PERAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MENUNTASKAN PERSOALAN MORALITAS

 

Oleh: Rahman SA [1]

Pada suatu kesempatan ada seorang teman yang mengatakan “Jika mau melihat kualitas pendidikan suatu lembaga, haruslah lihat tempat sampahnya”. Pernyataan ini bukan hanya membangkitkan secercah kesadaran, tapi lebih tepatnya menyinggung kita (bagi yang merasa) yang terkadang meremehkan hal sepele yang justru mengakibatkan terjadinya masalah besar. Sudah sering kita lihat di stasiun televisi yang menayangkan banjir, pencemaran, dan virus malaria ataupun flu burung. Kasus seperti ini entah disadari atau tidak, berawal dari hal sepele. Seperti, sampah yang sembarangan dibuang sehingga menjadi tumpukan dan mengakibatkan bencana yang tak bisa kita cegah. Seperti sampah yang di sungai Ciliwung mencapai hingga sepanjang 30 meter dan menumpuk laiknya gunung. (liputan6.com https://m.liputan6.com/amp/3260058, diakses 11 september 2018). Anehnya ada orang yang mengabadikannya karena tertarik kepada bentuknya, rupanya sampah pun ada penggemarnya.

Kasus demi kasus yang merugikan sering terjadi dan oknumnya tak jarang adalah orang yang sudah berpendidikan seperti halnya pembuangan sampah yang sembarangan. Perihal kecesdaan tidak usah ditanya lagi, sebab dimana-mana larangan membuang sampah sembarangan sudah ada, baik tertulis atau memalui ucapan. Missal, larangan yang banyak diserukan oleh orang tua, guru, bahkan pihak pemerintahan. Hal inilah yang menjadi perbedaan antara orang yang mengamalkan ilmunya dan orang yang hanya menyimpan pengetahunnya. Sebab sudah jelas orang berilmu tentu yang sudah mengamalkan ilmu yang diketahuinya, beda halnya dengan hanya sekadar diketahui. Maka patut kita resapi kembali makna dibalik nasehat Al Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah-nya yang menyatakan “Pendidikan jiwa lebih penting untuk ditanamkan sejak dini”. Maksud pendidikan jiwa disini adalah pendidikan yang mengedepankan budi luhur yang menjadi pndasi karakter seseorang. Hal ini harus lebih ditekankan lagi, dan tetap dijaga pencapaiannya hingga dimana. Dalam pepatah madura ditegaskan kembali, bahwa “Oreng muljeh deri akhlakah, benni deri penterrah” (orang yang mulya karena akhlaknya, bukan dari kepintarannya). Pembelajaran yang kita bisa ambil disini adalah betapa pentingnya moral bagi setiap orang, sebab moral bukan untuk dihafal saja tapi lebih dipraktekkan dengan keleluasaan hati dan pikiran.

Realitas yang sering kita jumpai saat ini seakan-akan menggiring kita kepada kebutuhan tersier, bukan lagi primer. Maka tidak jarang para pemuda, bahkan orang tua menggunanakan barang mewah dan selalu ikut tren masa kini. Serta kebiasaan yang lebih memilih mengonsumsi makanan instan. Oleh sebab itu, bisa dikatakan bahwa mereka adalah masyarakat konsumen. Masyarakat konsumen disini tanpa kita sadari sudah menjadi proses terampasnya kreativitas seseorang, dari mau mencipta menjadi duduk santai saja. Dan disinilah timbul rasa malas dalam belajar apalagi berkarya. Untuk hal itu menanaman pendidikan karakter, yang mana bukan saja berguna dalam kecerdasan saja, akan tetapi bagaimana seseorang bisa berbudi luhur. Jika pendidikan karakter sudah tertanam sejak usia dini, maka kematangan mental bukan hanya jasmani namun juga rohani, sehingga seseorang nantinya tidak mudah terjangkit virus hedonis dan semacamnya.

Pendidikan memang menjadi urusan yang pelik dan tidak mudah diubah sedemikian rupa, tahapan dan prosesnya panjang juga dengan pertimbangan yang matang. Maka untuk hal itu kita harus mengahargai usaha yang juga dilakukan dari pihak pemerintahan dalam menuntaskan hal itu. Usahanya dalam dunia pendidikan bisa dilihat dari prodaknya yang berupa kurikulum. Seperti KTSP yang kemudian diganti menjadi K13, tentunya dalam hal ini bukan perkara yang mudah. Jasa yang juga tak kalah pentingnya adalah yang dilakukan para ulama dalam menunjang pendidikan. Maka berdirilah pesantren diamana-mana, maka tak terbayang jika negeri ini tidak ada pestren. Harus berapa triliun lagi biaya yang dikeluarkan pemerintah dalam membiayai pendidikan, sebab dalam banyak pesantren tidak harus bayar uang pendidikan, para santri hanya membutuhkan biaya hidup saja. Seperti makan, pakain dan alat-alat yang dibutuhkan lainnya.

Untuk hal ini, sudah sepatutkan kita mengahargi usaha yang dilakukan dalam membenahi pendidikan. Cara untuk menghargainya ada banyak hal, salah satunya dengan hal paling sederhana yaitu mendidik diri kita sendiri agar lebih baik, sebab dengan selalu berusaha melakukan hal baik, tetntu secara otomatis kita sudah menjadi orang baik. Jika diri kita sudah mampu melakukannya otomatis sudah melakukan pesan-pesan dalam kurikulum yang buat pemerintah dan kitab yang ditulis para ulama. Dalam hal ini yang terpenting adalah dalam hal berbagi, berbagi ilmu dan apapun yang layak untuk dinikmati bersama. Disinilah sesungguhnya pendidikan karakter berlangsung dalam kehidupan sehari-hari dan dalam kelas-kelas masyarakat. Pendidikan karakter dimulai tidak hanya saat mata terbuka, melainkan saat langkah dimulai. Sebab, hidup bukan sekadar rutinitas, tetapi bagaimana kita menebar manfaat.

Persolan demi persoalan diatas hanyalah sebagian dari masalah yang terjadi dikeseliling kita, namun dapat dipercaya dengan mengedepankan pendidikan karakter masalah apapun kita bisa menuntaskannya. Metode demi metode yang dilahirkan adalah rancangan yang belum tentu sempurna. Namun, dalam mencapai pendidikan karakter yang benar-benar tertanam dalam setiap individu, tentu dengan bagaimana cara kita melakukannya. Sebab dalam melakukannya tidaklah selalu sama dalam catatan selintas analisa atau pandangan yang tidak tentu data dan faktanya.

[1] M. Rahman AS Merupakan Salah Kader PMII Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dari Angkatan MAHABBAH (2016) Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. Sahabat M. Rahman saat ini berproses di Intelektual Muda dan merupakan salah satu anggota Metra Post 2017.

75 tanggapan untuk “PERAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MENUNTASKAN PERSOALAN MORALITAS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: