Potret Pendidikan Indonesia

Oleh : Kang Mahmud Zain (Kabid Kaderisasi 2016-2017)

(Mengembalikan Martabat Ke-manusia-an Melalui Pendidikan)

Pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia, pada dasarnya Manusia merupakan pelaku pendidikan sedangkan pendidikan tidak bisa dipisahkan dari proses dehumanisasi. kepedulian terhadap kemanusiaan seketika membawa kita pada pengakuan dehumanisasi, Pemanusiaan menurut pandangan aksiologis, selalu menjadi problema pokok manusia, dan kini persoalan itu harus dipedulikan sungguh sungguh.[1] manusia diciptakan dalam fitrah , namun fitrah ini justru selalu diinjak injak bahkan dikerdilkan lewat ketiakadilan, penindasan dan kekerasan yang dilakukan oleh penindas sehingga perlu ada perjuangan kembali mengangkat martabat kemanusian yang telah lama hilang. Jika ditelaah lebih dalam lagi bahwa yang membentuk karakter manusia salah satunya adalah faktor pendidikan. Tetapi dengan adanya pendidikan juga dapat memperbaikanya begitulah kata Muhtar Lubis. Karakter manusia begitu komplek dinegara Indonesia mulai dari munafiq, hipokrit, hingga feodal. Saya contohkan salah satu karakter manusia Indonesia yang berjiwa feodal dapat kita lihat dalam tatacara upacara resmi kenegaraan jelas dicerminkan dalam susunan kepemimpinan organisasi- organisasi istri pegawai negeri atau pejabat.

Sikap Manusia seperti yang di ungkapkan Muhtar Lubis tentang “ Manusia Indonesia”  Manusia Indonesia masih mempunyai jiwa feodalisme meskipun salah satu tujuan revolusi kemerdekaan Indonesia ialah juga untuk membebaskan manusia Indonesia dari feodalisme, tetapi feodalisme dalam bentuk bentuk baru makin berkembang dalam diri dan masyarakat Indonesia.[2] Seperti itulah karakter manusia Indonesia khususnya para pemangku kebijakan di lembaga pendidikan yang menjalankan misi kaum neoliberalisme. Perebutan posisi structural dan strategis dilembaga pendidikan sering kali terjadi baik di tingkatan kecil di SD hingga perguruan tinggi PT yang berakibat pada penelantaran peserta didik karena disibukan dengan jabatan yang dia miliki, sehingga tidak jarang kemudian muncul lembaga pendidikan baru dengan kapasitas yang tidak memadai dan kualitas yang rendah, lembaga pendidikan begitu banyak dan pesat dibumi pertiwi ini. Mulai dari lembaga pendidikan yang berstatus swasta hingga negeri mulai dari kelas ekonomi hingga kelas bisnis. seperti yang diberitakan oleh Harian jogja. com, 16 03 2016   bahwa biaya pendidikan perbulan hingga mencapai jutaan rupiah. Tujuan negara mengeluarkan biaya tidak lain adalah agar para peserta didik bisa menikmati dunia pendidikan secara gratis yang kemudian muncul peraturan wajib belajar 12 tahun namun karena banyaknya korupsi di dunia pendidikan sehingga sekolahpun kekurangan dana yang berakibat pada pungli dimana mana. Mudahnya Perijinan pendirian sekolah menimbulkan masalah baru yaitu proses kapitalisasi pendidikan seperti mahalnya uang pendaftaran dengan  ini kekuasaan yang legal berarti telah mendirikan sekolah sekolah demi kepentingan kapitalistik.[3] Keadaan seperti inilah kemudian harga sekolahpun membengkak, dan menimbulkan korupsi terjadi di institusi pendidikan

Menyoal pendidikan dalam transfer pengetahuan tak lagi ada rasa kemanusiaan, proses pendidikan yang terjadi yang ada hanya penindas bagi mereka yang tak mau belajar, sehingga Pengetahuan diproduksi yang diajarkan kepada siswa bukan menjadi pengetahuan yang objektif, melainkan pengetahuan yang mengandung dominasi budaya yang disusun melalui proses selektif tertentu dangan memasukkan kepentingan kepentingan oknum tertentu. Mazhab frankurt menyebutkan dengan konsep cultural industries yang menggambarkan industrialisasi dan komersialisasi dari budaya dalam relasi produksi kapitalis.[4] Oleh karena itu peran pendidikan sudah tidak lagi netral. Dimensi politik disekolah sangat keras terjadi, guru memandang bahwa sekolah adalah tempat yang baik dan netral.[5] Pendidikan gaya bank dimana peserta didik dicekoki pengetahuan oleh seorang guru dengan tidak memberikan ruang kepada peserta didik untuk berkreasi atas apa yang dia miliki atau peroleh pada sumber sumber lain selain di bangku sekolah sementara guru menganggap bahwa murid bodoh dan tidak tahu sama sekali.

Mengingat soal akan pendidikan merupakan investasi negara terbesar, persoalan pendidikan terus berlanjut yang tak pernah usai mulai dari peringatan hari pendidikan yang dimeriahkan oleh banyak kalangan mulai dari siswa, guru, mahasiswa hingga pemerintah, banyak rangkaian acara dalam hari pendidikan mulai dari mengelar petisi tanda tangan untuk pendidikan, lomba puisi, upacara, bahkan ada juga penggalangan dana untuk lembaga pendidikan hingga penghayatan tentang pendidikan. Isu full day scholl yang baru saja menjadi tranding topic yang di wacanakan oleh muhajir selaku mentri pendidikan dan kebudayaan, yang mengeruhkan proses pendidikan di disemua elemen mulai dari praktisi, pesantren, sekolah, guru, dinas pendidikan bahkan mahasiswa di jurusan pendidikan sehingga menimbulkan keresahan yang begitu besar dimasyarakat yang tak pernah terpirkirkan oleh kementrian pendidikan.

Belum lagi persoalan aturan di berbagai perguruan tinggi tentang aktivitas mahasiswa yang kini dibatasi oleh kampus seperti di larang mekakun aktifitas melebihi jam 21.00 dalam hal ini menurut penulis yaitu aturan tersebut sebagai bentuk (pengekangan) membatasi ruang gerak mahasiswa dalam ranah pengembangan skill maupun potensi yang dimiliki yang di kembangkan di Organisasi, termasuk juga membatasi kerangka berfikir mahasiswa diskusi intelektual yang mengakibatkan paradigma berfikir kritis transfomatif mulai bergeser terhadap paradigma structural fungsionalis nilai kekritisan mahasiswa terhadap dunia akademik maupun terhadap negara menjadi tumpul bahkan tak ada sehingga tidak akan pernah dijumpai lagi evaluasi dan rekonstruksi sistem yang amburadul. Inilah alasan yang logis kenapa mahasiswa dilarang melakukan aktivitas pada malam hari, termasuk doktrin yang dilakukan oleh para dosen untuk melarang mahasiswa mengikuti organisasi karena dosen takut dikritik oleh para mahasiswa aktivis.

Komersialisasi pendidikan kerap terjadi di lembaga pendidikan seperti pembuatan kartu ATM dengan merek Bank tertentu hal ini sudah menyalahi tujuan dari pendidikan karena dalam prosesnya ada praktik penjualan peserta didik kepada perusahaan dan pembelian peserta didik dari perusahaan terhadap lembaga pendidikan, pemanfaatan seperti kasus inilah yang kemudian menjatuhkan fitrah kemanusiaan dan selalu terjadi di dunia pendidikan.  Kejadian penjualan peserta didik kerap kali terjadi dengan secara tidak sadar bahwa peserta didik dijual kepada perusahaan karena berkat jasanya yang dilakukan oleh para pegawai pendidikan di perguruan tinggi maupun dilembaga sekolah.

Maka dari itu perlu kita sejenak merefleksikan kembali lagi tentang bagaimana potret pendidikan pada saat ini, Pendidikan tak ubahnya seperti pasar, dimana ada penjual pasti ada pembeli inilah yang membuat pendidikan berpaling dari tujuannya seperti yang dikatakan oleh Salah satu tokoh pendidikan bahwa “ Pendidikan memiliki kekuatan politis dan ideologis dalam mengusung agenda perubahan sosial. Maka tak bisa dipungkiri bahwa institusi pendidikan selalu dijadikan medan dalam melanggengkan kekuasaan. Menjadi sebuah keniscayaan bahwa pendidikan mulai kehilangan fungsinya sebagai medan transformasi sosial dan mendidik masyarakat. (Paulo Freire, 1968).  Maka perlu ada perhatian yang serius terkait masalah pendidikan ini, baik dari kalangan pemerintah, masyarakat dan mahasiswa pendidian (tarbiyah dan ilmu keguruan) khususnya.

Indonesia dalam setiap tahunnya selalu mendapatkan juara olimpiade dalam pelaksanaanya. Namun apakah kemudian dengan kemenangan para peserta didik kita ini sudah menjadi indicator bahwa pendidikan Indonesia sudah berhasil ? pemberian anggran pendidikan yang selalu bertambah dilembaga pendidikan pada tahun 2010 penerimaan dan anggaran pendidikan nasional 2010 dan 2014 yang naik drastis pada tahun 2010 anggaran pendidikan sebanyak Rp 83.687,15 M dan pada tahun 2014 Rp 128.898,37 M[6] namun pemerataan pendidikan di Indonesia sangat memperhatikan dan sangat jauh dari harapan. UU sisdiknas hanya jadi impian belaka yang tak mungkin menjadi kenyataan. Bapak ki hajar dewantara pun menangis melihat pendidikan di Indonesia yang semakin lama berada dalam keterpurukan.

Moralitas peserta didik yang jauh dari harapan yang kini semakin rusak dan mengakar di masyarakat, belum lagi permasalahan mahalnya biaya pendidikan yang melambung tinggi sehingga membuat pola kesenjangan dalam dunia pendidikan yang semakin Nampak dan jelas.[7] Pendidikan yang bermutu hanya dimilki oleh mereka yang memiliki banyak uang, dalam pepatah jawa sangat popular mengatakan “jer basuki mowo bea” (kemajuan- kemuliaan membutuhkan biaya) dalam konteks inilah munculnya sekolah sekolah mahal bertarif nasional baik sekolah negeri maupun sekolah swasta.[8] Gejala gejala sosial dari dampak itupun kini menjadi sorotan dalam media massa, sampai seorang ibu melacurkan diri demi membayar biaya sekolah anaknya. Inilah potret kecil pendidikan di Indonesia yang seharusnya pendidikan menjadi hak setiap warga Indonesia khususnya rakyat miskin. Namun pada realitanya, semuanya bertentaangan dengan amanat konstitusi yang termaktub dalam UUD 1945 mengenai hak setiap rakyat dalam mendapatkan pendidikan. Sebagai kaum intelektual perlu mengevaluasi bersama atas segala pencapain pembangunan nasional khususnya dalam pendidikan.

Salam pergerakan !!!

[1] Paulo freire, ivan illich, eric fromm, menggugat pendidikan, pustaka pelajar, 2015  jogjakarta

[2] Mochtar lubis Manusia Indonesia Yayasan Obor Indonesia 2016 jakarta.

[3] Toto Suharto, pendidikan berbasis masyarakat, relasi Negara dan masyarakat dalam pendidikan, lkis 2012 jogjakarta.

[4] Rakhmad hidayat, pedagogy kritis, rajawali press 2013 jakarta

[5] Rakhmat hidayat, pedagogy kritis, sejarah,pembangunan dan pemikiran, 182 rajawali press 2013.

[6] Darmanigtyas, Edi subkhan manipulasi kebijakan pendidikan, resist book 2012

[7] Syaifuddin, Tan malaka merajut masyarakat dan pendidikan Indonesia yang sosialistis arruz media 2012 jogjakarta.

[8] Ahmad arifi, politik pendidikan islam, teras 2010 jogjakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: