawan kedokteran terbaik dan sudah diminta untuk menjadi dokter di Rumah Sakit ternama di Jakarta, kata syukur tak henti-hentinya kami panjatkan, bagaimana tidak anak dari seorang yang hanya kerja srabutan untuk makan saja harus lari kesana-kemari, sekarang namanya dengan lantang dipanggil dengan predikat wisudawan terbaik.Bercucuran air mata tidak berhenti-henti,kali ini bukan air mata derita lagi,tapi dengan senyum yang melengkung indah,yaitu air mata bahagia. Dengan bangga aku menatap kakakku, dan dengan tubuh ikut bergetar, jantung semakin cepat berdenyut, mulut tak lagi sanggup berbicara karena mata ini melihat kebahagian yang sebelumnya belum pernah aku lihat diwajah Ibuku, dari jauh aku lihat kakak mendekat pada Ibu “ Bu lihat , ini semua kupersembahkan untuk njenegan bu,semua ini adalah jawaban dari doa-doa Ibu,mulai hari ini,detik ini,ibu tidak perlu bekerja, biar saya yang menggantikan ibu sebagai kepala rumah tangga, biar saya bu yang menanggung beban selama ini ibu tanggung, masa kecil ibu sampai sekarang ibu selalu hidup susah, maka biarkan dihari tua ibu, ibu merasakan kebahagian bu, saya hanya ingin melihat senyum di bibir ibu, tanpa ada tangis dimata ibu” ,dengan air mata yang semakin deras ibu memeluk kakak,tanpa henti-hentinya kalimat syukur tidak terputus, bapakpun juga ikut bahagia akan keberhasilan yang dicapai kakak, tapi tiga bulan setelah acara wisuda kakak itu bapak harus pergi untuk selama-lamanya, karena tiba-tiba bapak mendapat serangan jantung dan sekarang hanya tinggal kami bertiga. Kami pun mulai membuka lembaran-lembaran baru, dimana akan hanya kami isi dengan tinta kebahagiaan.


[1] Mia Amalia Suvuvia merupakan salah satu anggota PMII Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dari angkatan 2018,  Prodi Pendidikan Agama Islam Semester 2

%d blogger menyukai ini: