REKONTRUKSI PENDIDIKAN, SAMBUNG LIDAH TANMALAKA

Oleh :Ir Giovani Afklarung[1]

 

Keguncangan dunia pendidikan, dimulai ketika mendapatkan kritikan yang tajam dari berbagai tokoh pendidikan.  Nilai pendidikan yang penuh kebajikan. mengandung juga bentuk-bentuk penindasan. Gagasan-gagasan pemikiran Tan Malaka sangat dipengaruhi oleh banyaknya tokoh-tokoh diberbagai bidang terutama bidang filsafat. Diantaranya : Friedrich Nietsche, Karl Marx, Hegel, dan Engel, yang kemudian menginspirasi melahirkan pemikiran-pemikiran dalam konteks pendidikan maupun kemerdekaan Indonesia. Menurut Tan Malaka “pendidikan untuk rakyat Indonesia harus berakar kepada budaya Indonesia yang terus digali dan  disampaikan dengan Bahasa Indonesia, dimana prinsip kerakyatan adalah landasan filosofis dalam praksis pendidikan yang sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia.

Pendidikan tidak dapat terpisah dalam mempelajari hakekat realita yang merupakan pusat dari setiap konsep pendidikan (Fridiyanto, 2009). Pentingnya hal tersebut mengingat program pendidikan sekolah didasarkan atas fakta dan realita, bukan atas keinginan menjadi kaum pemodal dengan proses pendidikan yang didasarkan kemodalan.  sistem pendidikan telah memerangkap peserta didik dalam tekanan pemfokusan pada pelajaran. Banyak kebijakan pendidikan nasional yang tidak memperhatikan peserta didik sebagai mahluk sosial. Kaum intelektual masih banyak terpenjara di kampus dalam idealisme dan teori-teori.

Kehidupan kaum intelektual seakan bertembok dengan kehidupan bermasyarakat. Hal tersebut bertolak belakang dengan prinsip Tri Dharma
Perguruan Tinggi. Perguruan tinggi sebagai wadah kaum intelektual belum bisa diandalkan sebagai agen perubahan ketika secara individu mereka masih berpikir bahwa kelas mereka lebih tinggi daripada masyarakat banyak yang bergelut dengan kerasnya kehidupan sekedar mempertahankan hidup. Fenomena melunturnya nasionalisme dapat dijadikan sebuah premis bahwa penanaman pemikiran kebangsaan, keindonesiaan belum terselenggara dengan baik. Betapa mengerikan kondisi Indonesia di masa beberapa tahun mendatang, ditengah arus informasi teknologi dan budaya pop hedonisme, generasi muda terjebak dalam perangkap ketidakpastian.

Pentingnya rekonstruksi pendidikan khususnya dalam dunia mahasiswa sangat dibutuhkan, sehingga mampu dan dapat mencerminkan kehidupan dan perannya. Kalangan pelajar maupun aktivis kampus agar dapat segera lepas dari cengkraman sistem pendidikan yang menindas ekonomi masyarakat, membuat luka etika bermasyarakat, menumpulkan nalar kreatif dari seorang pelajar. Belum lagi pemuda yang kini meniru polah hidup peperangan para elit politik yang tak pernah usai bermain dengan hangatnya kepentingan kelompok, aspek perdagangan, psumberdayaan dan banyak lainnya.

Kenyataan mendasar bagi universitas adalah pengakuan lebih luas bahwa pengetahuan baru adalah faktor terpenting dalam pertumbuhan ekonomi dan sosial. Kita baru saja melihat produk tak terlihat di universitas, pengetahuan bisa menjadi unsur terkuat dalam kebudayaan kita, memengaruhi jatuh dan bangunya pelbagai profesi, kelas sosial, wilayah, bahkan bangsa dan negara. Di dalam lingkungan akademis sebenarnya tidak perlu adanya peperangan yang menciptakan kemaksiatan intelektual, artinya ke idealisan atau kekritisan para pemikir hanya di gunakan untuk mengambil keuntungan yang bukan hak miliknya. Seharusnya dimana seorang ilmuwan saling menghormati. Dari realita pendidikan yang masih di penjarakan eksistensi dalam kehidupan ini perlu adanya gerakan progresi dari kalangan guru, dosen, atau Generasi tua untuk selalu memberikan segala metode penyadaran bagi generasi muda. Mungkin dengan merasa sedang dalam perjalanan atau berada di suatu tempat, dimana selalu terdapat kemungkinan penjelasan dan keterbukaan baru, perasaan inilah yang harus di komunikasikan kepada anak didik jika kita ingin menyadarkan mereka akan situasi mereka dan mendorong anak untuk memehami dan menamai atau memaknai dunia.

 

 

[1]Ir Giovani Afklarung  (Irwan Giovani Ibrahim) Merupakan Salah satu Kader PMII Rayon FakultasTarbiyah dan IlmuKeguruandari korp GERANAT (2015). Jurusan MPI. Saat ini sahabat irwan menjabat menjadi ketua umum HMPS MPI Periode 2017/2018 dan menjadi PJ Ke-Ilmuan Korp serta aktif dalam tulis menulis Intelektual Muda.