SATU KESATUAN

Oleh : M. Suhil[1]

 

Seorang Mahasiswa yang aktif dalam sebuah organisasi biasanya tidak terlepas dari aktivitas saling tukar menukar pikiran dalam membahas sebuah tema yang mereka angkat untuk merangsang intelektualnya dengan cara berdiskusi.  Bahan pokok diskusi yang mereka bawa ke dalam forum bukanlah makanan ataupun minuman,  melainkan buku-buku ilmiah yang mereka baca sebelum terjun kedalam forum diskusi agar bisa menyampaikan pendapatnya sendiri dan diperkuat dengan pemikiran-pemikiran seorang tokoh sehingga pendapatnya logis,  tersusun,  dan bisa diterima oleh peserta diskusi lainnya. Tapi,  apabila mahasiswa berdiskusi tidak bermodalkan bahan bacaan bagaikan air tawar, karena tidak ada hal yang menarik akan pendapat yang mereka sampaikan.

Seorang Mahasiswa aktivis tidak akan merasa cukup apabila hanya mencari ilmu di dalam kelas. Kapanpun dan dimanapun mereka tetap bertukar pikiran. Kadang mereka nimbrung bareng di warung warung dengan ditemani secangkir kopi hangat dan sebatang rokok. Selain buku bacaan,  itulah bekal mereka dalam menikmati jalannya forum diskusi. Ataupun nimbrung di halaman kampus dengan membentuk sebuah lingkaran kecil. Ruang dan waktu bukanlah halangan bagi mereka untuk memperdalam keilmuannya.

Kemaren malam,  tiga mahasiswa duduk bareng berbentuk lingkaran dihalaman kampus. Mereka mengangkat tema tentang keilmuan dan pergerakan yang memang menjadi ciri khas seorang Mahasiswa aktivis. Salah satu dari mereka bertanya kepada seniornya. Apa pentingnya keilmuan dan pergerakan bagi mahasiswa?. Senior itu menjawab dengan detail dan dengan sebuah gambaran yang mudah di pahami. Keilmuan dan pergerakan itu adalah satu kesatuan yang tidak bisa di pisahkan, karena ilmu tampa dibuktikan dengan gerakan bagaikan makan tampa garam,  sedangkan pergerakan tampa didasari dengan keilmuan bagaikan orang jalan yang tidak mempunyai tujuan yang pasti. Jika kita hanya berilmu tapi tidak bergerak,  kita bisa diibaratkan dengan orang yang  kelaparan, dia tau bahwasanya nasi itu bisa mengobati rasa laparnya, tapi tidak mau makan nasi yang sudah berada dihadapannya. Jadi,  nasi itu tidak akan pernah mengobati rasa laparnya karena tidak mau memakannya. Sama halnya dengan orang yang berilmu tapi tidak memanfaatkan ilmu yang telah dimiliki. Mereka hanya terus menerus mencari ilmu sedalam-dalamnya tapi tidak pernah mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh di kehidupan sehari-harinya. Maka ilmu itu tidak ada gunanya bagi dirinya sendiri. Malahan ilmu itu hanya mengakibatkan kita berdosa karena tidak mengamalkan ilmu yang telah kita dapatkan. Sedangkan pergerakan tampa keilmuan digambarkan seperti orang yang naik sepeda tampa setir. Gerakan itu bagaikan kendaraan, sedangkan ilmu bagaikan setir kendaraannya. Bagaimana mereka bisa mengkondisikan laju sebuah kendaraan tampa menggunakan setir. Mereka hanya akan terombang ambang dalam kendaraannya, dan kita tidak akan pernah sampai pada tujuan.

Keilmuan dan pergerakan adalah satu kesatuan yang tidak bisa di pisahkan. Jadi,  seorang berilmu harus mengamalkan ilmunya. Seharusnya kita tidak hanya tau mengkonsep,  tetapi bagaimana menerapkan apa yang telah dikosep. Agar apa yang kita inginkan menjadi sebuah kenyataan, dan tidak hanya menjadi keinginan semata yang tidak terwujudkan. Sedangkan tindakan (gerakan)  harus didasari dengan ilmu. Karena ilmu adalah petunjuk arah bagi kita agar bisa samean pada tujuan. Sehingga tindakan kita bisa sejalan dengan konsep yang telah kita tentukan sebelumnya.

 

[1] M. Suhil Merupakan Salah satu Anggota PMII Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dari korp MAHABBAH (2016) Jurusan Tadris Bahasa Inggris

2 tanggapan untuk “SATU KESATUAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: