REVOLUSI PEMBEBASAN

Oleh : Nurul Hidayat[1]

 

Dalam dunia mahasiswa terdapat sebuah lagu yang menjadikan paradigma berfikir para mahasiswa untuk selalu membaurkan jatidirinya pada kehidupan masyarakat yang sering tertindas. Ialah revolusi pembebasan termasuk salah satu diantara sekian banyak lagu yang esensi dari lagu tersebut mengajak mahasiswa untuk bersatu menyuarakan rintihan-rintihan rakyat jelata yang masih saja tidak mendapatkan apa yang harusnya di dapatkan.

Kini Indonesia bukan lagi zaman orde baru yang kehidupannya tidak terlepas dari kekangan dan tuntutan birokrat pemerintah yang menggunakan jabatannya sebagai senjata kekuasaan. Namun kehidupan masa kini adalah masa demokratis yang setiap warga negaranya boleh menyuarakan segala sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan rakyat Indonesia. Namun sayangnya, fakta yang terjadi di lapangan bertentangan dengan ideologi berbangsa rakyat kita. Kata DEMOKRASI kini hanya sebatas terucap di lisan dan tertulis dalam lembaran putih oleh tinta berwarna. Apa yang terjadi dengan pejabat kita kini? Apa yang mereka inginkan sehingga banyak suara rakyat yang tidak mereka dengarkan atau mereka yang pura-pura tidak mendengarnya?

Pabrik semen di desa kendeng kini seolah tak menyiksa rakyat jelata disana, perlahan terkikiskan oleh adanya konflik-konflik baru yang menjadikan rakyat semakin bingung, yang mana harus dibela dan yang mana harus di tuntut. Karena pemerintah masih saja tuli atas sekian banyak teriakan dan rintihan rakyatnya. Isu-isu mengenai perpindahan ibukota dikarenakan masalah kemacetan yang dulu cetar membahana kini sudah mulai surut yang endingnya pun entah bagaimana.

Dari banyaknya masalah yang terjadi di Indonesia, kini muncul lagi permasalahan baru yang menjadikan rakyat Indonesia terusik oleh munculnya keputusan mengenai Full Day School oleh Kementrian Pendidikan dan Budaya. Apa yang sebenarnya mereka inginkan? Akankah pemuda masa kini dituntut untuk terus menerus menalarkan akalnya demi tuntutan pendidikan yang harus dipenuhi, sedangkan sudah kita ketahui Indonesia adalah negara terbanyak peduduk islamnya se dunia. Apabila full day school tetap dilaksanakan, sedangkan pendalaman keilmuan masalah agama dikurangi sebab banyaknya materi keilmuan umum, apa yang akan terjadi pada generasi masa mendatang? Sedangkan kini saja masih saya temukan mahasiswa maupun siswa setingkat sekolah menengah atas yang tidak fasih dalam membaca alquran. Bagaimana jika FDS dilaksanakan? Maka kerancuan dalam mengimplementasikan pendidikan agama utamanya sekolah madin (madrasah diniah) pada tiap jenjang generasi.

Mahasiswa adalah salah satu senjata yang dapat menghancurkan ketidak adilan yang terjadi di negara kita ini. Revolusi adalah perubahan yang mendasar dalam suatu ketentuan yang tidak sesuai dengan apa yang di inginkan. Kita selaku mahasiswa harus menjadi garda terdepan dalam menjunjung tinggi nilai demokrasi di Indonesia.

Apabila usul di tolak tanpa di timbang, suara di bungkam, kritik dilarang tanpa alasan maka hanya ada satu kata, lawan !

Jangan jadikan lagu “Revolusi Pembebasan” sebatas iringan lagu belaka, namun resapi tiap kata dengan makna yang dalam. Hadirkan jiwa pemberani yang siap memberantas ketidak adilan di bumi pertiwi. Kehidupan kita kini adalah Indonesia baru tanpa orba. Tanpa tindihan pejabat yang otoriter dalam menjalankan tugas negara yang semua tugas itu semata demi kenyamanan kita selaku rakyat Indonesia.

Sekali bendera di kibarkan

Pantang untuk di turunkan

Hentikan ratapan dan tangisan

Mundur satu langkah adalah bentuk penghianatan.

 

[1] Mohammad Nurul Hidayat /Alung Merupakan Salah satu Anggota PMII Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dari korp MAHABBAH (2016) Jurusan PAI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: