RAWIS BIRU

 

Oleh: Siti Sulaikha[1]

 

Entah apa yang dapat aku perbuat setelah ini, penyemangatku tumbang. Mentari tak lagi bersinar di pagi hari dan rembuan tak lagi bertandang dimalan hari. Kali ini aku benar-benar rapuh. Mungkin ada ribuan ton batu, atau bahkan mungkin jutaan, menghantam batinku. Dan semuanya mulai berkabut, menutup penglihatanku, dan terus berkelana di pipiku. Kenapa harus terjadi kepada keluargaku?.

Malam takbiran kali ini meriah dengan cara yang berbeda. Tahun lalu, penuh dengan tawa yang menghias ruang tamu digubuk sederhanaku. Kenapa malam ini berbeda? Tangis terngiang disetiap sudut rumahku. Aku, sebagai anak sulung harus melihat kedua orangtuaku terbujur kaku disamping kanan dan kiriku, ya! Aku berada di tengah-tengah mereka. Apa aku kuat? Tidak! Lentera yang selama ini ku genggam hilang terbawa laron yang menari riang.

Kala itu aku merengek layaknya anak kecilmeminta jilbab rawis warna biru yang rencananya akan aku pakai besok untuk merayakan hari raya. Mengenakan batik keluarga warna hitam dengan motif bunga warna biru akan terlihat cantik bila dipadukan dengan warna biru. Ya! Pikirku akan terlihat sebahagia keluarga kaya walau pada nyatanya kauargaku adalah kuluarga sederhana yang hanya mengandalkan keharmonisan. Aku sangat ingin melihat semua anggota keluargaku tertawa lepas dimalam kemenangan ini. Namun, sekarang semua itu hanya hayalan belaka, aku hanya dapat melihat bayangan kebahagiaan itu dalam pekat malam yang mulai mencekam. Dan sekarang, bukan tawa yang kulihat di ruang tamu ini, melainkan tetesan air mata yang terus berkelana.

Kenapa aku harus melihat kejadian ini? Dimana kedua orang tuaku kecelakaan. Kenapa aku harus melihat kedua orang tuaku terkapar tak berdaya di tengah jalan raya? Tubuhku lunglai, melihat darah segar yang terus mengalir dari wajah ibuku dan luka-luka parah lainnya ikut menghujam hatiku. Apa benar ini ibuku? Benarkah di balik darah yang terus memuncrat itu adalah wajah ibuku? Aku tak sanggup. Aku berlari menghampiri kedua orangtuaku yang entah bagaimana keadaan mereka. Kuusap secara perlahan darah yang terus mengalir diwajah ibuku dengan jilbab hitamku, dan apa yang kulihat? Wajah ibuku yang mulai memucat dan bibirnya mengucapkan sesuatu yang sulit kudengar.

“nak…aa..yyyaaaahhhhh…. mmuuu baa..baagai..mana?”

Tuhan… bagaimana dengan Ayahku? Kuhampiri kerumunan orang di sebelah kanan jalan raya. Mencoba menembus kerumunan itu sebisaku, dengan tubuh mungilku aku berhasil menerobos kerumunan itu dan.. apalagi ini? Tuhan hadiahkan aku apa kali ini? Ayahku yang tak sadarkan diri, Walau tanpa luka serius yang menimpa ayahku, tapi aku tak lagi mendengar jantungnya berdetak. Aku benar-benar mati rasa untuk kali ini.

“AYAHHH!!!!!!!!!!” aku berteriak selantang yang aku bisa, berharap ayah dapat mendengar dan membuka kembali kedua matanya. kabut itu masih saja berkeliaran di bola mataku, apa ini? Apa aku salah bila berkata bahwa Tuhan itu tidak adil? Kenapa Tuhan mengambil penyemangatku dengan cara seperti ini? Aku tak bisa hentikan tangisku, Ayahku benar-benar tak bergerak.

Mobil Ambulance mendekat dari arah timur, kerumunan orang bergegas membopong ayah kemudian ibuku untuk dibawa kerumah sakit, dalam ambulance hanya ada aku, adikku satu-satunya, yang hanya diam dalam tangis melihat ayah dan ibu yang tak sadarkan diri.

Sesampai di rumah sakit enam suster membantu mengeluarkan ayah dan ibuku dari mobil ambulance, membawa keduanya ke ruang UGD. Aku tak lagi mampu memijakkan kakiku di atas lantai rumah sakit, aku hanya mampu bersimpuh di lantai di depan pintu ruangan ayah dan ibuku menunggu dokter keluar, berharap memberi kabar yang takkan membuat hatiku lebih pilu dari sekarang ini.

“kak, apa kita tidak perlu menelvon tante?” tanya adikku dengan mata bengkak karena habis menangis.

“astaghfirullah!! Kenapa aku bisa lupa untuk memberi kabar kepada orang rumah. Segera kuambil handphoneku lalu ku cari nama tante di kontak HP ku. Lalu menelvonnya.

“Tante” panggilku dengan suara serak.

“Kamu kenapa hel? Ada dimana? Kenapa suaramu begitu parau?” tante lansung menyergapku dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak mampu ku jawab. Aku hanya bisa menjawab bahwa aku sedang berada di rumah sakit sebab ayah dan ibuku kecelakaan dalam perjalanan kepasar karena ingin membelikanku jilbab rawis warna biru. Tante langsung bergegas ke rumah sakit menyusulku dan adikku.

Beberapa menit setelah itu tanteku datang, berlari tergopoh-gopoh menyusuri lorong rumah sakit dan lansung memelukku dan adikku, tangisnya pun pecah sesaat. Lalu dokter datang.

“apa anda keluarganya?”

“iya dok, saya anaknya. Bagaimana keadaan orang tua saya dok?” tanyaku tak sabar pada dokter

“ibu anda baik-baik saja, hanya saja tangan kirinya patah. Akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk pulih kembali, luka-lukanya juga sangat parah. Dan bapak anda masih koma” jelas dokter.

Tanpa tau  apa yang dokter katakan selanjutnya aku langsung berlari menghampiri ayahku yang terbujur kaku di ranjang dan adikku menghampiri ibuku sementara tanteku masih berbincang-bincang dengan dokter di luar.

“Ayah, kenapa ini harus terjadi? Ayah harus bangun, Ahel yakin ayah kuat. Bukankah selama ini ayah yang selalu jadi penguat Ahel? Dulu ayah berkata bahwa sakit itu tidak ada dalam kehidupan ayah, kenapa sekarang ayah malah sakit?” aku hanya mampu berkata dengan hatiku, berharap ayah mendengarnya.

Tante datang dengan linangan air matanya dan ia langsung memelukku. “kau harus kuat nak, Allah sedang menguji kita. Dan itu berarti Allah sayang kita”

Aku hanya mengangguk, mencoba untuk tegar, walau aku tahu, aku takkan bisa melakukanya.

“kita harus membawa pulang kedua orang tuamu. Kita akan merawanya di rumah. Dan alat-alat rumah sakit yang masih mereka butuhkan akan dibawa pulang kerumah. Tidak mungkin mereka tetap disini karena besok sudah Lebaran.”

Aku sedikit tersentak mendengar ucapan tante “ Apa? Bagaimana mungkin Ayah dirawat dirumah sedangakan keadaannya masih koma”

Di sini, di rumahku yang sangat sederhana. Aku berada di tengah-tengah ayah dan ibuku. Memohon kepada tuhan, semoga malam ini ada keajaiban. Aku ingin melihat senyum kedua orang tuaku dimalam takbiran ini. Kenangan tahun lalu terbayang di kepalaku, setahun yang lalu kita bertakbir bersama, tertawa bersama merayakan kemenangan. Tapi malam ini, berbeda 180 derajat.

 

[1] Siti Zulaikha / Lee  Merupakan Salah satu Anggota PMII Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dari korp MAHABBAH (2016), Prodi Tadris Matematika Semester 3. Sahabati Lee saat ini berproses Intelektual Muda dan  Anggota Metra Post Angkatan 2017.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: